BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Inikah Bentuk Kecanggihan Metode Penelitian Kang Jalal?: Mengenal Buku Misteri Wasiat Nabi [by HERNOWO]

image

Charles Sanders Peirce (CSP), pendiri filsafat pragmatisme Amerika (yang ia sebut pragmatisisme) adalah juga ahli logika, bahasa, komunikasi, dan semiotik. Ia menulis berbagai topik sejak matematika dan logika hingga psikologi, antropologi, sejarah, dan ekonomi. Dalam logika, penemuan utamanya adalah metode abduktif, yang sekarang diterapkan dalam berbagai ilmu alamiah dan artificial intelligence. 

Saya menemukan nama CSP, sang penemu metode abduktif, di halaman 38 buku Misteri Wasiat Nabi. Kata-kata yang mengawali tulisan ini muncul di catatan kaki nomor 32. Terus terang tak mudah saya memahami metode abduktif (dalam penelitian historis) yang dipakai Kang Jalal untuk menyusun disertasinya.

Di samping metode abduktif, saya juga menemukan di halaman 8 Kang Jalal menggunakan sebuah prinsip dalam mengutip yang disebut akhadztu ma rawa wa taraktu ma ra’a (saya menerima data sejarahnya tapi saya bisa berbeda pendapat dalam analisisnya) serta di halaman 30-38 terdapat pembahasan tentang kritik terhadap metode al-jarh wa al-ta’dil. 

Tak berhenti dengan prinsip dan metode abduktif serta metode al-jarh wa al-ta’dil, Kang Jalal masih bercerita tentang adanya empat pendekatan historiografi Islam. Keempat pendekatan itu adalah (1) descriptive approach (menerima gambaran tradisional tentang masa awal Islam seperti yang dipresentasikan oleh sumber-sumber Muslim), (2) source critical approach (pendekatan ini dimunculkan dengan maksud untuk meluruskan pendekatan pertama di mana absurditas logis dan kontradiksi-kontradiksi dijelaskan dengan menghimpun semua sumber dan membandingkannya secara kritis), (3) tradition-critical approach (menengok hadis tetapi dengan pandangan yang sangat kritis), dan (4) skeptical approach (menolak semua sumber sejarah dan mencarinya di tempat lain). 

Setelah becerita tentang keempat pendekatan historiografi Islam, Kang Jalal menunjukkan pendekatan yang dipilihnya: “Dalam penelitian ini, saya mengambil tradition-critical approach dengan sedikit sentuhan skeptical approach.” Seperti kita ketahui judul disertasi Kang Jalal adalah Asal-Usul Sunnah Sahabat: Studi Historiografis atas Tarikh Tasyri’.

Ketika membaca “Daftar Pustaka”, saya menemukan banyak sekali buku yang membahas tentang sejarah (atau metode penelitian sejarah). Di bawah subjudul “Metode Abduktif dalam Penelitian Historis” sendiri misalnya, ada buku karya Murray G. Murphey, Truth and History (2009). Saya menduga, Murray inilah yang mengantarkan Kang Jalal untuk berjumpa dengan CSP. Murray juga menulis buku The Development of Peirce's Philosophy (1993). 

Sekali lagi, tak berhenti pada CSP, Kang Jalal juga mencantumkan buku-buku yang membahas tentang pemikiran Michel Foucault dan karya Michel Foucault sendiri di “Daftar Pustaka”. Siapa Foucault? Dari Wikipedia, saya menemukan ini: Paul-Michel Foucault (lahir di Poitiers, 15 Oktober 1926 dan meninggal di Paris, 25 Juni 1984) adalah seorang filsuf Perancis, sejarawan ide, penggagas teori sosial, ahli bahasa, dan kritikus sastra. Teori-teorinya membahas hubungan antara kekuasaan dan pengetahuan, dan bagaimana mereka digunakan untuk membentuk kontrol sosial melalui lembaga-lembaga kemasyarakatan, terutama penjara dan rumah sakit. Meskipun sering disebut sebagai pemikir post-strukturalis dan posmodernis, Foucault menolak label-label ini dan lebih memilih untuk menyajikan pemikirannya sebagai sejarah kritis modernitas. Pemikirannya sangat berpengaruh di kedua kelompok--baik akademisi maupun aktivis. 

Lantas, apa yang ditemukan Kang Jalal lewat penyusunan disertasinya? “Secara singkat, peneliti historiografis bergerak dari pengamatan (sejumlah data awal). Ia berusaha menjelaskan pengamatannya untuk mengasumsikan kemungkinan sebab dari efek yang diamati. Ia mengumpulkan bukti-bukti dan menyesuaikan awal dengan peristiwa yang terjadi berikutnya. Dengan hipotesis itu, ia menyeleksi mana yang disebut fakta dan di mana fakta itu bisa ditemukan. Fakta itu nanti dijadikan bukti untuk menyusun ‘teori’ (beserta ‘teori-teori’ alternatif). Pada akhirnya, teori-teori itu diuji dengan data-data yang ditemukan dalam penelitian,” tulis Kang Jalal dalam mengakhir Bab II Metodologi. 

 

Alhamdulillah.[]


Fri, 5 Jun 2015 @20:23

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved