AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Buku yang Gurih sekaligus Bergizi?: Mengenal Buku Misteri Wasiat Nabi [by HERNOWO]

image

Dalam studi ini sudah terbukti ada tahrif (pemotongan atau penambahan) dalam teks-teks hadis dan sejarah. Studi tentang tahrif dalam kitab-kitab hadis bisa dimulai dari kitab-kitab hadis yang dipandang paling otentik—seperti Al-Bukhari, Muslim hingga ke kitab-kitab hadis di luar Kutub al-Sittah seperti Musnad Ahmad, Sunan al-Darimi, Al-Thabrani, dan Al-Hakim.

Itulah salah satu rekomendasi Kang Jalal untuk para peneliti yang ingin melanjutkan penelitiannya yang telah membuahkan disertasi berjudul Asal-Usul Sunnah Sahabat. Dalam daftar rekomendasi Kang Jalal, ada sebelas rekomendasi lagi yang ditujukan untuk para peneliti di bidang studi-studi Islam. Dua di antara rekomendasi yang, menurut saya menarik, adalah terkait dengan (1) penggunaan abductive methods untuk menguji peristiwa-peristiwa sejarah yang kontroversial (misalnya permusyawaratan di Saqifah Bani Sa’idah, perang Riddah, jatuhnya kekuasaan Islam baik di Baghdad maupun Andalusia) dan (2) pembentukan isnad dalam hadis-hadis mauquf yang di-marfu’-kan. 

Di samping rekomendasi, Kang Jalal juga mendaftar lima kesimpulan. Dua di antara kesimpulan tersebut menyingggung misteri wasiat Nabi Saw: (1) terkait dengan pandangan tentang ada tidaknya wasiat telah memisahkan bukan saja kelompok sahabat Nabi, tetapi juga umat Islam pasca wafatnya Nabi, dan (2) disertasi Kang Jalal membuktikan bahwa wasiat itu ada—pembuktian itu disandarkan atas bukan hanya dengan penelitian terhadap pespektif Al-Quran (berkaitan dengan pewarisan kepemimpinan kepada keluarga), tetapi juga dengan kajian hadis, filologis, dan peristiwa-peristiwa bersejarah tentang upaya hegemoni kekuasaan untuk menghilangkan wacana tentang wasiat.

Setelah saya membaca buku ringkasan disertasi Kang Jalal ini, apa yang saya dapat? Pertama, sebagai seorang penikmat buku, saya teringat kata-kata S.I. Hayakawa yang sering saya kutip dalam tulisan-tulisan saya tentang manfaat bagi orang yang memiliki kemampuan dan (tentu saja) kemauan untuk membaca buku. Kata Hayakawa, “Dalam makna yang sungguh-sungguh, sebenarnya orang yang membaca kepustakaan yang baik telah hidup lebih daripada orang-orang yang tak mau dan tak mampu membaca… Adalah tak benar bahwa kita hanya punya satu kehidupan yang kita jalani. Jika kita mampu membaca, kita dapat menjalani berapa pun banyak dan jenis kehidupan seperti yang kita inginkan.”

Buku Misteri Wasiat Nabi telah membawa saya ke masa yang sangat jauh dan sangat panjang—terentang belasan abad dari kehidupan saya saat ini. Mungkin sudah ada ratusan ribu buku—atau mungkin bahkan jutaan buku—yang merekam sejarah yang sangat jauh dan sangat panjang itu. Saya beruntung—ini keberuntungan pertama saya—dapat membaca (memahami) sejarah Islam (tentu tidak semuanya) yang sangat jauh dan sangat panjang itu dalam buku yang hanya terdiri atas 136 halaman. Lewat sejarah Islam yang mungkin tidak terlalu luas namun penting ini, saya mencoba membangun-kembali fondasi keberagamaan saya. Ya—merujuk ke James G. Croosley dan Christian Karner—writing (reading he he he..) history is constructing religion.

Kedua, bahasa buku Misteri Wasiat Nabi sungguh gurih dan bergizi tinggi. Biasanya, gurih dan bergizi tinggi itu mustahil terkandung dalam satu jenis makanan. Makanan yang bergizi tinggi kadang-kadang rasanya tidak enak dan makanan yang enak kadang-kadang tidak bergizi alias tidak menyehatkan tubuh. Namun, buku Misteri Wasiat Nabi—saya memang mempersepsi buku sebagai “makanan”, hanya ia merupakan “makanan ruhani”—benar-benar mengandung dua unsur itu: gurih dan bergizi tinggi.

Rasa gurih saya termukan dalam berbagai terjemahan hadis yang dikutip Kang Jalal dengan begitu fasih,  enak dibaca, dan mudah dicerna. Ketika membaca buku-buku Islam yang lain, kadang-kadang terjemahan—khususnya buku yang membahas hadis Nabi Saw.—tak jarang membingungkan dan, maaf, tidak mudah saya maknai. Dalam buku Kang Jalal, hadis-hadis—yang mengandung muatan yang pada dasarnya rumit dan sulit ditangkap maknanya—begitu jernih dialihbahasakan (disampaikan) dan begitu mudah diikuti oleh nalar saya yang awam. Itu masih ditambah dengan gaya bertutur (bercerita) atau “mengalir” yang khas Kang Jalal.

Buku Kang Jalal saya sebut bergizi khususnya terkait dengan tujuan puncak membaca: reading comprehension. Membaca akan terasa sia-sia apabila usai membaca kita tidak mampu memahami apa yang kita baca. Apalagi jika pikiran kita kemudian dibuat gelap alias tidak tercerahkan. Ini dapat dibuktikan dengan cara kita menyampaikan kembali hasil pembacaan kita. Apabila kita gagap atau bahkan kesulitan dalam menyampaikan kembali apa yang kita peroleh dari membaca, itu berarti kemungkinan besar kita belum memahami buku yang kita baca.

Ada kalanya juga ketika kita membaca sebuah buku kita malah “disiksa” oleh bahasa tulis buku tersebut—ujung-ujungnya, selama membaca, kita merasa kesal dan frustrasi. Bagi saya, membaca menjadi sangat menyenangkan apabila kegiatan penting tersebut kemudian mampu mengantarkan saya ke ranah pencerahan (pemahaman yang meyakinkan).

Misteri Wasiat Nabi merupakan ringkasan disertasi. Kita tahu bahwa disertasi adalah sebuah karya ilmiah yang memiliki bahasa yang kering (bahasa tulisnya membosankan dan kaku). Saya beruntung—ini keberuntungan kedua saya—dapat menikmati disertasi yang telah diolah dan disajikan secara mudah-dibaca. Memang, dalam Misteri Wasiat Nabi masih terdapat catatan kaki yang panjang dan rujukan-rujukan buku yang melelahkan mata. Namun, sekali lagi, karena bahasa tulis yang digunakan Kang Jalal begitu “mengalir”, enak dikunyah, dan tertata, serta tidak kaku dan tidak kering, saya pun seakan-akan berhadapan dengan buku fiksi yang tidak ilmiah. 

Cerita, kisah, atau dongeng secara ilmiah disebut narrative. Manusia adalah makhluk yang suka bercerita dan membangun hidupnya berdasarkan cerita yang dipercayainya. Kita cenderung menerima cerita dan menyampaikannya dalam bentuk cerita pula. Tanpa cerita, hidup kita akan carut-marut. Dengan cerita, kita mampu menyusun dan menghimpun pernak-pernik kehidupan yang berserakan. Narrative, seperti pernah diucapkan oleh Dilthey (seorang filsuf Jerman), adalah pengorganisasian hidup (Zusammenhang des Lebens)—ini kata-kata Kang Jalal yang saya kutip dari Jalaluddin Rakhmat, “Kata Pengantar” untuk buku Karen Armstrong, Muhammad: Prophet for Our Time, Mizan, 2007). 

 

Terima kasih Kang Jalal. Alhamdulillah.[]


Thu, 14 Jul 2016 @13:55

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved