AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Dari Diskusi Buku: Perjalanan Pulang (tanpa) Kembali

image

Hari Minggu (14 Juni 2015) di Aula Muthahhari Bandung digelar diskusi buku Perjalanan Pulang (tanpa) Kembali. Buku ini ditulis oleh Miftah Fauzi Rakhmat, putra KH Jalaluddin Rakhmat.

Saya hadir dan menyaksikan kegiatannya. Acara yang dihadiri oleh komunitas WA The Prophetic Wisdom ini diawali dengan pembacaan al-fathihah, shalawat, dan doa. Kemudian Ustadz Miftah selaku penulis memandu acara dengan meminta Kang Jalal dan Hernowo.

Ustadz Miftah menyampaikan isi dari buku yang ditulisnya. Yang saya tangkap dari uraian Ustadz Miftah bahwa persiapan untuk kembali pada akhirat melalui kematian harus dilakukan dengan lebih baik ketimbang urusan lainnya.

Di tengah pembicaraan, Taufan dari penerbit Marja datang kemudian diminta duduk di depan.

Ustadz Miftah melanjutkan bahwa malaikat munkar nakir bukan “petugas” introgasi, tetapi “petugas” imigrasi yang mengatur perjalanan seseorang untuk menempuh perjalanan selanjutnya dengan “jasad” baru melanjutkan perjalanan menuju Allah.

Kang Jalal yang menjadi pembicara kedua mengisahkan masa remaja putranya di Iran. Selesai SMP, Kang Jalal mengantar putranya ke Iran untuk belajar. Beberapa tahun kemudian Kang Jalal ke Iran untuk melihat putranya.

“Saya lihat di tempat Miftah ada buku-buku filsafat karya Plato dan Aristoteles dalam bahasa Parsi. Saya kira itu hanya pajangan. Tetapi, ketika saya membaca buku ini, Miftah itu filsuf. Pastinya sudah membaca karya-karya para filsuf karena dalam buku ini diuraikan filsafat untuk memahami kematian dan salah satu tema filsafat adalah tentang kematian,” ungkap Kang Jalal.

Tidak hanya memuji karya putranya, Kang Jalal juga menguraikan filsafat eksistensialisme Martin Heidegger. Dari paparan Kang Jalal, saya merasa bisa memahami uraian tentang ada, mengada, dan kegelisahan yang menjadi materi filsafat dari Heidegger. Padahal, eksistensialisme Heidegger cukup pelik untuk dipahami kalau tidak membaca karya filsafat sebelumnya.

Sambil menyimak uraian Kang Jalal, saya menuliskan beberapa “kalimat-kalimat” penting dari uraian Kang Jalal yang layak untuk direnungkan:

Hidup otentik, hidup yang ditentukan oleh diri sendiri. Kita bisa hidup otentik kalau kita sadar dengan waktu, sebagai batas yang menentukan. Batas itu bernama kematian. Tidak ada keyakinan yang diragukan (manusia) selain kematian.  

Di akhir pembicaraan, Kang Jalal mengatakan bahwa buku karya Ustadz Miftah merupakan pengantar untuk memahami filsafat eksitensialisme Martin Heidegger.

“Seseorang yang ingin masuk pada khazanah ilmu yang lebih mendalam, perlu masuk pada pengatar dahulu. Karena itu, bacalah buku ini,” kata Kang Jalal mempromosikan buku.

Setelah Kang Jalal, giliran Hernowo dan Taufan bicara. Hernowo selaku pakar buku mengatakan, “Buku ini bergizi seperti makanan. Ustadz Miftah menulis dengan melibatkan diri dalam catatan-catatannya. Buku ini mampu memberikan gambaran-gambaran yang meyakinkan tentang kematian.”

Taufan selaku penerbit bicara, “Buku ini mengajak pembaca agar tidak berhenti membaca. Pembaca bisa jeda di mana pun dan bagaimana saja. Saya dalam mengerjakan buku ini merasakan kemudahan, ada keramat-keramat.”

Selesai narasumber bicara diadakan tanya jawab. Menariknya, seluruh pertanyaan dijawab oleh Kang Jalal dan Ustadz Miftah. Kedua pembicara lainnya menyerahkan jawaban kepada Kang Jalal.

Terima kasih untuk TPW yang sudah undang diskusi. Acaranya telah mengingatkan saya dengan perkuliahan filsafat bersama seorang dosen di kampus. Semoga Allah memberi keberkahan kepada para guru yang pernah mengajari saya tentang filsafat.

[Ikhwan Mustafa, kontributor Misykat]  

BUKU: PERJALANAN PULANG TANPA KEMBALI 

 

 

Tue, 16 Jun 2015 @09:06

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved