MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Buku Misteri Wasiat Nabi, Jangan Dibaca oleh Orang yang Baru Belajar Agama

image

Sabtu pagi saya dapat SMS kegiatan di Muthahhari Bandung. Isinya informasi Diskusi Buku: Misteri Wasiat Nabi yang ditulis oleh Dr.KH. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc,  tanggal 4 Juli 2015 sore di Aula Muthahhari Bandung.

Saya datang tepat ketika kegiatan baru dimulai dengan pembukaan oleh Ketua PP IJABI (Pengurus Pusat Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia) Syamsuddin Baharuddin.

Depan peserta tampak Kang Jalal (Jalaluddin Rakhmat), Dr. Ali Masrur, Prof Rosihon Anwar dari UIN SGD Bandung, dan Dr. H. Muhammad Babul Ulum, M.Ag, yang berposisi sebagai pembaca makalah Prof. Dr. H. Mohamad Anton Athoillah, M.M.

Sore itu ruang Aula Muthahhari tampak padat. Mungkin terasa sesak, seorang panitia meminta jamaah untuk bergeser ke depan mendekat pada meja pembicara. Tapi tetap saja masih ada yang berdatangan dan berdesakan di belakang dekat pintu.

Mungkin karena waktu yang sempit, seorang moderator langsung meminta Prof Rosihon untuk menjadi pembicara yang perdana. Dalam uraiannya, Rosihon menyatakan secara akademik buku Misteri Wasiat Nabi sudah disahkan sebagai karya ilmiah karena sudah melewati proses ujian yang sulit. Para pakar yang menguji desertasi Kang Jalal bukan orang sembarangan dan setiap tahapan ujian doktoral cukup sulit untuk dilewati. Karena itu, karya ilmiah berupa desertasi yang sudah lulus layak diapresiasi.

Menurut Rosihon, ringkasan desertasi Kang Jalal yang menjadi buku Misteri Wasiat Nabi bertumpu pada persoalan epistemologi hadis. Bukan hanya dalam Syiah, dalam Sunni pun terdapat masalah sehingga memerlukan metode baru untuk menggantikan metode penelitian hadis yang sudah lama.

“Wacana Sunni dan Syiah atau persoalan khilafiah sudah selesai dan tidak perlu dimuncul-munculkan. Sekarang ini yang terpenting mencari epistemologi bersama untuk melakukan taqrib antara Sunni dan Syiah,” kata Rosihon.

Yang disampaikan oleh Rosihon dipertegas Direktur Iran Corner UIN Bandung, Dr Ali Masrur. Ali mengaku sekira lima belas tahun mempelajari hadis dan orientalis. Menurutnya, buku Kang Jalal sebagai karya ilmiah yang berbasiskan kajian kontemporer yang banyak dilakukan di universitas Barat. Karena itu, Ali berpesan agar dibaca oleh orang-orang yang sudah memiliki pengetahuan yang mendalam dalam studi Islam.

“Buku ini (Misteri Wasiat Nabi) jangan dibaca oleh orang yang baru belajar agama,” ujar Ali mengulang sampai dua kali.

Ali juga mempertanyakan tentang jarh wa ta’dil yang dikritik oleh Kang Jalal dalam bukunya. “Jika memang sudah diketahui kelemahan dan tidak bisa dipakai, lantas mau pakai apa?”

Hal lain yang diapresiasi oleh Ali berkaitan dengan pemisahan Sunnah Nabi dan Sunnah Sahabat. Menurutnya, kajian Sunnah Sahabat dimunculkan oleh Imam Syafii menjadi satu dasar hukum dalam ibadah umat Islam.   

“Sunnah Sahabat mempertegas tentang tarawih yang 23 rakaat dan ini bagian dari tarikh tasyri,’” tambahnya.

Ali Masrur yang juga seorang Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Barat menyatakan sekarang ini sudah banyak kritis tentang hadis dan sahabat seperti Fuad Jabali, Muhammad Tijani kemudian Kang Jalal.

“Di Malaysia ada disertasi yang menyatakan sahih hadis-hadis shalat tasbih, yang dahulu  dibilang dhoif. Ini menunjukan adanya perkembangan dalam ilmu,” ujar Ali.

Kang Jalal selaku pembbicara ketiga menanggapi dua pembicara sebelumnya. Kang Jalal mengakui bahwa kajian ilmiah tidak lepas dari subjektif, termasuk jarh wa ta’dil, sehingga memerlukan epistemologi baru. Karena itu, dalam disertasi Kang Jalal tidak menggunakan jarh wa ta’dil melainkan menggunakan metode historiografi yang berdasarkan teori abduktif. Teori ini berpijak pada hipotesa kemudian dicari pembuktiannya sehingga kemudian melahirkan teori. Singkatnya, teori ini berangkat dari sebuah persoalan dan dicari bahannya dari berbagai sumber untuk penelitian serta dikumpulkan informasi yang terkait. Kemudian dicari yang konsisten, dikritik secara aliran politik maupun aspek historis kemudian ditarik simpulan.

Kemudian mengenai Sunnah Sahabat, Kang Jalal membagi pada tiga. Pertama, sunnah sahabat yang sejalan dengan sunnah Nabi seperti tadwin al-Quran. Kedua, sunnah sahabat yang menggantikan sunnah Nabi seperti shalawat tarawih. Ketiga, sunnah sahabat yang bertentangan dengan sunah Nabi seperti larangan haji tamatu dan menyusui seorang laki-laki agar menjadi mahram.

“Bukan Imam Syafii saja yang bicara sunnah sahabat, Imam Malik, Hanafi, dan lainnya menyatakan ada sunnah sahabat,” tambahnya.

Lebih jauh Kang Jalal menceritakan tentang bagaimana orang-orang Syiah yang riwayatnya banyak ditolak dalam hadis-hadis yang dikumpulkan ulama Sunni. Tetapi, ternyata dalam Bukhari ditemukan pula sekira 100 orang Syiah yang riwayatnya diterima sebagai hadis.

“Mungkin itu menyusup dan Bukhari tidak mengetahuinya,” kata Kang Jalal. Bahkan, dalam penelitian untuk desertasinya ditemukan ada hadis-hadis yang buat-buat atas permintaan penguasa dan terdapat rawi-rawi yang diciptakan.

Setelah Kang Jalal, pembicara terakhir adalah Dr Muhammad Babul Ulum yang membacakan makalah Prof Mohammad Anton Athoillah. Kalau tidak salah dengar, simpulan dari makalahnya bahwa rujukan Kitabullah wa Sunnah perlu dilengkapi dengan rujukan Kitabullah wa Itrah Ahlulbait. Sayang sekali makalah yang dibagikan atas nama Prof Anton kurang banyak sehingga ada yang tidak kebagian.

Acara diakhiri dengan doa Milad IJABI yang ke-15. Kemudian buka puasa bersama dan dilanjutkan shalat maghrib berjamaah. Terima kasih yang sudah memberikan informasi kajian buku. Selamat buat IJABI, semoga tetap istiqamah dalam mendahulukan akhlak di atas fikih.

[Ikhwan Mustafa, kontributor Misykat]

 

Sun, 5 Jul 2015 @09:49

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved