Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Syiah, Syariah

image

Seorang pemilik hotel di Bandung menelepon saya, mengabarkan isu yang disebarkan agar orang tak menginap di hotelnya. Konon, itu hotel Syiah. Hanya karena pernah ada kegiatan membaca Yasin dan Doa Kumail di hotel itu, tiga tahun yang lalu. Doa Kumail memang kerap dibaca orang Syiah, tapi isi di dalamnya, sejak awal sampai akhir tak ada yang (khas) Syiahnya sama sekali. Isinya universal, indah, dan menyentuh hati siapa pun yang memerlukan menyusun kata untuk bermunajat dengan Sang Pencipta.

“Saya tidak tahu kenapa orang alergi dengan Syiah,” ujarnya, dalam sebuah percakapan telepon yang cukup panjang, “memangnya, apa yang sudah dilakukan mereka? Adakah orang 
Syiah merampas hak? Adakah orang Syiah menyakiti keluarga mereka? Mengapa begitu gencar memfitnah dan menyebarkan kebencian.” Ia tak habis pikir. Ketika saya kisahkan pada seorang sahabat, ia menjawab singkat, “Itu karena orang Syiah ada di mana-mana.”

Apa maksudnya? Betul bahwa Iran yang berpenduduk mayoritas Syiah menjadi suara penentang hegemoni terbesar di dunia. Benar bahwa kelompok-kelompok Syiah berjuang keras memelihara persatuan dan persaudaraan. Tapi, apa maksudnya ada di mana-mana? Kawan itu tersenyum, ia berkata, “Bukankah semua orang di mana-mana ingin menerapkan Syariah. Ada perda bernuansa Syariah. Ada hotel Syariah, bank Syariah, dan sebagainya.” Saya tertawa.

Ini humor khas Sunda. Dalam bahasa Sunda, mengubah sesuatu menjadi jamak, jadi banyak, antara lain menggunakan sisipan ‘ar’ di antara huruf kata itu. Misalnya, budak kalau satu. Kalau banyak, barudak. Tuang, kalau satu. Kalau banyak, taruang. Angkat, kalau satu. Kalau banyak, arangkat. Syiah, kalau satu. Kalau banyak…? Syariah!

Itu bukan dalil, itu utak-atik huruf saja untuk menikmati anugerah Tuhan yang luas itu. Dalam penggunaan Inggris, Syiah ditulis SHIA. Kawan saya yang baru mendarat di Cengkareng, menulis kebahagiaannya disambut di Bandara SHIA, Soekarno Hatta International Airport. Orang Makassar tak mau kalah. Mereka SHIA juga, Sultan Hasanuddin International Airport. Ternyata, Bandung juga: Sastranegara Husein International Airport. Rupanya memang orang SHIA di mana-mana…

Tapi penyebab orang alergi sederhana, karena mereka tidak mau berbagi. Rahmat Tuhan yang luas itu mau dikuasai sendiri saja. Dalam surah al-Isrâ’ ayat 100, Allah Ta’ala berfirman, Katakanlah, “Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya. Dan adalah manusia itu sangat kikir.”

[cuplikan dari buku karya Miftah Fauzi Rakhmat, Perjalanan Pulang (tanpa) Kembali. Diterbitkan Marja tahun 2015]

Wed, 8 Jul 2015 @14:32

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved