Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Nikah Mutah, Al-Quran yang Berbeda, dan Amerika

image

Suatu hari dalam facebook ada yang tanya tentang isu-isu Syiah. Di antara persoalan yang ditanyakan yang itu-itu saja. Saya katakan cukup baca buku saja langsung akan terang isu tersebut. Akan terjawab jika membaca buku "Bertanyalah kepada Ahlinya" karya Dr Muhammad Tijani Samawi dan membaca "Buku Putih Mazhab Syiah" yang diterbitkan ormas Ahlulbait Indonesia (ABI) serta disarankan juga membaca karya Murtadha Askari dengan judul buku "Maalim Madrsatayn". Hampir semua isu tentang Syiah terjawab jika membaca buku-buku yang saya sebutkan itu. Hanya saja dalam media ini, yang perlu saya ungkap kembali tentang nikah mut'ah, Iran bagian dari Amerika, dan Al-Quran yang berbeda. Tiga isu tersebut yang kian santer menyebar di masyarakat. Insya Allah, saya kupas dengan pengetahuan yang seadanya. 

Nikah Mut'ah

Yang menjadi sorotan dari kaum Sunni terhadap Muslimin Syiah adalah nikah mut'ah. Tentang nikah mut'ah ini bisa dibaca dalam Buku Putih Mazhab Syiah yang diterbitkan Ahlulbait Indonesia (ABI). Nikah mut'ah yang terdapat dalam mazhab Syiah berbeda dengan yang disebarkan oleh oknum yang mengaku Sunni.  

Nikah mutah berbeda dengan nikah daim (biasa) adalah dari perjanjian masa pernikahan dan masa iddah. Dalam rukun nikah mutah, juga tidak berbeda dengan nikah daim (biasa) yang berlaku di Indonesia. Ketentuan wanita yang dinikahi secara mutah: tidak boleh dengan pelacur, harus ada izin dari wali kalau seorang gadis, dan untuk seorang janda (ada yang mengatakan) boleh tanpa wali. Kemudian mahar, saksi, dan ketentuan dalam pernikahan harus terpenuhi dengan baik dan benar. Itulah yang saya pahami dari Buku Putih Mazhab Syiah. Di Iran sendiri, mungkin juga di negeri kaum Syiah lainnya, tidak mudah untuk melakukan nikah mut'ah. 

Dalam pertemuan dengan para guru sekolah yang di bawah naungan Yayasan Muthahhari, Kang Jalal pernah cerita tentang orang Indonesia yang ke Iran dan bertanya tempat untuk nikah mut'ah. Di Teheren, orang tersebut disuruh ke Qum. Dari Qum suruh mencari ke Mashad. Dari Mashad disuruh ke Teheran lagi. Di antara yang ditanya tidak mengetahui tempat atau orang yang memberitahu praktek nikah mut'ah. Karena itu, nikah mut'ah di tempat kaum Syiah sendiri tidak jelas. 

Memang secara dalil (nash) tercantum dalam surah Annisa ayat 24 dan pernah dipraktekan oleh sahabat-sahabat Rasulullah saw. Bagaimana prakteknya, saya belum menelusurinya. Saya juga belum dapat keterangan yang valid: apakah nikah mut'ah dilakukan oleh Rasulullah saw dan para Imam Syiah?  Setahu saya Rasulullah saw dan para Imam Syiah hanya mempraktekan nikah poligami.

Di Indonesia, di Puncak, Jawa Barat, penelusuran sebuah media cetak bahwa yang banyak melakukan praktek nikah kontrak adalah orang-orang yang berwajah Arab. Di sana ada orang yang khusus menyediakan perempuan untuk dinikahi dengan jangka waktu ditentukan oleh lelaki. Si lelaki itu yang menentukan selesai tidaknya hubungan dengan perempuan tersebut. Bahkan, harga mahar ditentukan oleh orang yang menjadi "induk" dari perempuan. Praktek ini disebut nikah misyar, yaitu pernikahan untuk dicerai kemudian.

Iran bukan Amerika

Isu lainnya yang disebarkan bahwa orang-orang Syiah Iran bersekutu dengan Amerika. Kemudian diebarkan bahwa Muslimin Syiah di Indonesia keberadaannya sebagai agen zionis Israel dan Amerika. Tuduhan ini tidak pernah terbukti.  

Kalau dilihat dari fakta, justru yang menentang Amerika dan Israel adalah orang-orang Syiah dari Lebanon, Iran, dan Irak. Sangat tidak mungkin kalau agen menentang komando dari yang dijadikan sandaran dalam kegiatannya. Dibandingkan negeri-negeri Arab yang mayoritas mazhab Sunni, justru negeri-negeri yang dihuni Muslim Syiah yang berani melawan Israel dan Amerika. Negeri-negeri Arab malah mendukung Israel atau Amerika dengan membiarkan warga Palestina diusir dari negerinya. Sekarang terlihat justri Arab Saudi bersukutu dengan Amerika dan Israel memerangi Yaman dengan isu melawan Syiah. Jelas bahwa yang menjadi antek Amerika dan Yahudi adalah Arab Saudi, bukan Iran yang selama ini difitnah.

Saya pernah membaca buku Pelangi Di Persia karya Dina Y. Sulaeman. Dalam buku ini disebutkan kaum Muslim Sunni Iran tinggal di Provinsi Shiraz dan Sanandaj. Mereka mayoritas di sana dan punya masjid-masjid yang besar. Pada dua provinsi ini sering terjadi Muslim Sunni melakukan pernikahan dengan Muslimah Syiah. Begitu juga Muslim Syiah menikahi Muslimah Sunni. Bisa terjadi pernikahan karena Sunni dan Syiah masih tergolong Islam sehingga tidak menjadi masalah dalam urusan berkeluarga. Kaum Sunni di Iran dapat hidup layak dan terjadi pembauran dengan kaum Muslim Syiah yang mayoritas. 

Syiah Punya Al-Quran

Benarkah Syiah punya Quran sendiri dan berbeda dengan yang dipegan kaum Sunni di Indonesia? Ini bagian dari isu oknum anti Syiah. Pernyataan adanya Al-Quran yang berbeda di kalangan Muslimin Syiah, hanya fitnah dan taktik untuk menyesatkan Syiah. Sampai sekarang, Al-Quran yang ada di Iran, Irak, dan Arab Saudi sama. Al-Quran yang dimiliki kaum Syiah berbeda dari desain dan corak serta warna dalam cetakannya.

Saya punya kitab Tafsir Al-Mizan karya Allamah Muhammad Husain Thabathabai, seorang ulama Syiah abad duapuluh Masehi. Thabathabai dalam kitab tersebut menafsirkan Al-Quran Mushaf Utsmani yang tiga puluh juz; yang beredar di negeri umat Islam yang dicetak Depag RI dan dibaca umat Islam Indonesia. Ini juga diakui oleh Ustadz Nabhan Husen dari Dewan Dakwah Islamiyah (DDI) Indonesia bahwa Al-Quran yang digunakan kaum Muslim Syiah sama dengan Al-Quran yang beredar dan digunakan umat Islam Indonesia. 

Isu menyebutkan Al-Quran Syiah itu bernama Mushaf Fathimah atau Mushaf Imam. Lalu, saya cari tahu. Setelah saya baca buku tentang Syiah dan Ulumul Quran bahwa yang disebut mushaf Fatimah atau Imam yang dituduhkan sebagai kitab suci Syiah ternyata bukan Al-Quran, tetapi kumpulan hadis yang diterima Fathimah Azzahra dari ayahnya (Rasulullah saw).

Silakan mendengarkan tilawah murotal Thabathabai (doktor cilik dari Iran yang hafidz Al-Quran) bahwa ayat Al-Quran yang dibacanya persis sama dengan al-Quran yang digunakan umat Islam Indonesia. 

Beberapa waktu yang lalu di Aula Muthahhari, kedatangan tamu dari Iran. Namanya Dr Ahmad Shahrokhti. Pendidikan S3 dalam bidang ilmu Al-Quran dan Hukum Islam. Saat menjelang buku puasa, sekira satu jam setengah mengisi pengajian di Muthahhari. Shahrokhti diawal pengajian diminta untuk melantunkan Al-Quran. Ternyata yang dilantunkan surah Ali Imran ayat 190-194.

Kawan saya yang berada di samping saya membuka Al-Quran dalam HP. Kemudian dicocokan. Lalu, bilang kepada saya: sama dan fasih bacaannya. Maklum Shahrokhti ini ahli Al-Quran sehingga dalam melantukan Al-Quran terasa indah dan nikmat di dengarnya.  

Dari pengalaman dan pembacaan buku tentang Syiah, saya punya simpulan bahwa tampaknya kabar yang tidak seimbang telah menyebar sehingga citra kaum Muslim Syiah menjadi buruk. Saya yakin ini bagian dari perilaku oknum yang tidak ingin umat Islam Indonesia bersatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mungkin ada kalangan radikal yang ingin memecah umat Islam. Termasuk gerakan anti Syiah yang terus merebak di Indonesia. Mungkinkah orang-orang yang anti Syiah itu bagian dari gerakan radikal? *** (Ahsa)


Sun, 26 Jul 2015 @09:43

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved