Rubrik
Terbaru
Kirim Artikel & Pertanyaan

ke email: abumisykat@gmail.com

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

RSS Feed
Minat beli buku klik covernya
image

Minat BUKU hubungi WA Misykat

AUDIO KAJIAN ISLAM

Instagram MisykatNet
image

.

Follow Twitter Misykat
image

Silahkan ikuti Twitter Misykat

YouTube Misykat TV
image

Subscribe Channel Misykat TV

TATA CARA SHALAT

PENGUNJUNG

Flag Counter

Saleh Lapadi: Film Muhammad Rasulullah Saw (1)

image

Luar Biasa ... Luar Biasa ... Luar Biasa

Sejak diumumkan akan ditayangkan secara serentak di bioskop-bioskop Tehran pada Rabu 26 Agustus, keinginan untuk menikmati film termahal Iran dan dibuat selama 7 tahun semakin membuncah. Apalagi informasinya, sutradara Majid Majidi dibantu para sineas kelas dunia untuk mewujudkan film ini.

Tiba-tiba diumumkan bahwa penayangan perdananya diundur sehari di hari Kamis (27/8). Alasannya mempersiapkan sound sistem semua bioskop yang ada di Tehran sesuai dengan kualitas film. Awalnya saya pikir terlalu mengada-ada (Ternyata tidak setelah menyaksikan langsung). Tapi akhirnya jadi ditayangkan pada hari Kamis.

Menyaksikan wawancara Moustapha Akkad, sutradara Suriah yang membuat film pertama tentang Nabi Muhammad Saw "The Message" mengomentari film Majid Majidi di televisi Iran juga menarik. Menurutnya, apa yang dilakukannya dulu sebagai langkah awal dan harus ada yang berani membuat film tentang Nabi Muhammad Saw yang lebih baik lagi. (Setelah menyaksikan langsung film besutan Majid Majidi, ternyata Akkad benar. Iya harus ada yang lebih berani, bahkan dari Majid Majidi).

Hari penayangan pertama film ini berlalu dan komentar tentang film ini baik di televisi, koran dan situs-situs Iran memang luar biasa. Sekalipun belum membaca review atau kesan mereka yang menyaksikan secara subyektif usai menonton film ini, tapi kualitas Majid Majidi, dana besar untuk pembuatan film ini dan lamanya membuat saya percaya.

Para sineas Iran punya catatan mengkilap dalam membuat film-film kolosal bertemakan agama. Apalagi ini film tentang manusia sempurna yang menjadi panutan semua manusia di dunia.

Namun masih ada pertanyaan yang mengganjal. Film Muhammad Rasulullah Saw sejatinya akan dirilis dalam bentuk trilogi dan bagian pertama ini berbicara mengenai masa kecil dan remaja beliau. Tapi dalam setiap pernyataannya, Majid Majidi selalu menekankan film ini untuk menunjukkan sisi rahmat dari kepribadiannya dan mengenalkan Islam kepada Barat.

Saya lalu menduga-duga, "Tampaknya sisi kanak-kanak Nabi Muhammad Saw tidak akan mendapat porsi besar." Maksud saya adalah kita akan disuguhi hal-hal klise, dimana sosok kecil Nabi Muhammad Saw ditunjukkan dengan perilaku orang dewasa. Tapi pertanyaan itu saya simpan sampai menyaksikan langsung. (Saya merasa dugaan itu tidak sepenuhnya salah, dan itu lebih tampak setelah menyaksikan film ini).

Mendapatkan tiket untuk penayangan hari pertama film Muhammad Rasulullah Saw tampaknya mustahil. Di televisi juga diumumkan bahwa tiket untuk penayangan hari pertama telah ludes, bahkan untuk beberapa hari setelahnya. Namun harapan muncul ketika anak-anak mendapat jatah tiket dari organisasinya. Saya berharap ada tiket lebih sehingga kami berempat dapat menyaksikan langsung, tapi tiket mereka juga terbatas dan hanya untuk mereka. Kembali ada sedikit putus asa, apakah bisa menyaksikan film ini langsung di bioskop Iran atau tidak.

Ternyata harapan itu masih ada. Penjualan tiket secara online ternyata sangat membantu. Saya sendiri tidak melakukannya. Pemesanan tiket dilakukan oleh anak kedua dan langkah-langkahnya ternyata sangat sederhana. Setelah selesai mengikuti langkah-langkah yang ada, akhirnya dua tiket terbeli untuk jam 20.00. Kode pemesanan diberikan dan disebutkan agar 20 menit sebelum penayangan film pemesan sudah harus ada di lokasi.

Kami tiba di Mall Koroush agak terlambat. Sinema Koroush terletak di lantai 3. Ini pengalaman pertama membeli tiket online. Lalu apa yang harus dilakukan dengannya?

Ternyata ada petunjuk untuk menuju tempat untuk menukar kode pemesanan dengan tiket. Menarik. Kami harus antri untuk mendapatkan tiket. Tidak berapa lagi tiba giliran dan ternyata prosesnya juga sangat mudah. Cukup memasukkan kode dan enter. Tiket keluar dan kami langsung menuju gedung bioskop yang tertulis Lalehzar.

Ada yang aneh. Penonton langsung masuk. Di dalamnya ada petugas yang menunjuki nomor tempat duduk. Dia tidak meminta setiap orang yang masuk untuk menunjukkan tiket. Sepertinya tugasnya hanya membantu penonton menemukan kursinya. Artinya, bila ada yang nyelonong masuk tidak bakal ketahuan.

Saya tidak tahu apakah 14 bioskop yang berada di lantai 3, 4, 5 dan 6 dengan 2800 tempat duduk menerapkan hal yang sama. Tapi cara seperti itu membuat kami agak lebih nyaman.

Setiap ruang pertunjukan diberi nama. Sedikit membingungkan untuk menemukannya. Sekalipun di tiket tertulis lantai berapa dan nama ruangnya. Tapi tidak ada penunjuk besar yang bisa dirujuk.

Ternyata di depan ruang pertunjukan ada sedikit penjelasan mengapa diberi nama Lalehzar, misalnya. Kami akhirnya menemukan tempat duduk. Ada 10 baris tempat duduk. Kami mendapat tempat duduk di baris 7, nomor 4 dan 5. Film telah dimulai. Ini yang paling disayangkan. Namun belum terlalu lama.

Narator: Abu Thalib 
Film dibuka dalam kondisi Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya berada di Syi'b Abi Thalib. Tempat dimana mereka diblokade oleh Quraisy. Abu Thalib, paman Nabi Muhammad Saw bertemu dengan para pembesar Quraisy lainnya yang dipimpin oleh Abu Sufyan. Mereka mengancam tidak akan menunggu sampai mereka yang berada di Syi'b Abi Thalib, tapi akan menyerang dan membunuh mereka. Tapi Abu Thalib masih menjadi penghalang. Karena itu berarti memerangi Bani Hasyim.

Abu Thalib kembali ke Syi'b Abu Thalib dan di pertengahan jalan yang menanjak ia sejenak berhenti dan menatap bangunan paling tinggi yang ditempati Rasulullah Saw. Perlahan-lahan ingatannya kembali di awal-awal ketika Aminah, ibu Rasulullah Saw sedang hamil dan pasukan Abrahah hendak menyerang Mekah dan menghancurkan Ka'bah.

Film mengalir lewat penuturan Abu Thalib. Boleh dikata, film Muhammad Rasulullah Saw menurut versi Abu Thalib.

Menurut saya pemilihan sejarah Nabi Muhammad Saw dalam film ini lewat penuturan Abu Thalib adalah cara paling cerdas yang dilakukan Majid Majidi. Apa yang dilakukannya mengakhiri pembahasan berabad-abad tentang apakah Abu Thalib meninggal dalam kondisi memeluk Islam atau tidak.

Sampai saat ini, saya tidak menemukan ada yang mengritik film ini terkait keislaman Abu Thalib. Padahal sejak awal film hingga akhirnya, secara tidak langsung, berbicara mengenai keyakinan Abu Thalib terhadap keponakan yang menjadi Nabi-nya.

Menurut saya, film Muhammad Rasulullah Saw selain menggambarkan masa kecil Nabi Muhammad Saw, memberikan porsi besar kepada Abu Thalib untuk mendemonstrasikan keimanannya. Film ini tidak lagi sembunyi-sembunyi menggambarkan keimanannya. Hal yang tidak ditemukan dalam sejarah Islam klasik. Bravo buat Majid Majidi!


Lokasi
Lokasi pembuatan film Muhammad Rasulullah Saw terletak di dekat jalan tol Tehran-Qom. Namanya Shahrak Sinamai Nour. Kota ini terbagi dua; Mekah dan Madinah. Di lokasi ini dibangun dua model Ka'bah; kecil yang dibangun dari tumpukan batu-batu besar dan kain-kain yang digantung dengan tulisan sejak masa Jahiliah. Ka'bah sebelum kelahiran Nabi Muhammad Saw. Sementara yang satunya lagi besar, pasca kelahiran beliau.

Di lokasi ini dibangun 60 rumah, tapi hanya 7 rumah atau tempat yang diambil gambar hingga ke dalam bangunan. Lokasi ini dibangun selama 10 bulan. Kekuatan bangunan ini diprediksi bertahan hingga 15 tahun. Saat ini sudah ada beberapa sineas dari negara-negara Arab yang ingin menyewanya untuk pembuatan film.

Terlepas dari informasi ini, apa yang digambarkan oleh Majid Majidi dalam film ini luar biasa. Mekah yang gersang tampak indah. Tidak menakutkan bagi kita yang tidak terbiasa menyaksikan gurun pasir.

Pencahayaan
Wow, pertama kali menyaksikan Ka'bah kecil di masa Abdul Muthalib ketika Abrahah hendak menyerang Ka'bah. Cahaya yang ditembakkan ke arah Ka'bah membuat hati tergetar. Apa lagi ketika Abdul Muthalib menyaksikan burung-burung Ababil yang berputar mengelilingi Ka'bah sebelum menyerang tentara Abrahah.

Mengapa Ka'bah yang saya buat contoh. Hal ini kembali pada dialog Raja Abrahah dengan Abdul Muthalib. "Apa sih yang membuah manusia pergi menziarahi dan berkumpul mengelilingi Ka'bah?", tanya Raja Abrahah.  Abdul Muthalib menjawab, "Batu."

Nah, Ka'bah ini disorot khusus dengan pencahayaan luar biasa, dan jangan lupa musik!
Banyak lokasi yang ditampilkan dengan pencahayaan luar biasa. Majid Majidi benar-benar memanjakan mata penonton. Mekah yang gersang menjadi hidup. Apalagi ketika sampai ke Madinah yang waktu itu disebut Yatsrib!

Anda harus menyaksikan sendiri... Walau demikian, saya punya sedikit catatan kecil. Saat pertemuan para pembesar Quraisy di Dar an-Nadwah yang dipimpin oleh Abu Sufyan, saya melihat pencahayaan kurang halus. Ruangan yang gelap diterangi oleh beberapa lampu kecil di atas meja, tapi cahaya yang dipancarkan dari bawah meja terlalu terang. Ini saja yang membuat saya agak terganggu.

Suara dan Musik
Ini dia. Saya baru sadar mengapa penayangan serempak film ini dimundurkan sehari untuk menyesuaikan standar sound sistem. Suara dan musik film Muhammad Rasulullah sungguh sangat MEGAH. Dalam banyak adegan, musik film mampu menggetarkan dada dan tanpa terasa air mata menetes.

Sebegitu hebatnya? Iya. Saya harus katakan Majid Majidi berhasil menciptakan atmosfir musik yang luar biasa. Apalagi dengan petikan-petikan sitar mengajak penonton ke alam padang pasir Mekah masa itu.

Saya ingin berlama-lama menorehkan informasi lainnya, tapi mulai terasa lelah menulis. Itu berarti sudah terlalu panjang. Sekarang waktunya untuk sedikit melihat Muhammad Rasulullah Saw sebagai sebuah film. (bersambung)


Mon, 18 Oct 2021 @09:15

Copyright © 2021 Misykat · All Rights Reserved