Rubrik
Terbaru
Kirim Artikel & Pertanyaan

ke email: abumisykat@gmail.com

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

RSS Feed
Minat beli buku klik covernya
image

Minat BUKU hubungi WA Misykat

AUDIO KAJIAN ISLAM

Instagram MisykatNet
image

.

Follow Twitter Misykat
image

Silahkan ikuti Twitter Misykat

YouTube Misykat TV
image

Subscribe Channel Misykat TV

TATA CARA SHALAT

PENGUNJUNG

Flag Counter

Saleh Lapadi: Film Muhammad Rasulullah Saw (2)

image

Muhammad Rasulullah Saw
Film ini merupakan penuturan Abu Thalib mengenai sejarah Nabi Muhammad Saw. Ancaman perang yang disampaikan para pembesar Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan membuat Abu Thalib mengenang kembali peristiwa sebelum kelahiran Nabi Muhammad Saw.

Dimulai dengan rencana serbuan tentara Abrahah yang telah berada di dekat Mekah. Warga Mekah ketakutan. Semua ingin meninggalkan kota. Aminah, ibu Nabi Saw bersikeras untuk tinggal, sekalipun diajak Fathimah binti Asad, istri Abu Thalib. Sementara Abdul Muthalib di dalam Ka'bah. Ia didatangi Abu Thalib mengabarkan apa yang sedang terjadi dan bagaimana unta dan penggembalanya disandera oleh tentara Abrahah.

Seperti yang dicatat sejarah, ia menemui Raja Abrahah dan terjadilah dialog di antara keduanya. (Adegan Raja Abrahah memakai pakaian perangnya saat ditemui Abdul Muthalib mengingatkan film Last Samurai ketika para samurai memakai pakaian perangnya, sekalian dengan musiknya)

Abdul Muthalib berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya. Burung Ababil menyerang tentara Abrahah. Semua berakhir.

Aminah melahirkan manusia suci. Semua menyaksikan cahaya. Begitu juga seorang rabi Yahudi. Abdul Muthalib juga. Beliau diberi tahu akan kelahiran cucunya. Keesokan harinya, ia memperkenalkan cucunya dan memberinya nama Muhammad!

Aminah tidak dapat menyusui anaknya, budak perempuan milik istri Abu Lahab yang dipanggil menyusui Muhammad. Tapi kemudian dilarang oleh istrinya yang tidak punya anak.

Sejak awal dalam film ini, keculasan Abu Lahab digambarkan dengan baik. Ia merasa tersisihkan oleh ayahnya dan menganggap ayahnya tidak setuju ia menikahi istrinya yang berasal dari Bani Umayyah. Tapi jawaban Abdul Muthalib di luar dugaannya. Bukannya engkau menikahinya untuk memutuskan hubungan kekeluargaan Bani Hasyim. Dan semua ini tampak ketika istrinya melarang budaknya menyusui Muhammad!

Muhammad kecil akhirnya ditemukan dengan Halimah yang menjadi ibu susuannya. Ketika Muhammad akan dibawa ke desa untuk disusui, perpisahan antara ibu dan anak termasuk adegan favorit saya. Indah ditambah musik yang menusuk hati.

Abdul Muthalib terpaksa menjelaskan mengapa Halimah tidak bisa tinggal dengannya. Dan mengapa ia tidak bisa mengikuti mereka.

Di desa Halimah, Muhammad tumbuh sehat. Ia ikut bekerja bersama anak-anak Halimah. Digambarkan Muhammad kecil memasukkan gandum ke karung.

Di film ini ada beberapa adegan dimana Muhammad kecil digambarkan seperti anak-anak kebanyakan. Pertama di desa Halimah. Kedua saat ikut berlari-lari dengan anak-anak di Madinah di atas atap rumah. Ketiga, memetik buah saat panen di Madinah. Selain itu, Muhammad kecil berlaku dewasa.

Padahal saya berharap sekali Majid Majidi keluar dari sejarah klasik tentang Nabi Muhammad Saw ketika masih kecil. Sikap normatif ulama kita mengenai beliau membuat kita tidak mengenal "Muhammad kecil". Yang ada adalah Muhammad yang telah menjadi Nabi dengan badan anak kecil.

Ketika berbicara tentang Nabi Muhammad Saw sebagai teladan terbaik dan pamungkas, saya berharap ada teladan ketika beliau kecil. Mengapa ketika dalam sejarah dan hadis disebutkan beliau sering bertemu anak-anak Madinah yang sedang bermain dan menyapa mereka, bahkan dalam sejumlah kasus beliau ikut bermain, mengapa tidak pernah ada catatan sejarah beliau ketika masih kecil juga bermain?

Saya berharap di film ini ada permainan tradisional anak-anak Mekah masa itu. Muhammad kecil juga sedang bermain. Namun yang lebih sering ditampilkan kontemplasi... kontemplasi ... kontemplasi.

Lalu saya yang pernah kecil, anak saya atau anak-anak kecil lainnya bagaimana bisa mencontoh beliau?

Kontemplasi? Ah, Majid Majidi membuat Muhammad kecil hanya ada dalam "dongeng". Ada yang protes mengapa Muhammad kecil terlihat badannya, kecuali wajahnya. (Majid Majidi cerdas untuk tidak terjebak dalam bentuk pencitraan CAHAYA buat diri atau wajah Muhammad kecil. Tanpa keduanya, Majid Majidi mampu menggambarkan Muhammad kecil dengan baik. Ia melakukannya dengan mengambil gambar dari samping, belakang atau gelap)

Saya justru berharap semua ditampilkan apa adanya. Namun dengan mengambil gambar dari samping dan belakang, saya pikir Majid Majidi berusaha mengambil jalan tengah. Selalu jalan tengah adalah yang terbaik.

Karena menurut saya masa kecil beliau tidak termasuk masa kenabian yang difatwakan secara normatif oleh ulama tentang penggambaran beliau. Apalagi bagi mereka yang menganggap Nabi Muhammad Saw bisa melakukan kesalahan.

Jadi, penggambaran beliau ketika masih kecil dan remaja atau sebelum diangkat menjadi Nabi dilakukan dengan yang seperti saya sebutkan. Sementara setelah menjadi Nabi, beliau ketika keluar dari rumahnya pasca pembatalan blokade tiga tahun di Syi'b Abi Thalib, Majid Majidi menggambarkan beliau dengan cahaya seluruh badan. Hanya pada ketika pembaitan warga Mekah untuk masuk Islam yang dilakukan dengan mencelupkan tangan ke dalam air, tangan terakhir yang terlihat hingga pergelangan tangan adalah tangan Nabi Muhammad Saw.

Intrik yang terjadi di film ini bisa dibagi menjadi tiga bagian: (1). Keluarga. Antara Abu Lahab dengan saudara-saudaranya. (2). Klan. Bani Hasyim dan Bani Umayyah. (3). Agama. Rahib Yahudi yang ingin membunuh Nabi Muhammad Saw.

Intrik ketiga menurut saya sengaja ditekankan oleh Majid Majidi. Dimulai dari pembacaan tanda-tanda kenabian hingga upaya mencari sang Nabi. Ketika Halimah membawa Muhammad kecil ke Mekah, Abdul Muthalib mencium ada konspirasi Yahudi untuk membunuh Muhammad kecil. Akhirnya, kegembiraan di wajah Aminah kembali menjadi kesedihan ketika harus berpisah kembali dengan anaknya.

Ada dialog menarik antara Aminah dan Abdul Muthalib. Ketika Aminah mengatakan bahwa betapa ia begitu mencintai Muhammad, Abdul Muthalib menjawab: "Cinta menuntut ketabahan."

Konspirasi ini tidak berhenti. Yahudi mengetahui Muhammad kecil bersama Halimah dan berusaha menculiknya. Tidak mampu menjaganya, suami Halimah membawa Muhammad kecil kembali ke Mekah, tapi oleh Abdul Muthalib, beliau disembunyikan di gua Hira.

Tidak bisa juga, akhirnya diputuskan Muhammad diungsikan ke Yatsrib. Muhammad kecil benar-benar menikmati kehidupannya di Madinah yang lebih ramah, subur dan indah. Terlebih lagi, beliau bisa menziarahi kuburan ayahnya yang tak pernah dilihatnya.

Sampai saat ini juga saya belum mendapatkan informasi dari sebagian orang yang memrotes film ini terkait ziarah kubur. Karena ada dialog indah antara Aminah dan Muhammad kecil saat tidur-tiduran di samping kuburan Abdullah. Masa-masa indah Muhammad kecil lebih banyak di Madinah.

Namun si Yahudi berhasil mengejar hingga ke Madinah. Mengetahui itu, rombongan hendak kembali ke Madinah. Tapi sesuai sejarah, ketika berada di Abwa, Aminah ibu Muhammad kecil sakit dan meninggal dunia di sana.

Abu Thalib bermimpi dan ditakbirkan oleh ayahnya untuk segera berangkat melindungi Muhammad kecil. Terjadi pertempuran dengan pasukan Yahudi dan mereka berhasil menghalau musuh.

Abdul Muthalib yang sudah semakin tua mengajak Muhammad kecil thawaf. Namun untuk membedakan thawafnya dengan orang-orang Musyrik, beliau menjelaskan terlebih dahulu. Abdul Muthalib ingin menjelaskan perbuatan boleh sama, tapi yang membedakannya adalah niat.

Abdul Muthalib wafat dan Abu Thalib yang mengasuh Muhammad kecil. Suatu hari beliau diajak berdagang untuk pertama kalinya menuju Syam. Bertemu dengan pendeta Buharia yang menjelaskan akan tanda-tanda kenabian. Ia mengusulkan kepada Abu Thalib untuk tidak melanjutkan perjalanan dan kembali ke Mekah. Ia juga mengusulkan agar ia dan rombongan kecilnya tidak bareng dengan rombongan besar agar selamat.

Film ini memang dibuat dengan pesan khusus kepada Barat untuk lebih mengenal Islam. Itulah mengapa porsi dialog para rahib Yahudi sangat besar, sementara agama Kristen dicukupkan dengan pendeta Buhaira yang murah senyum.

Si Yahudi yang berniat membunuh Muhammad kecil ternyata dikhianati dan ia terluka. Ditemukan oleh rombongan Abu Thalib. Di sini sebuah fragmen sejarah lain yang jarang kita baca dalam buku sejarah.

Mereka sampai dekat pantai dan menemukan kaum penyembah berhala miskin. Mereka mengorbankan ibu dengan dua anaknya. Tapi Muhammad kecil membebaskan mereka. Masyarakat marah dan ingin menyerang beliau. Mukjizat muncul. Laut bergolak. Ombak semakin tinggi menghajar pantai. Semua ketakutan. Warga berpikiran berhala mereka marah. Tapi ternyata ombak melemparkan ikan ke darat dan mereka gembira.

Ketika warga tengah memungut ikan, Abu Thalib menatap keponakannya yang tengah berdiri di tebing dekat laut sambil menunjukkan senyuman misterius. Senyum akan keyakinannya. Keyakinan kepada keponakannya. Setelah pendeta Buharia menjelaskan seluruh tanda-tanda kenabian itu.

Film diakhiri dengan bacaan al-Quran yang dilantunkan Nabi Muhammad Saw di hadapan warga Mekah yang ingin memeluk Islam. Dan setelah itu ditunjukkan dengan simbol baiat dengan mencelupkan tangan ke dalam air.

Dialog film ini dengan bahasa Persia, tapi menarik juga ketika mendengar Raja Abrahah berbicara dengan bahasa aslinya atau para rahib Yahudi berbahasa Ibrani yang diberi subtitel.

Catatan Terakhir
Beriman kepada kenabian Muhammad Saw sama banyak bentuknya dengan beriman kepada Allah Saw. Ada yang beriman kepada beliau dengan membaca sejarah. Ada yang membaca al-Quran, hadis dan lain-lain. Beri kesempatan bagi orang lain untuk mengimani beliau lewat media film.

Film yang dibuat dengan usaha luar biasa, menyita energi selama 7 tahun dan dengan biaya yang sedemikian besar patut diapresiasi, sekali pun memang tidak ada karya manusia yang sempurna. Sisi sejarah dari film ini terkadang sangat mengganggu menikmati film ini. Kadang kita harus mengerutkan kening mengingat sejarah yang pernah dibaca untuk menebak siapa tokoh ini. Padahal bila dibiarkan mengalir begitu saja, betapa indahnya film ini, terlepas dari kandungan sejarahnya. Gambar yang luar biasa diselingi musik yang memukau dengan sendirinya membuat kita larut dalam film ini. Dampaknya adalah getaran di dalam dada. Terkadang membuncah keluar berupa tetesan air mata yang mengalir tanpa dapat ditahan.

Sesekali cobalah beriman dengan rasa, dan untuk 171 menit istirahatkan sel-sel abu-abu Anda untuk menikmati lebih dalam film ini. Jangan lupa menyiapkan tisu... (tamat).

Wassalam

Tehran, 4 September 2015

Saleh Lapadi

 

 

Mon, 18 Oct 2021 @09:15

Copyright © 2021 Misykat · All Rights Reserved