Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

Bagi yang ingin buku-buku bacaan ISLAM. Silakan tulis nama, alamat lengkap, dan nomor WhatsApp yang aktif pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Kematian Bagaimana yang Akan Terjadi Pada Saya?

image

Suatu hari istri saya menyampaikan cerita tentang kakeknya yang wafat dan melihat langsung mata kakeknya yang menutup bersamaan cahaya yang hilang dari pandangan kakeknya. Sebelum mata kakek menutup, sempat berkata: “aya…. aya…” (memberi tahu ada yang datang).

Saya kemudian menimpali dengan kutipan Al-Quran (kalau tak salah ada ayat yang menyatakan): "pada hari itu penglihatanmu menjadi tajam." Saya memahaminya bahwa saat tiba kematian: kita bisa terlihat yang sebelumnya tak terlihat. Menjadi tampak dimatanya dan membenarkan yang dahulu hanya ada dalam ceramah-ceramah agama. Saya yakin bahwa yang dialami kakek demikian: pengakuan adanya malaikat yang menjemputnya untuk berpindah ke alam barzah dan menanti datangnya kiamat.

Istri saya juga bercerita tentang Nabi Isa as. Suatu hari Nabi Isa as diminta membuktikan mukjizat oleh umatnya. Beliau mendatangi sebuah makam kuno. Digali kemudian ditepuk mayat yang ada di depannya sambil diseru: “bangunlah!” Tiba-tiba bangun. Seolah ia baru bangun dari tidur. Ia bertanya-tanya: “inikah saatnya yang dinantikan?” Nabi Isa as menjawab: “bukan.”

“Kalau begitu masih menunggu. Padahal rasa sakit saat diambil nyawa masih terasa sampai saat ini,” ujarnya. Kemudian Nabi Isa as berseru lagi: “kembalilah!” Orang itu kembali seperti keadaan sebelumnya (mati).

Istri saya bilang: orang yang dibangunkan dari kubur oleh Nabi Isa as adalah Sam bin Nuh (Sam putra Nabi Nuh as). Jarak dari Nabi Nuh as ke Nabi Isa as sangat jauh. Sekian puluh ribu atau jutaan tahun lalu manusia yang wafat dan berada dalam barzah (kubur) dari zaman Nabi Adam as sampai sekarang menantikan kehadiran Kiamat.

Saya tertegun. Dalam benak sempat terlintas cerita tentang cara kematian yang dialami orang-orang. Saya teringat pada kisah Nabi Musa as yang sakarul mautnya paling ringan. Hanya mengisap bau jeruk langsung mengembuskan nafas yang terakhir: wafat. Dalam hadis Rasulullah saw, ada riwayat yang mengabarkan rasa kematian yang dialami Nabi Musa as: “sangat sakit."

Kemudian ada riwayat pula bahwa kematian yang dialami Rasulullah saw yang paling ringan dan tidak menyakitkan. Namun, dalam hadis disebutkan Nabi Muhammad saw badannya sempat tegang dan meringis menahan rasa sakit. Malaikat Jibril yang senantiasa menemani pun tidak tega melihatnya sehingga menjauh dari saat-saat sakaratul maut Nabi Muhammad saw.

Saya teringat pula pada cuplikan kameramen di internet: seorang pemain bola yang meloncat jumpalikan dengan kepala membentur-bentur tanah lapang dan kemudian meninggal dunia; seorang ustad yang saat ceramah kemudian wafat. Dari buku ada kisah Nabi Sulaiman as yang wafat dalam keadaan memegang tongkat. Baru ketahuan wafat saat tongkatnya dimakan rayap. Saya juga pernah baca koran: seorang kakek hari jumat meninggal/mati saat berada di atas badan pelacur.

Dari ragam kematian tersebut, dalam hati bertanya-tanya: kematian bagaimana yang akan terjadi pada saya? Saya tidak dapat jawab. Saya tertengun. Saya terdiam dan kembali teringat pada cerita di atas. Bulu kuduk saya merinding: muringkak. Tangan dan badan saya gemetar: takut kalau kematian menimpa saya dalam kondisi tidak baik atau saat melalukan perbuatan dosa atau hal-hal yang buruk. Saya termenung dan sedikit-sedikit air mata saya meleleh dan turun ke pipi.

Mengapa saya harus menangis? Itulah pertanyaan yang muncul dibenak. Bukankah kematian itu jalan menuju Allah? Dalam tasawuf terdapat konsepbahwa pintu yang mempertemukan manusia dengan Allah adalah kematian. Lantas mengapa takut dengan mati?

Uing sieun kusabab boga keneh dosa. Sieun can bersih. Mun Allah masihan widi, hoyong maot keur shalat, keur maca al-Quran, atawa keur maoskeun shalawat.

Mohon doakan saya. Hapunten lahir sinareng batin. Allahumma Bihaqqi Muhammadin wa aali Muhammad. Yaa Rahman, Yaa Rahim, Yaa Ghafur.

[Ahmad Sahidin]

 

Sun, 6 Sep 2015 @09:55

Copyright © 2017 Misykat · All Rights Reserved