Rubrik
Terbaru
Kirim Artikel & Pertanyaan

ke email: abumisykat@gmail.com

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

RSS Feed
Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

Instagram MisykatNet
image

.

Follow Twitter Misykat
image

Silahkan ikuti Twitter Misykat

YouTube Misykat TV
image

Subscribe Channel Misykat TV

TATA CARA SHALAT

PENGUNJUNG

Flag Counter

Telaah Buku: Teologi dan Ajaran Shiah Menurut Referensi Induknya (2)

image

Seperti saya singgung di atas, untuk menentukan sebuah karya itu ilmiah atau tidak, diperlukan metode dengan standar yang jelas dan terakreditasi. Saya menolak klaim sepihak Hamid yang menyebut karyanya dan karya teman-temannya adalah ilmiah dengan tiga asumsi di atas. Dan, supaya tidak ikut-ikutan seperti mereka, saya harus membuktikan asumsi tersebut secara ilmiah. Karena kita berbicara tentang Syiah --dan Sunni, tentunya. Sedangkan keduanya, menurut Kamaruddin, adalah produk sejarah. Maka kita memerlukan metode sejarah. Dan metode sejarah dinilai ilmiah, menurut Louis Gottschalk, bila memenuhi dua syarat. Pertama, mampu menentukan fakta yang dapat dibuktikan. Kedua, fakta itu berasal dari unsur yang diperoleh dari hasil pemeriksaan yang kritis terhadap dokumen sejarah. Dan ketiga, tambahan dari saya meminjam istilah Prof. Suwito, harus dari sumber yang otoritatif dan dapat diverifikasi.

Selain sebagai produk sejarah Syiah dan Sunni sebagai Mazhab memiliki bangunan ideologi yang berasal dari sumber yang sama; al-Quran dan hadis dengan segala problematikanya. Karena itu saya sepakat dengan Komaruddin Hidayat dan Jalaluddin Rakhmat (Kang Jalal) yang mempromosikan metode abductive untuk kajian al-Quran dan Hadis sebagai sumber historis.

Dalam dunia filsafat metode ini lazim dikenal sebagai "Inference to the best explanation." Kecuali Kang Jalal metode ini masih asing bagi peminat islamic studies di dunia Islam, apalagi di lingkarannya Hamid Fahmi. Agar jelas apa dan bagaimana operasionalisasi metode ini, berikut akan saya tampilkan penjelasan Kang Jalal secara ilustratif.

Seorang peneliti seperti Hamid Fahmi, misalnya, ketika hendak melakukan penelitian biasanya bergerak dari pengamatan (sejumlah data awal). Ia berusaha menjelaskan pengamatannya untuk mengasumsikan kemungkinan sebab dari efek yang diamati. Ia mengumpulkan bukti-bukti dan menyesuaikan asumsi awal dengan peristiwa yang terjadi berikutnya. Lalu membangun hipotesis untuk menyeleksi dan menemukan fakta. Fakta itu kemudian dijadikan bukti untuk menyusun teori beserta teori-teori alternatif. Dan pada akhirnya, teori-teori itu diuji dengan data-data yang ditemukan dalam penelitian.

Selanjutnya mari kita bedah hipotesis Hamid dengan metode abductive. Dalam metode ini kita terima semua hipotesis yang muncul terkait isu yang sedang kita diskusikan. Dalam kasus yang sedang kita hadapi sekarang yang terkait dengan Syiah kita terima hipotesis Hamid yang menyebut Syiah sebagai sumber konflik yang terjadi di negara-negara Arab seperti Iraq, Bahrain, Kuwait, Saudi Arabia Selatan. Dengan tanpa menyebut sumber, Hamid melanjutkan, "Di Syiria konflik yang sesungguhnya adalah antara pemerintah yang Syiah dengan rakyat penganut Ahlussunah, tulis Hamid dalam kata pengantar. (h. ix). Baru sampai di sini saja sudah terbukti poin no-3 dari asumsi saya di atas. Hamid tidak menyebut sumber rujukan apalagi bukti yang menguatkan hipotesisnya. Okelah, karena masih di awal, kita terima hipotesis tersebut. Hipotesis itu kemudian kita hadapkan dengan fakta yang dapat diverifikasi. Dengan prinsip konsistensi dan inkonsistensi kita uji hipotesis itu. Yang sesuai dengan fakta, kita terima. Yang tidak sesuai, kita tolak. Lalu kita bangun hipotesis baru.

Sekarang mari kita uji hipotesis Hamid dengan fakta di lapangan. Rakyat Irak heterogen terdiri dari pelbagai suku dan agama. Ada Arab, Kurdi, Turkmen, Armain. Yazidi, Sunni, Syiah, Kristen, Druz dan lain-lain. Kemunculan ISIS dengan ideologi Wahabinya yang dibentuk oleh Amerika dan Israel membuat Irak porak poranda. Jadi, penyebab konflik di Irak adalah ISIS yang beraliran Wahabi. Dari sini terbukti, hipotesis Hamid yang menyebut Syiah sebagai sumber konflik di Irak, tidak sesuai dengan fakta. Karena itu, kita tolak karena tidak ilmiah. Satu bukti ini saja sebenarnya cukup untuk menggugurkan hipotesis Hamid. Kalau tidak puas dengan satu bukti ini, masih banyak fakta lain yang dapat menggugurkan hipotesisnya.

Sampai hari ini orang-orang Syiah di Iraq selalu menjadi target pembunuhan yang dilakukan oleh kelompok elit di era Saddam. Mereka berasal dari anasir partai Ba'ath atau pun elit masyarakat yang kehilangan previlige yang mereka terima saat Saddam berkuasa. Tidak hanya nyawa bahkan banyak situs yang tidak bernyawa ikut dihilangkan. Kelompok mana yang gemar memusnahkan situs bersejarah? Dokumentasi terpercaya membuktikan bahwa mereka dari aliran Wahabi yang saat ini berkuasa di Arab Saudi. Jadi, konflik di Irak terjadi karena infiltrasi pihak Wahabi yang dahulu pernah menjadi teman mesranya Saddam Hussein. Semua fakta ini sangat terang benderang. Atsil Nujaifi mantan Walikota Mosul dan Usamah Nujaifi mantan ketua parlemen Irak dua orang bersaudara yang berdasarkan investigasi tim independen adalah yang paling bertanggungjawab atas jatuhnya kota Mosul ke tangan ISIS. Kedua nama tersebut ditambah nama lain, Thariq Hasyimi, mantan Wakil Presiden Irak yang kabur ke Arab Saudi, juga bisa menjadi bukti lain untuk menggugurkan hipotesis Hamid yang menyebut Syiah sebagai penyebab konflik di Irak. Semua nama tersebut bukan dari kelompok Syiah. Dengan demikian, tuduhan Hamid, kata Ayu Ting-Ting: salah alamat. Tidak terbukti. Dan, karena itu, hipotesisnya tidak ilmiah.

Dari Irak kita ke Bahrain. Orang-orang Syiah sudah mendiami wilayah yang sekarang disebut Bahrain ratusan tahun sebelum kerajaan Bahrain modern berdiri atas bantuan imperialis Inggris. Dan jumlah mereka mayoritas. Presentasinya mencapai sekitar 75% dari seluruh penduduk Bahrain. Walaupun mayoritas, Syiah menjadi warga negara kelas dua. Sejak bergulirnya musim semi Arab bersama warga Bahrain lain yang Sunni, Syiah Bahrain bangkit menyuarakan reformasi kehidupan sosial politik secara damai.  Adakah yang salah dari mereka? Takut akan imbas dari gerakan reformasi, Saudi mengirim para prajurit bayaran untuk memadamkan aksi damai di Bahrain. Sejak saat itu kekerasan demi kekerasan menimpa mayoritas Syiah Bahrain. Dunia diam  terhadap pelanggaran HAM rezim Bahrain dukungan Saudi. Ulama Syiah Bahrain, Syaikh Qasim Isa diusir dari tanah kelahirannya. Syaikh Ali Salman pemimpin gerakan al-Wifâq ditangkap dengan tuduhan palsu. Bahkan ratusan anak Syiah usia sekolah terlanggar hak asasinya karena ditangkap secara semena-mena. Di sini lagi-lagi terbukti, Arab Saudi yang Wahabi berada di balik konflik yang terjadi. Karena itu, tuduhan Hamid tidak terbukti. Dengan demikian hipotesis Hamid tidak ilmiah. (bersambung) 

Dr H.Muhammad Babul Ulum adalah Direktur Eksekutif LPII Muthahhari Bandung

 [Tulisan di atas diambil dengan izin dari penulisnya; mohon maaf rujukan catatan kaki dihilangkan untuk memudahkan pemuatan. Bagi yang ingin membaca utuh dengan rujukannya bisa dibaca disini dan di sini]

Wed, 16 Sep 2015 @19:52

Copyright © 2021 Misykat · All Rights Reserved