Rubrik
Terbaru
Kirim Artikel & Pertanyaan

ke email: abumisykat@gmail.com

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

RSS Feed
Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

Instagram MisykatNet
image

.

Follow Twitter Misykat
image

Silahkan ikuti Twitter Misykat

YouTube Misykat TV
image

Subscribe Channel Misykat TV

TATA CARA SHALAT

PENGUNJUNG

Flag Counter

Telaah Buku: Teologi dan Ajaran Shiah Menurut Referensi Induknya (4)

image

Nah, dengan latarbelakang seperti ini saya ingin mengajak Anda memahami apa yang terjadi di Timur Tengah sana secara obyektif. Bahwa Syiah bukanlah penyebab konflik Suriah, sebagaimana dituduhkan Hamid. Tapi Israel dengan semua sekutu Arabnyalah yang membuat Suriah terjerembab dalam konflik berdarah yang berkepanjangan. Saya jamin, hipotesis ini bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Berdasarkan banyak bukti yang otentik dan dapat diverifikasi ternyata semua kelompok pemberontak yang menentang Pemerintah Suriah berpaham Wahabi. Baik yang bergabung di ISIS pimpinan Abu Bakar al-Baghdadi, Jabhah al-Nusrah pimpinan Abu Muhammad al-Julani, maupun Jabhah Islamiyah bentukan Zahran 'Alush bahkan yang dianggap sekuler sekalipun, Free Syirian Army, bentukan Jenderal pembelot, Riyadh As'ad, semuanya berpatron pada Qatar dan Saudi.

Bila dirunut semuanya bermuara pada kepentingan menjaga Israel. Fakta ini menguatkan hipotesis saya terkait konflik yang terjadi di Suriah. Dan, dengan sendirinya, hipotesis yang dibangun Hamid pun menjadi hancur berkeping-keping. Karena itu, sekali lagi, buku Hamid tidak pantas disebut sebagai karya ilmiah. Lebih pas sebagai materi pidato para dai selebritis yang suka mengaduk-aduk emosi audiensnya dengan kisah-kisah imajiner yang hanya ada di alam mimpi, dan pasti tidak dapat diverifikasi. Atau materi orasi yang cocok disampaikan dalam kegiatan seperti parodi Tauhid yang dipromosikan secara terstruktur, masif, dan sistematis oleh pihak yang sebagiannya menjadi kontributor bukunya. Dan, tentu saja, argumentasi yang dibangun di alam mimpi tidak layak disebut ilmiah.

Selain ketiga negara tersebut di atas. Hamid juga menyebut Syiah di Saudi Arabia Selatan sebagai sumber konflik. Di wilayah ini seringkali terdengar demo kaum Syiah, tulis Hamid. Di sini, sekali lagi, dan ma'af karena menurut saya tidak ada lagi kata-kata yang pas untuk tidak menyebutnya: T-O- L- O-L. Di Arab Saudi Selatan tidak ada Syiah, bung. Syi'ah di Saudi terkonsentrasi di wilayah Timur, bukan Selatan. Bahasa Arabnya al-Manthiqah al-Syarqiyah. Saya kira sebagai dosen Gontor yang terkenal Bahasa Arabnya, tidak perlulah saya jelaskan lebih jauh kata itu. Kota Ahsa, Qathif dan Dhahran adalah kota leluhur Syiah Jazirah Arabia jauh sebelum Kerajaan Saudi Arabia sekarang berdiri lalu menganeksasinya. Sama seperti Kota Jizan dan Najran yang juga dirampas Saudi dari Yaman.

Syiah di wilayah Timur Saudi memang menggelar demo damai. Tidak ada senjata yang mereka bawa. Mereka berdemo karena menuntut perbaikan hidup sebagaimana warga negara Saudi yang lainnya. Bahwa kota-kota yang didiami warga Syiah Saudi adalah wilayah kaya minyak. Minyak Saudi berasal dari al-Manthiqah al-Syarqiyah. Tapi mereka hidup menderita.

Adalah wajar bila mereka kemudian berdemo menuntut haknya. Karena itu juga dilindungi oleh konvensi HAM PBB. Aparat Saudi menghadapi aksi damai tersebut secara brutal. Banyak korban berjatuhan dari para pendemo. Sama seperti yang terjadi pada Masjid Syiah di Kuwait, Masjid Imam Ali di Qathif di bom saat sedang berlangsug Shalat Jum'at. Dan lagi-lagi, Pelakunya adalah  elemen Wahabi.

Di Saudi sama seperti di wilayah lain Syiah adalah korban. Tapi Hamid menyebutnya sebagai biang kerusuhan. Mengapa Hamid tidak menyebut mereka yang demo di Suriah dengan membawa senjata sebagai biang kerusuhan? Sementara ia menyalahkan orang-orang Syiah yang menggelar aksi damai di Bahrain dan Saudi? Hamid terjebak dalam kesalahan logika; blaming the victim. Logika seperti ini hanya dilakukan oleh kaum imperialis seperti Israil untuk menjustifikasi tindakan represif yang mereka lakukan. Tampaknya Hamid terpesona dengan logika sesatnya Israel.

Uraian di atas baru menjawab 6 baris dari pengantar yang Hamid buat. Baru pembukaan saja hipotesis Hamid sudah gugur, bagaimana dengan isi bukunya? Akan semakin banyak kesalahan fatal yang ia lakukan. Hal ini membuktikan bahwa Hamid tidak paham metodologi penulisan karya ilmiah. Karena itu saya sarankan kepadanya untuk belajar lebih giat lagi, ya?

Belajarlah dengan banyak pihak. Jangan membonsai diri hanya dengan kawan yang sepaham saja, lawan yang di seberang juga perlu digauli untuk memperluas wawasan. Untuk berpengetahuan luas Anda harus banyak membaca darimana saja. Jangan hanya membaca karya ulama Wahabi sama, bro. Bukankah Nabi pernah menyuruh kita untuk belajar kepada, ma'af tanpa bermaksud menyinggung pihak tertentu karena saya hanya mengikuti logika orang-orang 'saleh' yang suka takbir di jalanan, China yang Kafir?! Artinya, Nabi mengajarkan kita metodologi ilmiah yang benar. Bahwa belajar itu harus dari ahlinya. Dengan kata lain rujuklah sumber yang otoritatif dalam tulisanmu, Bung. (tamat)

Dr H.Muhammad Babul Ulum adalah Direktur Eksekutif LPII Muthahhari Bandung

 [Tulisan di atas diambil dengan izin dari penulisnya; mohon maaf rujukan catatan kaki dihilangkan untuk memudahkan pemuatan. Bagi yang ingin membaca utuh dengan rujukannya bisa dibaca satu disinidan dua di sini]

Wed, 16 Sep 2015 @20:02

Copyright © 2021 Misykat · All Rights Reserved