BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Takfiri Hebat dalam Marketing Kebencian

image

Suatu hari saya mengomentari kalimat dalam grup whatsapp, yang menyerang kaum takfiri dengan program anti syiah. Memang patut disesalkan karena kaum takfiri masih terus saja tak berhenti untuk menyesatkan dan coba mengeluarkan Syiah dari agama Islam. Diperparah dengan agenda provokasi hingga masjid dan sekolah ditempeli dengan poster yang menyebutkan kesesatan Syiah. Bahkan, kabar terakhir akan menyelenggarakan pelatiha anti Syiah untuk guru-guru dan menghilangkan pelajaran Agama Islam dari unsur Syiah. Entah benar atau tidak (saya mendapatkan di whatsapp), tetapi perilaku tersebut telah membuat sejumlah orang yang pro Syiah marah dan mengecamnya di medsos.

Melihat kecaman terhadap anti Syiah, saya kira bukan solusi. Kecaman dibalas kecaman, maka yang terjadi adalah tindakan buruk dari kedua pihak. Harusnya ada upaya mengingatkan kaum takfiri bahwa tindakan anti Syiah bisa membuat keutuhan ukhuwah Islamiyah ternodai dan mengakibatkan perpecahan dalam bangsa Indonesia.

Perlu diketahui bahwa tidak semua orang Islam benci dan anti Syiah. Banyak ulama dan cendekiawan Muslim Indonesia yang menyatakan kebenaran ajaran mazhab Syiah. Banyak pula buku yang menjelaskan dalil-dalil kuatnya ajaran mazhab Syiah berdasarkan tinjauan Al-Quran dan hadis. Bahkan Kementerian Agama RI dengan Menteri Agama Lukman Saefudin tidak melarang ajaran Syiah, bahkan membenarkan mazhab Syiah sebagai bagian dari agama Islam.

Sampai saat ini belum ada keputusan resmi dari MUI Pusat tentang Syiah sehingga para pengikutnya bisa leluasa beragama Islam sesuai mazhab Syiah. Yang beredar adalah pernyataan orang yang tidak paham dengan mazhab Syiah atau salah persepsi dengan Syiah. Mungkin kurang gaul dengan Muslim Syiah sehingga tidak mengenal. Tidak melihat keberadaan Muslim Syiah di luar negeri yang hidup rukun dan damai dengan Muslim Sunni. Sesama Muslim Syiah dan Sunni hidup berdampingan seperti di Bahrain, Kuwait, Irak, Iran, Lebanon, Arab Saudi, Amerika, Inggris, Jerman, Canada, Afrika, dan lainnya.

Mengapa di Indonesia dikatakan sesat? Harus dilihat dulu siapa yang mengatakannya dan mengapa demikian? Kalau oleh pengikut mazhab lain seperti Wahabi atau takfiri, tentu saja dikatakan sesat karena setiap ajaran dan paham agama yang berbeda dengan mereka pasti disebut sesat. Karena itu, melihat mazhab jangan dari sudut pandang mazhab sendiri atau kelompoknya. Harusnya dilacak dari sumber-sumbernya dan sejarah yang komprehensif dikaji secara ilmiah (melalui studi S3 di universitas). Saya kira ini yang perlu dilakukan saat ini: lakukan kajian ilmiah tanpa curiga.

Bagi saya, gerakan takfiri yang menyesatkan Syiah itu termasuk bukti dari kehebatan marketing mereka. Tentu ini didukung dana dan media sehingga hampir semua medsos dan majelis taklim sekarang menjamur gerakan anti Syiah. Bahkan ajaran kaum Sunni pun disesatkan oleh takfiri. Orang yang membela Syiah meski ia seorang Sunni langsung dicap Syiah. Inilah kehebatan takfiri yang tidak dimiliki kaum Sunni dan Syiah.

Harus saya akui bahwa hingga kini Syiah tak punya kemampuan dalam dakwah di Indonesia. Syiah hanya hidup dalam komunitas kecil dan tak punya kekuatan. Uniknya, Syiah ini masuk dalam masyarakat dan berbaur. Bahkan kehidupan Muslim Syiah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kegiatan keagamaan di masyarakat yang bernuansa budaya seperti maulid nabi, asyura, ziarah, tahlilan, shalawat, peringatan isra mi’raj, nisfu syaban, haul, dan lainnya.

Sedangkan kaum takfiri ini bisa disebut gerakan agama baru di Indonesia, tetapi bisa masuk dalam berbagai sektor. Mengalahkan kaum Sunni, meski mayoritas. Harus diakui Syiah dan Sunni sudah ada sejak masa kerajaan dan sebelum kolonial masuk ke Nusantara. Tapi untuk cegah masuknya wahabi dan gerakan takfiri, kaum Sunni dan Syiah ini tak mampu. Ini harus direnungkan, bukan hujat dan caci terus kaum takfiri yang akan terus senang jika direspon dengan perilaku yang sama dengan yang dilakukan kaum takfiri. Saya kira takfiri ini sebuah tantangan buat Muslimin Indonesia.

Nah, adakah tindakan nyata berupa solusi atas gejala keagamaan di Indonesia saat ini yang berpotensi merusak ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah?

Saya rasa, ormas Islam yang menyuarakan mazhab Sunni dan Syiah, hingga kini keberadaanya baru sekadar nama dan label. Belum ada kontribusi yang jelas buat umat Islam dan bangsa. Jumlah kaum Muslim yang miskin tidak berkurang, pejabat muslim masih banyak yang korupsi, anak-anak muslim banyak yang kekurangan dalam pendidikan dan ekonomi. Kemudian perilaku kaum Muslim masih ada yang tidak Islami, bahkan sejumlah pelaku kejahatan di masyarakat dari KTPnya adalah orang Islam. Ini harus dicermati. Benarkah kehadiran Islam (baik itu Sunni dan Syiah) telah menjadi rahmatan lil ‘alamin?

Jangan tanya Wahabi dan kaum takfiri. Sudah jelas tidak membawa maslahat karena menebar kebencian dan hendak memaksakan paham agama yang baru. Muslim Indonesia sudah memiliki paham sendiri-sendiri: Sunni, Syiah, Tarekat, dan Ahmadiyah; dengan berbagai organisasinya.

Semoga umat Islam Indonesia tergugah sekaligus sadar dengan situasi sekarang ini. Mohon maaf jika tak berkenan. Maklum, saya sedang coba evaluasi diri dengan situasi umat Islam sekarang ini.

(Ikhwan Mustafa, kontributor misykat)

Thu, 12 Nov 2015 @12:50

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved