PENGUNJUNG

Flag Counter

Kajian Islam LPII Bandung

Informasi kelas Hadis Al-Kafi dan Tafsir Al-Quran (follow Twitter) @LPII Bandung

RSS Feed
AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

FACEBOOK & WHATSAPP

Fanpage Komunitas Misykat

WhatsApp Group: Kajian Islam

BERBAGI BUKU

Silakan tulis nama, alamat, dan WhatsApp pada KONTAK

BAHAN BACAAN

Catatan Dr Kholid Al-Walid: Hatespeech dan Kebencian Wahabi

image

Saya dilahirkan dari keluarga yang mencintai Maulidan, Marhabanan, Ratiban, bahkan Likuran.

Semua terasa indah dulu ketika kecil. Betapa tidak saya jadi pusat perhatian ketika sunatan, Mantri yang menyunat saya bahkan memberi uang untuk saya. Nasi kuning dengan lauk ayam menjadi santapan utama.

 

Tapi semuanya menjadi penyesalan ketika saya mulai menjadi aktivis Harakah. Itu semua merupakan bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat dan setiap kesesatan masuk neraka. Saya tidak lagi hadir tahlilan yang diselenggarakan secara rutin di rumah kakek saya.

 

Saya mulai membenci kakek saya, yang menurut saya Kyai yang tidak punya ilmu dan penyebar bid'ah. Saya mulai bentrok dengan keluarga saya sendiri, yang saya nilai tidak memeluk Islam yang kaffah. Mereka hanya Islam keturunan dan jahiliyyah.

 

Semua di sekitar saya menjadi aneh dan saya mulai mengkritik dan rajin mendebat siapa saja. Mulai guru ngaji sampai sopir angkot. Saya menceramahi siapa pun yang saya anggap tak Islami, bahkan saya pernah marah pada sepupu yang selalu melepas jilbabnya setiap habis kuliah.

 

Di dalam hati saya muncul kecurigaan, rasa sinis dan permusuhan pada siapa saja yang menurut saya tidak "Islami". Buku “Tauhid” Bang Imad jadi pedoman saya. Tapi itu 25 tahun lalu dan saya sering tertawa sendiri mengenangnya, bahkan jadi olok-olokan saudara-saudara saya.

 

Sekarang dihadapkan lagi dengan kondisi yang sama. Bedanya kalau dulu saya jadi subjek sekarang saya jadi objek. Banyak orang-orang yang tiba-tiba persis seperti keadaan saya. Membenci orang yang berbeda dengan kelompoknya, berkata sinis pada pelaku "bid'ah". Bahkan lebih canggih menebarkan kebenciannya melalui medsos. 

 
Mengapa mereka berubah menjadi pembenci? Tidak lain dan tidak bukan dan apalagi kalau bukan karena ideologi "wahabi". Ideologi fasis yang mengubah seseorang yang ramah menjadi pembenci cukup 2 atau 3 kali ikut ngaji. Dari mulut Ustadnya yang ada hanya fitnah dan kebencian. Jika diajak dialog mereka berkata: "Tidak perlu dialog dengan orang sesat". 

 
UU Hatespeech tidak akan banyak arti karena kebencian sudah menjadi ideologi. Apa yang harus dilakukan jika berhadapan dengan mereka yang sudah ter "sibghah" dengan wahabi? Ajaklah mereka bercanda dan tertawa, siapa tahu wajah sangarnya bisa sedikit bercahaya.

 

[diambil dari WhatsApp Group, 23-11-2015, jam 10.00]

Mon, 23 Nov 2015 @20:55

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved