AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Kang Jalal dan Totopong di Lebanon

image

Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat, MSc, meyakini tanah kelahirannya, Tatar Sunda, memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang tinggi. Sebab itulah, anggota DPR Komisi VIII ini memberi penghormatan sendiri terhadap kearifan tersebut. Salah satunya, kerap mengenakan tutup kepala khas Sunda yang disebut iket atau totopong  pada berbagai acara. Terkadang dipadu dengan kain serban bergaris merah putih membalut pundak dan dibiarkan ngarumbay.

Bahkan iket warna hitam yang sering dipakainya, sudah melanglang buana dan pernah dioakai saat menghadiri sebuah konferensi Islam sedunia di Lebanon sekitar dua tahun lalu. Para delegasi banyak yang mengenakan tutup kepala khas negaranya masing-masing. Tentu saja penampilan Kang Jalal, demikian sapaan akrabnya, dengan tutup kepala seperti itu mengundang kepenasaranan sejumlah peserta. Mungkin karena tampak asing dan dianggap tidak lazim.

“Banyak yang bertanya kepada saya tentang tutup kepala ini. Sebab bentuknya lain dari pada yang lain. Ya saya jawab saja, ini tutup kepala khas Sunda dan saya orang Sunda. Saya jelaskan pula apa dan bagaimana itu Sunda dalam wilayah Indonesia. Saya bangga mengenakan ini, karena menjadi identitas tersendiri saat berada di tengah masyarakat dunia,” ujarnya saat berdialog dengan warga Desa Cimekar, Kec. Cileunyi, Kab. Bandung, belum lama ini.

Cendekiawan Muslim kelahiran Cicalengka, Kabupaten Bandung (Jawa Barat), 66 tahun lalu itu, merasa terpanggil untuk ikut memelihara tradisi. Sebab masyarakat Sunda yang begitu terbuka, seringkali melupakan kesundaan pada dirinya. Berbeda dengan suku bangsa lain di Indonesia yang memiliki hubungan lebih kuat pada tradisi mereka. Hal itu boleh jadi karena pada masyarakat Sunda tidak ada primordialisme yang mengikat seperti dalam kekerabatan suku bangsa Batak atau Ambon.  

Selain itu, menurutnya, nilai-nilai kesundaan juga sesuai dengan nilai-nilain keislaman. Misalnya konsep siliah asah, silih asih, silih asuh, itu sarat dengan ajaran sosial dalam Islam. “Dulu, kalau ada orang Sunda yang tidak beragama Islam kerap dianggap sudah bukan orang Sunda lagi,” tutur pakar komunikasi ini. (Al-Sindy, Kontributor Misykat)

Thu, 25 Aug 2016 @11:11

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved