Dr Zuhairi Misrawi: Maulid Nabi untuk Persatukan Umat

image

Tokoh muda Nahdatul Ulama (NU), Dr. Zuhairi Misrawi mengatakan, pelaksanaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang senantiasa diperingati oleh umat Islam mempunyai tanggung jawab untuk menyebarkan kasih, saling mengasihi dan berpihak pada kaum lemah serta melindungi kelompok minoritas. 

"Tebarkan cinta kasih dan memperkuat persaudaraan khususnya dengan sesama umat Islam," kata Zuhairi saat ditemui Galamedia usai mengikuti kegiatan Mawlidur Rasul 1437 H dalam Semarak Shalawat Al-Mustofa di Gedung Satya Graha Jln. Jakarta, Bandung, Minggu (10/1/2016). 

Menurut Zuhairi, sangat tepat kegiatan maulid menjadi ajang mempersatuan umat. Di mana, pelaksanaan maulid yang selalu diperingati di berbagai daerah ada pesan yang sangat esensial yakni untuk lebih mengedepankan kasih kepada umat Islam dan non Islam. 

"Saya kira cinta kasih harus  ada titik temu, dimana  sebagai umat Rasul harus  kembali kepada ajaran islam yang hanif. Dan, harus ada upaya mencari titik temu sesama kelompok bagaimana esensi cinta Allah kepada umatnya tidak terbatas, serta harus betul-betul dirasakan oleh umatnya," kata Zuhairi. 

Pada kegiatan itu tamu undangan mendapat suguhan berbagai hiburan berupa nasyid, pembacaan salawat serta istigosah serta doa untuk bangsa yang dipimpin K.H.Muchtar Gandaatmadja. 

Sedangkan pada kegiatan tersebut diisi siraman rohani oleh Ustad Miftah F. Rakhmat yang menekankan, Maulid Nabi harus memiliki keistimewaan cinta kepada nabi. 

"Intinya tidak mengatakan lebih baik dari orang lain, tapi memberi yang istimewa kepada Nabi dan yang paling utama ada memperkuat persaudaraan diantara kaum muslim," katanya. 

Selain itu, Miftah juga menyatakan, bila seseorang mendapat hadiah yakni bersaudara tentunya harus menekankan cinta kasih. Meski  diantara umat ada perbedaan namun itu diibaratkan orang tua yang berhadapan dengan anak-anak dengan memiliki latar yang berbeda. 

"Orang tua akan bahagia bila anak-anaknya rukun, tidak mengedepankan pertengkaran di depan orang tuanya," kata Miftah. 

Bangkitkan semangat

Berdasarkan catatan Maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada mulanya diperingati untuk membangkitkan semangat umat Islam. Sebab waktu itu umat Islam sedang berjuang keras mempertahankan diri dari serangan tentara salib Eropa, yakni dari Perancis, Jerman, dan Inggris. 

"Kita mengenal musim itu sebagai Perang Salib atau The Crusade. Pada tahun 1099 M tentara salib telah berhasil merebut Yerusalem dan menyulap Masjidil Aqsa menjadi gereja. Umat Islam saat itu kehilangan semangat perjuangan dan persaudaraan ukhuwah," ujarnya. 

Pada saat itu, Sultan Salahuddin Al-Ayyubi, penguasa dari Bani Abbas menyatakan, semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada Nabi. Ia pun mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul harus dirayakan secara massal. 

Salahuddin sempat ditentang oleh para ulama. Sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. Hari raya resmi menurut ajaran agama hanya ada dua, yaitu Idulfitri dan Iduladha. Namun Salahuddin menegaskan perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual sehingga tidak dapat dikategorikan bid`ah yang terlarang. 

Ternyata peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan Salahuddin itu membuahkan hasil positif. Semangat umat Islam menghadapi pasukan salib bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan sehingga pada tahun 1187 (583 H) Yerusalem direbut oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa dan Masjidil Aqsa menjadi masjid kembali sampai hari ini.[] 

(Sumber: Galamedia, 11 Januari 2016)

 

Mon, 11 Jan 2016 @21:22

AUDIO MISYKAT

BAHAN BACAAN
FACEBOOK MISYKAT
BERBAGI BUKU

 Silakan tulis nama, alamat lengkap, dan nomor WhatsApp pada KONTAK

Copyright © 2017 Misykat · All Rights Reserved