Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Komunikasi Ekspresif dan Ritual dalam Tradisi Asyura [by Genik Puji Yuhanda]

image

Komunikasi Ekspresif

Komunikasi, baik verbal maupun nonverbal merupakan sarana manusia untuk mengungkapkan perasaan-perasaan tertentu yang muncul dalam diri. Marah, sedih, senang, bahagia adalah bentuk komunikasi yang secara verbal maupun nonverbal sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang sedang marah, misalnya, mengeluarkan kata-kata kasar (verbal) dan secara nonverbal menunjukkan wajah yang tidak bersahabat. Sebaliknya orang yang bahagia memperlihatkan ekspresi wajah (nonverbal) ceria dan penuh senyum. Karena bahagia ia juga mengungkapkan perasaan secara verbal kepada orang di sekitarnya dengan menceritakan apa yang dialaminya. Pesan-pesan verbal maupun nonverbal seperti marah, sedih, bahagia dan senang disebut sebagai komunikasi ekspresif.

Komunikasi ekspresif dapat terjadi pada individu maupun kelompok. Contoh lain mengenai komunikasi ekspresif yang terjadi pada individu yakni perasaan takut, benci, simpati dan sayang. Sementara itu, komunikasi ekspresif yang terjadi pada kelompok hanya dapat ditemukan pada kelompok atau komunitas tertentu. Kelompok yang dimaksud adalah kelompok budaya. Kelompok budaya yang satu dengan kelompok budaya lain memiliki perbedaan dalam cara mengekspresikan sebuah hal. Misalnya, peristiwa yang terjadi pada bulan Muharam. Kelompok Islam yang berpaham Sunni bersuka cita di bulan Muharam karena memperingati tahun baru Islam. Tapi, bagi kelompok Islam yang berpaham Syiah ekspresi di bulan Muharam adalah dengan duka cita, yakni memperingati kesyahidan Cucu Nabi Muhammad Saw, Imam Husain bin Ali yang terbunuh pada peperangan di Karbala, Irak.        

Tepatnya pada tanggal 1 Muharam, muslim Sunni khususnya di Indonesia bergembira menyambut tahun baru Islam dengan mengadakan pawai keliling sambil berkreasi seni memukul-mukul alat musik tradisional, seperti rebana dan bedug yang menghasilkan simfoni musik dan lagu. Sebaliknya, pada muslim Syiah tidak akan ditemukan peristiwa suka cita selama bulan Muharam. Mereka berduka, meratapi kematian Imam Husain bin Ali sebagai simbol kepedulian dan kecintaan kepada keluarga Nabi Muhammad Saw yang dizalimi oleh penguasa. Peristiwa memperingati kesyahidan Imam Husain bin Ali disebut dengan asyura. Asyura artinya tanggal 10 bulan Muharam. Tanggal tersebut adalah hari syahidnya Imam Husain bin Ali di Padang Karbala, Irak, saat bertempur dengan pasukan musuh yang jumlahnya mencapai ribuan, sementara pengikut Imam Husain hanya berjumlah kurang lebih 72 orang.

Imam Husain melawan penguasa bukan untuk merebut kekuasaan. Tapi karena agama yang suci telah diinjak-injak oleh penguasa dari kalangan Bani Umayah. Bid’ah merajalela. Minuman keras, zina dihalalkan. Penguasa bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat kecil. Imam Husain melawan untuk memperbaiki agama yang telah rusak, menegakkan sunnah kakeknya, Muhammad Saw.

Pada hari asyura, muslim Syiah di seluruh dunia berbondong-bondong menghadiri majelis duka cita itu. Ekspresi yang ada adalah ekspresi kesedihan sekaligus kecintaan kepada Al-Husain, sang cucu Nabi Saw. Misalnya, acara asyura yang dilakukan IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia) Jawa Barat, yang juga objek penelitian penulis (tesis), pada saat maktam (lagu duka cita) diperdengarkan kepada seluruh jamaah yang hadir, mereka merasakan kepedihan hati yang mendalam terhadap Al-Husain.  

Saat maqtal (pembacaan ulang peristiwa asyura) dibacakan mereka menangis terisak-isak. Sebagian yang lain memukulkan tangan kanannya ke dada sebelah kiri sebagai simbol kesedihan yang teramat mendalam atas penderitaan yang dialami Al-Husain. Bahkan beberapa orang jamaah menangis sampai meraung-raung. Pada pembacaan doa ziarah asyura pun para jamaah tak kuasa menahan tangis. Maktam, maqtal dan ziarah asyura adalah komunikasi ekspresif. Wujudnya adalah tangis kesedihan yang secara nonverbal dapat diamati.

Di negara lain, seperti di Afghanistan, peringatan asyura dilakukan dengan menyakiti diri. Mereka memukulkan rantai berduri dan pedang ke punggung dan kepala sebagai lambang duka cita untuk merasakan kepedihan seperti yang dialami Al-Husain.

Komunikasi Ritual

Komunikasi ritual merupakan komunikasi yang dilakukan manusia dengan Tuhan dan orang-orang yang dianggap suci, seperti nabi dan wali Allah. Komunikasi ritual terjadi pada individu maupun kelompok tertentu. Komunikasi ritual pada sebuah kelompok biasanya terjadi pada kelompok keagamaan atau berdasarkan pada tradisi yang telah melekat lama di suatu masyarakat. Selain itu, terdapat juga simbol-simbol tertentu sebagai wujud komunikasi yang dipraktikkan di sebuah kelompok ritual. Aktivitas ritual juga dilaksanakan pada waktu dan tempat yang khusus, seperti pada peringatan asyura. Peringatan asyura dilaksanakan satu tahun sekali, pada tanggal 10 Muharam. Peringatan asyura yang digelar oleh IJABI Jawa Barat dilaksanakan di gedung untuk menampung jamaah yang jumlahnya mencapai ribuan orang.

Komunikasi ritual pada peringatan asyura merupakan sarana yang menghubungkan antara jamaah Syiah dengan Tuhan, Nabi Muhammad Saw dan keluarganya. Praktik-praktik komunikasi ritual pada peringatan asyura yakni, shalawat dan ziarah asyura. Dalam ritual Asyura bacaan shalawat merupakan kalimat yang sering dilantunkan oleh jamaah Syiah. Bacaan tersebut dilantunkan mulai dari awal hingga akhir acara. Bacaan shalawat dilantunkan ketika ada yang memulainya, entah itu jamaah atau pihak pembawa acara. Biasanya pembawa acara atau jamaah mengucapkan kalimat “Alan Nabiyi wa Aalihi shalawat”. Kemudian serentak seluruh jamaah mengucapkan kalimat “Allahuma shalli ala Muhammad wa Aali Muhammad”.

Adapun dalil serta alasan jamaah Syiah melantunkan shalawat, yakni karena perintah Al-Qur’an. Seperti yang tercantum dalam Al-Qur’an, yakni: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat Nya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (Q.S Al-Ahzab:56).

Dalam tesis penulis, terdapat pengalaman shalawat, yang terdiri atas dua kategori pengalaman yang dirasakan para informan, yakni kerinduan kepada Nabi Muhammad Saw dan keluarganya, serta pengalaman merasakan kehadiran Nabi Muhammad Saw dan keluarganya. Adapun jumlah informan pada tesis penulis berjumlah sepuluh orang. Enam orang informan merasakan kerinduan kepada Nabi Muhammad Saw dan keluarganya. Bagi mereka, Nabi Muhammad Saw dan keluarganya merupakan sosok manusia-manusia suci yang senantiasa dirindukan. Sedangkan empat orang informan merasakan kehadiran Nabi Muhammad Saw dan keluarganya. Mereka merasa disaksikan oleh Nabi Saw dan keluarganya saat melantunkan shalawat.

Komunikasi ritual lainnya, yakni ziarah asyura. Ziarah artinya menengok atau berkunjung. Dalam konteks asyura, ziarah asyura berarti mengunjungi atau menghubungkan ruh jamaah dengan ruh Imam Husain bin Ali. Ziarah asyura dilakukan oleh seluruh jamaah Syiah dengan cara berdiri menghadap kiblat sambil mengucapkan doa dan salam yang ditujukan kepada Imam Husain bin Ali.

Pada pengalaman mengikuti ziarah Asyura, seluruh informan merasakan kehadiran Imam Husain bin Ali. Mereka beranggapan Imam Husain bin Ali tetap hidup dan dapat menyaksikan umatnya yang berziarah. Tapi, bagi mereka, Al-Husain dapat dirasakan kehadirannya secara ruhaniah, bukan secara fisik. ***

(Genik Puji Yuhanda)

 

Fri, 30 Aug 2019 @21:06

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved