AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Membidahkan Mazhab Lain [by Nasaruddin Umar]

image

SALAH satu persoalan yang sering menjadi topik ujaran kebencian (Religious-Hate Speech/RHS) ialah pembid’ahan terhadap sebuah praktik dan faham yang berbeda dengan mazhab yang dianut. Bid'ah itu sendiri sering diartikan dengan suatu praktik atau kebiasaan yang bersifat ritual dilakukan seseorang yang tidak pernah dilakukan atau diperintahkan oleh Nabi. Seperti melakukan shalat sunnat sesudah shalat subuh atau sesudah ashar. Namun hal-hal yang bersifat non-ritual seperti urusan mu’amalah dan mekanisme kehidupan sehari-hari setiap orang tidak mesti harus dibatasi dengan konsep bid'ah.

Para ulama sering membedakan antara bid'ah negatif (bid'ah sayyiah) dan bid'ah positif (bid’ah hasanah). Bid'ah sayyiah inilah sesungguhnya yang dilarang oleh Rasulullah Saw sebagaimana disebutkan dalam: "Kullu bid'atin dhalalah wa kullu dhalalatin fin nar" (Setiap bid’ah adalah sesat dan semua kesesatan itu di dalam neraka). Sedangkan bid'ah hasanah ialah praktik dan kebiasaan yang positif di dalam kehidupan masyarakat yang bersifat non-ritual, sekalipun itu tidak pernah dilakukan Nabi. Contohnya, Nabi dahulu kala mengendarai unta saat menenunaikan ibadah haji, sedangkan kita sekarang ini menggunakan mobil dan pesawat. Berkendaraan mobil dan pesawat tidak pernah dilakukan Nabi, tetapi tidak dianggap bid'ah karena jenis kendaraan dan cara mengendarainya sesuatu yang bersifat non-ritual, meskipun itu terkait dengan ibadah haji.

Persoalan bid'ah akhir-akhir ini muncul karena dimunculkan oleh sekelompok orang yang mungkin niatnya betul-betul ingin memelihara kemurnian ajaran agama dari berbagai praktik syirik, khurafat, dan hal-hal yang bersifat spekulatif. Namun muncul masalah karena seringkali kata bid'ah digunakan untuk menyerang sebuah tradisi atau kreasi lokal yang dihubungkan dengan ibadah.

Kata ibadah ini sendiri juga seringkali menimbulkan persoalan tersendiri karena ada yang mendefinisikannya terlalu luas, yakni segala sesuatu yang dilakukan dengan niat baik karena Allah Swt adalah ibadah. Ada orang yang mendefinisikannya terlalu sempit, yakni ibadah yang mahdhah, yaitu ibadah ritual yang dilakukan secara rutin seperti shalat dan puasa. Wilayah abu-abu seringkali muncul, seperti praktik budaya yang menyertai perkawinan. Rukun dan syarat perkawinan secara syari’ah sangat simple. Cukup ada sepasang calon pengantin berlainan jenis dan memenuhi segala syarat perkawinan, mempunyai dua saksi, ada wali sah yang mengawinkannya, ada mahar, dan akad yang sah. Selebihnya itu hanya fariasi.

Sekelompok orang yang sering melontarkan bid'ah kepada orang yang melibatkan tradisi bu¬daya yang bersifat unik, seperti sungkeman terhadap kedua orangtua, dengan alasan Nabi tidak pernah melakukan hal seperti itu. Demikian pula di sekitar upacara pemakaman seringkali juga dipandang ada praktik bid'ah karena melibatkan tradisi lokal di dalam rangkaian pemakaman, seperti praktik siraman dengan menggunakan air khusus di dalam botol, takziyah sampai malam ketiga atau ketujuh, makan di rumah orang keluarga yang meninggal. Termasuk menyertakan foto almarhum/almarhumah ke pemakaman.

Tudingan bid'ah seperti ini harus hati-hati karena meskipun Nabi tidak pernah melakukannya tetapi beberapa praktik yang sudah menjadi adat istiadat dan tidak bisa ditinggalkan begitu saja karena itu juga memiliki fungsi yang berarti di dalam masyarakat. Itu pun belum tentu bid’ah dalam arti sesungguhnya karena menyangkut wilayah abu-abu. MUI (Majelis Ulama Indonesia) perlu memberikan ketegasan terhadap hal-hal yang bersifat khilafiah. Sembarangan menuduh orang bid'ah bisa masuk ke dalam kategori RHS. *** 

Nasarudin Umar adalah Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta.

 

(Sumber: REPUBLIKA

Sat, 6 Feb 2016 @07:40

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved