PENGUNJUNG

Flag Counter

Kajian Islam LPII Bandung

Informasi kelas Hadis Al-Kafi dan Tafsir Al-Quran (follow Twitter) @LPII Bandung

RSS Feed
AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

FACEBOOK & WHATSAPP

Fanpage Komunitas Misykat

WhatsApp Group: Kajian Islam

BERBAGI BUKU

Silakan tulis nama, alamat, dan WhatsApp pada KONTAK

BAHAN BACAAN

Kewajiban Manusia terhadap Dirinya (1) [by Mulyadhi Kartanegara]

image

Bagıan Pertama

Tentu saja, ketika kita bicara tentang manusia dan dirinya, kita bicara dalam konteks kewajiban atau tugas manusia, sebagai khalifah, terhadap dirinya. Ini ingin menjawab pertanyaan apa yang seorang manusia harus lakukan terhadap dirinya? Dalam pandangan saya, setidaknya ada tiga perkara yang harus ia lakukan terhadap dirinya (1) “memelihara” kesehatan tubuhnya; (2) menuntut ilmu untuk kesempurnaan jiwanya; dan (3) menerapkan ilmu untuk kesempurnaan akhlaqnya. 

Marilah kita mulai dengan yang pertama: memelihara kesehatan tubuh. Sebagai hasil evolusi terakhir, tubuh manusia adalah mesin alam yang luar biasa yang mampu mengerjakan ribuan mesin dengan sangat menakjubkan, yang dipersiapkan sebagai fasilitas bagi khalifah atau wakil Allah di muka bumi untuk melaksanakan tugasnya. Dikatakan bahwa otak manusia adalah organ tercanggih dan terkompleks, di alam semesta ini. Sistem-sistem yang ada dalam tubuh manusia untuk menjalankan fungsi fisiknya bekerja dengan sangat menakjubkan dan telah menghasilkan  berbagai kajian yang luar biasa, kaya dan menarik. Misalnya sistem syaraf yang dikendalikan dari ootak dan tulang belakang dan dibagi dalam dua kategori: sensoris dan motoris. Sungguh merupakan sistem yang super canggih. 

Mengetahui bagaimana isyarat sensoris, bekerja begitu cepat dalam menginformasikan berita ari satu bagian yang terluka, misalnya, ke otak lelah: proses yang disebut neuro transmission dari puluhan juta neuron (sel saraf) dalam hitungan detik, demikian juga ketika otak melibatkan sel saraf motoris untuk merespon stimulus dari sel saraf sensoris dalam waktu yang super cepat, padahal juga melibatkan puluhan juta newrotransmission. Bagi saya ini merupakan keajaiban maha besar dari cara bekerjanya tubuh manusia. Demikian juga dengan sistem peredaran darah yang berpusat pada jantung, yang berfungsi sebagai “mesin” yang bekerja luar biasa untuk mengedarkan darah ke seluruh tubuh untuk mengangkat nutrisi dan oksigen yang sangat diperlukan bagi tubuh manusia dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dan untuk menyediakan kebutuhan nutrisi dan oksigen di atas sistem, sirkulasi darah perlu bekerja sama dengan harmonis dengan sistem pencernaan yang berpusat di paru- paru untuk mensuplai oksigen ke darah.

Selain sistem- sistem yang telah disinggung tadi, manusia juga dilengkapi dengan sistem lain yang canggih seperti sistem otot untuk menggerakkan tubuh manusia dan sistem reproduktif untuk menghasilkan keturunan, yang sudah kita singgung sedikit sebelumnya.

Bagian Kedua

Dengan mesin tubuh yang begitu canggih, yang mampu bekerja begitu efektif dan efisien, maka sudah tentu kita sebagai pemiliknya mempunyai kewajiban untuk menjaga dan memelihara kesehatan dan kebugarannya. Untuk masalah pemeliharaan kesehatan ini adda dua cara yang perlu mendapat perhatian. Pertama adalah berkaitan dengan makanan dan kedua adalah berkaitan dengan gerak. Ini mengingat bahwa menurut Musa Ibn Maymun, atau Maimonides ahli fikir dan dokter Yahudi (w. 1204), di dalam kitabnya Tadbir al-Shihah (managemen kesehatan), bahwa penyakit yang ada dalam diri manusia disebabkan oleh dua hal: (1) terlalu banyak atau sedikit makan; (2) terlalu banyak atau sedikit gerak.

Dalam tradisi ilmiah Islam, makan dipandang sebaga obat, yakni obat bagi penyakit yang namanya lapar. Dengan makan maka tuntutan tubuh akan gizi atau nutrisi terpenuhi. Tetapi yang paling penting dicamkan disini adalah makan sebagai obat, maka harus punya takaran atau dosis yang sesuai, tidak berlebihan tidak juga kekurangan. Juga ada jadwal waktu yang ditentukan. Kalau dosis dan jadwalnya dilanggar, maka makanan bisa menjadi sumber penyakit. Jadi, “dosis” dan “jadwal” makanan sangat penting untuk diperhatiikan, tentunya di samping substansi dan kebersihan makanan itu sendiri. 

Kedua berkaitan dengan gerakan. Gerakan dipandang krusial oleh ahli kesehatan Muslim, sehingga olahraga sangat digalakkan. Tubuh manusia memerlukan gerak untuk kebugaran, latihan dan ketahanan fisik, kekuatan jantung, perderan darah dan pembinaan otot agar menjadi kuat melakukan tugas- tugas pokok fisik. Misalnya mebawa karung beras, mendorong kendaraan dan segala aktifitas yang memerlukan kekuatan fisik. Tetapi seperti dalam soal makanan, moderasi sikap tidak berlebihan harus tetap diperhatikan, rutinitas lebih diapresiasi ketimbang beban yang dipikulkan, tetapi tidak teratur. Apabila olahraga atau exercise ini di lakukan dengan teratur dan moderat, insha Allah ini akan membawa dampak positif bagi pemeliharaan kesehatan tubuh. Tapi, kalau dilakukan secara berlebihan, ia akan menimbulkan masalah dan menyebabkan timbulnya penyakit dalam diri manusia. 

Bagıan Ketiga

Kewajiban kedua, manusia terhadap dirinya adalah menuntut ilmu untuk ta'lim yang lebih terkait dengan persoalan jiwa manusia. Dikatakan oleh ikhwan al-Safa' bahwa sebagaimana tubuh memerlukan makan fisik, maka jiwa pun memerlukan makanan rohani, dan di antara makanan pokok rohani, ilmu adalah menu utama makanan jiwa. Boleh dikata tanpa ilmu, adalah seperti tubuh yang kurang gizi, jiwa akan menjadi lemah, kurus bahkan bisa juga mati, sekalipun tubuhnya masih hidup. 

Cara meraih ilmu beraga bisa secara ototidak, bagi yang punya bakat intelektual yang hebat seperti Ibn Sina, tapi lebih baik dengan bantuan seorang guru yang kompeten, yang akan membimbing kita setahap demi setahap ke arah kesempurnaannya. Karena guru sangat tahu apa saja, buku yang harus di bacaa untuk sebuah disiplin ilmu tertentu dan bagaimana memahami dan mengembangkannya. Menimba ilmu dengan guru dapat dilakukan secara privat ataupun masal dalam sebuah kelas. Namun, apapun metode yang ditempuh dalam ta'lim ini yang terpenting adalah bagaimana pendidikan diri ini bisa terpenuhi oleh kita. 

Bagıan Keempat

Adapun tentang subjek atau mata pelajaran yang bisa dipelajari, dibagi oleh ibn Khaldun ke dalam dua kategori: (1) ilmu- ilmu naqliyah (transmitted science) atau untuk modelnya ilmu- ilmu agama; (2) ilmu- ilmu 'aqliyyah (rational science) yakni yang biasa kita sebut ilmu pengetahuan umum. Boleh dikata, ilmu- ilmu agama adalah untuk keselamatan kita di akahirat dan ilmu- ilmu umum untuk keselamatan dan kebahagiaan di dunia, seperti yang tercermin dalam do'a sapu jagat “Rabbana atina fi al-Dunya hasanah wa fi al-akhirat hasanah”. Ilmu-ilmu Naqliyyyah bertujuan untuk memastikan bahwa kita menjalankan syariat- syariat Islam, kata Ibn Khaldun, sementara ilmu Naqliyyah adalah untuk “mengetahui segala sesuatu sebagaimana adanya” (ma'rifat al-shay'i 'ala ma huwa bihi). 

Dalam tradisi Islam, ilmu-ilmu al-Qur'an, Hadith, Fiqh dan Ushul Fiqh, ilm Kalam, Tasawuf dan Ta'bir mimpi sedangkan ilmu- ilmu 'Aqliyyah dibagi ke dalam 4 cabang, yaitu: (1) logika, sebagai alat organon; (2) fisika; (3)matematika; dan (4) metafisika. Dalam logika kita bisa mempelajari berbagai sub cabang, seperti isasogi (pengantar logika), topika, kategori, demonstrasi, sytogisme, rethorika, dialektika dan poetika. Dalam fisika kita bisa belajar, astro fisika, neutrologi, fisika dasar, mineralogi, botani, zoologi, anatomi dan psikologi.

Dalam matematika kita bisa mempelajari aritmatika, geometri, astronomi, musik dan geografi, sedangkan dalam metafisika kita bisa memperdalam ontologi, teologi, kosmologi, antropologi dan eskatologi. Inilah ilmu- ilmu rasional yang tergabung dalam teoritis (al- 'Ulum al-Nadriyyah). Tapi ada lagi beberapa cabang ilmu yang masuk kategori ilmu- ilmu praktis (al-‘ulum al-'amaliyyah), yaitu etika, ilmu praktis untuk individu, ekonomi, untuk keluarga dan terakhir politik, ilmu untuk bermasyarakat. Ilmu- ilmu ini perlu dipelajari dengan baik dan seksama, hingga mendapat pemahaman yang sempurna, sehingga bisa menjadi pelita yang akan menerangi kehidupannya di dunia ini. Bukankah Nabi kita bersabda “al-'ilmu Nurun” ilmu adalah cahaya. 

Prof Dr Mulyadhi Kartanegara adalah pakar filsafat Islam

(sumber: Facebook Mulyadhi Kartanegara /15-02-2016)

Mon, 15 Feb 2016 @17:51

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved