AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Kewajiban Manusia terhadap Dirinya (2) [by Mulyadhi Kartanegara]

image

 

Bagian Kelima

Kewajban ketiga atau terakhir pada diri manusia adalah membangun moral diri yang baik atau yang biasa disebut dalam ilmu pendidikan “ta'dib”.

Dalam Islam, ilmu tidak dituntut untuk ilmu, tetapi untuk diamalkan atau diaplikasikan dalam hidup kita sehari-hari, sehingga terbina sebuah akhlak yang mulia (al-Akhlaq al-Karimah).

Dalam etos Islam, ilmu penting sebagai syarat diterimanya amal, tapi amal juga penting, karena tanpa amal, ilmu seperti pohon yang tak berbuah.

Dalam tradisi dan filosof Islam, ilmu akhlak (etika) termasuk ke dalam ilmu-ilmu praktis, yang tujuannya bukan lagi untuk “mengetahui sesuatu sebagaimana adanya”, tetapi ilmu yang membimbing bagaimana menjadi pribadi seseorang itu baik. Sasaran ilu praktis bukan sesuatu sebagaimana dalam ilmu teoritis, tetapi adalah “tindakan” atau “amal (action) seseorang.

Dalam kewajiban ketiga yaitu ta'dib, sasaran yang dituju adalah bagaimana membentuk atau membina akhlak yang baik bagi diri sendiri. Dan untuk itu, kita perlukan sebuah ilmu yang disebut ilmu akhlaq atau etika.

Menurut Miskawayh (w.1010) dalam bukunya Tahdib al-Akhlaq (Perbaikan Moral), tujuan ilmu akhlaq adalah mencapai kebahagiaan (tahshil al-sa'adah), caranya adalah dengan memelihara kesehatan mental dan mengobatinya apabila sakit. Apabila jiwa kita sehat, maka bahagialah seseorang, tapi kalau sakit maka ia akan sengasara. Orang yang berakhlaq mulya adalah orang yang sehat secara mental, karena berarti ia terbebas dari segala macam penyakit, sedangkan orang yang berakhlak buruk artinya yang mengidap penyakit dalam dirinya. Maka, sebagaimana orang yang tubuhnya sehat akan merasa lega dan tenang, maka demikian juga dengan mereka yang mentalnya sehat dan baik, maka ia akan merasa kebahagiaan. Dan sebagaimana kalau tubuh kita sakit, katakanlah sariawan, kita tidak bisa menikmati makanan, maka demikian juga manusia yang mentalnya sakit, seperti orang iri, akan terhalang untuk merasakan kebahagiaan.

Oleh karena itu, langkah pentingnya kita untuk berakhlaq baik, yang berarti sehat dan terhindar dari berbagai macam penyakit, karena hanya dengan itulah manusia akan merasakan dalam hidupnya. 

Bagian Keenam

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana membina akhlaq yang baik itu? Pada prinsipnya, ciri orang yang berakhlaq mulia, menurut para filosof Muslim adalah yang tindakan atau tingkah lakunya moderat (wasatan), atau yang dikenal dengan jalan tengah (the Golden Means). Tentu saja, ini cocok dengan ajaran fillsafat dan juga ajaran Islam, yang menyatakan “sebaik- baiknya perkara adalah yang di tengah-tengah”.

Semua tindakan manusia, menurut falasifa, berasal dari nafsu yang manusia miliki, yaitu nafsu syahwat (al-Nafs al-Shahwat), nafsu amarah (al-Nafs al- Ghodbiyyah) dan nafsu rasional (al-Nafs al-Natqiyyah). Kesan kita selama ini, nafsu selalu dikonotasikan negatif. Padahal, nafsu akan menjadi negatif, dan menjadi sumber akhlaq yang buruk, hanya apabila berlebih-berlebihan. Tapi, kalau nafsu-nafsu ini dikendalikan dengan baik, dan yang paling penting dalam konteks kita, ia akan menjadi sumber dari segala akhlak yang terpuji (al-Akhlaq al-Karimah). Maka untuk membina akhlaq yang baik adalah dengan mengendalikan nafsu, sehingga tidak liar tetapi terkontrol dengan baik oleh akal dan hati kita.

Menurut Ikhwan al-Safa’, banyak faktor yang mempengaruhi akhlak manusia, ada faktor bawaan atau alami, dimana seseorang, begitu lahir sudah mempunyai bakar sabar, tawadu' dll, sehingga untuk sifat-sifat ini, ia akan sangat mudah dikembangkan. Ada juga faktor lingkungan geografis, misalnya masyarakat pegunungan dan pesisir pantai mungkin akan memiliki perilaku yang berbeda, ada juga faktor pergaulan, seperti dengan siapa seseorang bergaul. Ada juga karena pengaruh ajaran agama yang diterimanya. Maka tugas kita adalah mencari tahu dimanakah kekuatan moral kita dan dimana pula yang masih lemah.

Untuk nilai moral yang masih lemah, kita perlu melatih diri kita, supaya tercapai level yang diharapkan. Misalnya, kalau anda masih termasuk golongan orang yang lemah mentalnya, maka menjalin perlu ikut latihan militer, atau menunggang kuda, mendaki gunung dsb. Supaya terbina mental yang berani. Kalau anda masih merasa diri anda pelit, maka perlu dididik pemurah dengan latihan menderma dan lain- lain cara untuk mencapai level yang ideal, yakni yang berada di tengah-tengah. 

Bagian Ketujuh

Marilah kita lihat secara lebih teknis, tentang apa yang kita bicarakan. Menurut Mishkawayh dan juga Plato, masing- masing nafsu memiliki dua ujung yang ekstrim, dan satu titik di tengahnya. Ambillah, misalnya, Nafs syahwat, di sisi kirinya adalah “dingin”, tetapi di sisi kanannya “hiperseksi”, sedangkan di sisi tengahnya adalah 'iffah' (temprament).

Nafs Amarah atau tepatnya Ghadabiyyah, di sisi kirinya adalah (jubn), tetapi di sisi ekstrim kanannya adalah sembrono (tahawwur), sedangkan di titik tengahnya adalah berani (shuja'ah). Nafsu Ghadbiyyah ini memiliki turunan, yang di sisi terjauh kirinya adalah “kikir” (bakhil) dan di ujung paling jauh kanannya adalah “boros” (tazbir), dan di sisi tengahnya adalah “dermawan” (shakha'). Sedangakan dari Nafsu Rasional (al-Nafs al-Natqiyyah) terdapat di sisi kirinya “ketidak tahuan atau ignorance” (Jahl), dan di sisi kanannya “cerdik” (hilah), sedangkan di tengah- tengahnya bijaksana “hikmah”. Apabila sifat-sifat moderat ini tercapai maka akan tercapai sifat paling utama yaitu keadilan ('adalah). Namun, kalau belum berada di tengah-tengah, maka tugas kitta adalah melatih diri sedemikian rupa, supaya titik tengah (wasath) ini tercapai.

Sifat-sifat atau karakter yang sudah berada di tengah-tengah ini disebut keutamaan-keutamaan (al-fada'il) (252) sedangkan yang masih berada pada garis ekstrim disebut sifat- sifat jahat (al-Radza'il). Tujuan pendidikan akhlak adalah memper-tahankan al-fada'il dan mengurangi atau kalau mampu menghilangkan Radza'il. Dengan begitu, maka akhlak kita menjadi baik, dan dengan baiknya akhlaq kita, jiwa akan menjadi sehat, dan denag sehatnya jiwa, maka ia akan bahagia, sehingga tercapailah target etika, yaitu meraih kebahagiaan (tahsil al-sa'adah).

Prof Dr Mulyadhi Kartanegara adalah pakar filsafat Islam

(sumber: Facebook Mulyadhi Kartanegara /15-02-2016)

 

Mon, 15 Feb 2016 @17:57

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved