BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Teori Penciptaan (by Mulyadhi Kartanegara)

image

Satu

 Pada umumnya kita beranggapan bahwa alam itu "telah" diciptakan Allah pada suatu masa silam. Kata "telah" menunjukkan bahwa penciptaan sudah terjadi, sudah selesai sekali untuk semuanya (once for all).

Barang kali, juga kita telah membayangkan bahwa pada masa penciptaannya, alam sudah seperti yang kita lihat hari ini. Bumi, Tumbuhan, Hewan, bahkan manusia memang sudah begini adanya. Tetapi kalau kita pelajari bukti-bukti ilmiah dan historis, ternyata kita sadar bahwa telah terjadi peristiwa-peristiwa besar yang sepektakuler yang menandai fase-fase perkembangan alam ini. Tapi ini tentunya memberi keinsafan pada diri yang berfikir bahwa ternyata telah terjadi peristiwa-peristiwa baru yang tidak ada pada awal masa penciptaannya.

Apakah ini berarti bahwa penciptaan ini terjadi berulangkali? Kalau tidak terjadi berulangkali atau berterusan (continuous) tak terjadi untuk selamanya (once for all) bagaimana menjelaskan kenyataan bahwa dialam ini sering terjadi peristiwa-peristiwa yang tidak ada sebelumnya dan baru muncul belakangan jauh setelah alam dicipta pada masa yang jauh?

Dua
Di dunia Islam pertanyaan ini dijawab oleh seorang tokoh Mu’tazilah yang bernama al-Nazhzham (w. 845) melalui teori penciptaan yang disebut kumun atau teori “Latensi”. Teori ini mengatakan bahwa alami ini dicipta sekali untuk selamanya atau untuk semuanya. Jadi, menurutnya tidak ada penciptaan ulang atau penambahan penciptaan ini. Tapi bagaimana ia menjawab pertanyaan di atas, yakni bagaimana teorinya itu menjelaskan kejadian-kejadian baru yang tidak pernah ada sebelumnya, seperti kemunculan manusia di muka bumi yang sebelumnya memanglah tidak ada?

Sebagai jawaban terhadap pertanyaan ini, al-Nazhzham menjelaskan bahwa semua yang ada di dunia ini, baik yang pada masa lampau, masa kini dan masa yang akan datang, semua telah dicipta Allah sekaligus pada penciptaan pertama.

Tetapi mereka disimpan dalam persembunyaian atau dengan kata lain disembunyikan di “belakang layar” tak ubahnya seperti pelakon “drama” yang sudah disiapkan sejak awal, sekalipun masa mereka keluar di panggung alam berbeda sejalan dengan rancangan sang pencipta. Kenyataan bahwa makhluk-makhluk yang telah diciptakan ini disembunyikan inilah yang dimaksud dengan teori Kumun atau latensi. Kumun artinya tersembunyi sebagaimana juga kata “Latensi” yang menunjukkan keberadaanya secara inheren dalam ciptaan.

Pemunculan dalam periode-periode tidaklah menandakan sebuah penciptaan baru, melainkan “dikeluarkannya” benda-benda atau makhluk-makhluk tersebeut dari persembunyiannya, sesuai dengan rencana Tuhan. Maka diatur-Nyalah, misalnya, batu-batuan muncul pertama, kemudian tumbuh-tumbuhan, kemudian hewan dan manusia sebagai pendatang paling baru dibanding dengan makhluk-makhluk yang ada sebelumnya.

Kebijaksanaan Tuhanlah yang menentukan makhluk ini harus dikeluarkan dari tempat persembunyiannya. Bukanlah Allah menjelaskan di dalam al-Qur’an bahwa “Allahlah Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi dalam 6 hari, kemudian bertengger di sinngga sana-Nya.”

Jadi betul, menurut mereka penciptaan langit dan bumi itu selesai, pada saat itu. Hanya saja tidak semua dikeluarkan pada waktu yang sama, melainkan dialur sesuai dengan prioritasnya.

Tiga
Kontras dengan teori di atas adalah apa yang boleh kita sebut Teori Penciptaan Berterusan atau Berkelanjutan. Teori ini mengatakan Bahwa penciptaan tidak berhenti pada penciptaan pertama, tetapi berterusan sehingga saat ini, bahkan dimasa yang akan datang.

Munculnya makhluk-makhuk baru, misalnya tumbuhan setalah benda-benda mineral, hewan setelah tumbuhan, dan terutama manusia secara baru dalam tataran waktu, memerlukan penjelasan yang memadai, yang tidak bisa dijelaskan dengan gamblang dalam teori penciptaan once for all.

Dalam khazanah pemikiran Isalm setidaknya ada dua teori yang mengindikasikan adanya pencitptaan Berterusan: (1) Teori atom Asy’ari atau yang bisa disebut “Occasiomalisme,” dan (2) Teori perkembangan alam atau “Evolusi”.

Marilah kita mulai dengan teori Atom (116) Asy’ariyah atau Occasionalisme. Menurut teori ini, alam semesta terdiri dari atom-atom, tapi atom-atom ini hanyalah bertahan satu dua saat (moment) saja.

Untuk memepertahankan keberadaanya maka perlu diciptakan oleh Tuhan atom-atom baru, yang pada gilirannya juga akan bertahan hanya satu dua saat atau detik saja, sehingga diperlukan penciptaan yang baru setiap saat atom-atom ini berakhir.

Jadi jelas sudah, bahwa alam ini perlu diperbaharui secara berkesinambungan sepanjang zaman. Untuk menopang teorinya, mereka mengutip ayat al-Qur’an surat al-Rahman, yang berbunyi: (كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنِ) yang artinya: setiap hari Dia selalu dalam kesibukan.

Empat
Penciptaan yang terjadi terus menerus ini dilakukan secara langsung tanpa pengantara sehingga sang Pencipta dipandang sebagai sebab langsung dari penciptaan alam yang berterusan ini, yang tentu saja berlawanan dengan teori kamu Mu’tazilah yang memandang Tuhan bukan sebagai sebab langsung, melainkan sebab tak langsung, tetapi melalui sebeb tak langsung yang mereka sebut hukum-hukum alam, atau “Sunnat Allah”.

Teori atom atau Occasionalisme ini telah dikembangkan untuk kepentingan ajaran teologis mereka, terutama untuk mengembalikan kekusasaan Allah yang telah diinginkan oleh kamu Mu’tazilah yang memisahkan Tuhan, sebagai sang pencipta dari alam melalui perantara sebab sekunder yaitu hukum alam, kepada alam, dan untuk membuktikan secara rasional tentang mu’jizat yang ditolak oleh Mu’jizat.

Tokoh utama aliran ini adalah al-Baqillani dan al-Ghazali. Dengan menggunakan teori atom ini sebagai landasan teoritisnya, Imam al-Ghazali mencoba menjelaskan tentang mukjizat Nabi Musa yang bisa mengubah tongkat menjadi ular dengan rasional.

Berubahnya tongkat menjadi ular terjadi ketika atom-atom tongkat yang musnat digantikan secara langsung oleh Allah dengan atom-atom ular, sehingga jadilah tongkat itu menjadi ular.

Demikian juga ketika Tuhan ingin mengubah kembali ular tersebut menjadi tongkat lagi, maka Tuhan tinggal mengganti atom-atom ular yang musnat sesaat tersebut dengan atom-atom tongkat yang sebelumnya, maka melalui tindakan tersebut berubahlah ular tersebut menjadi tongkat kembali.

Lima
Sebenarnya kalau kita perhatikan teori-teori biologis modern, akan tampak kebenaran tertentu dari teori Okkasionalisme Asy’ari ini. Ambilah misal teori sel, yang membentuk tubuh manusia. Ternyata sel itu juga ada umur yang berbeda-beda, ada yang 2-3 hari, seperti sel usus, ada yang 10-14 hari seperti sel lidah, ada yang sampai 150 hari, seperti sel hati.

Nah, sekalipun tidak sedrastis atom yang menurut teori atom Asy’ari berumur satu dua saat, tapi tetap saja bahwa, karena tubuh manusia mengandung milyaran sel, maka pratis setiap detik ada sel yang mesti dan perlu diciptakan kembali atau diregenerasi setiap detik pula. Dengan demikian, memanglah terjadi penciptaan berulang atau bersinambungan pada makhluk-makhluk Tuhan, yang mendukung teori penciptaan berterusan (Continuous Creation).

Contoh lain yang menarik dari teori penciptaan berterusan ini terdapat pada sidik jari manusia. Kita sudah maklum bahwa Tuhan telah menciptakan milyaran sidik jari yang berbeda pada setiap orang. Sebagai manusia, tentu kita akan kehabisan akal untuk menemukan pola sidik jari manalagi untuk dipersiapkan bagi bayi yang mungkin setiap menit, kalau tidak detik, lahir kedunia, bidang jari yang relatif kecil ini telah dibagi kedalam puluhan milyar pola dengan ukuran dan pola yang berbeda-beda.

Nah pada saat kita binggung memikirkan hal tersebut, mungkin telah lahir puluhan penciptaan baru pada setiap detiknya di alam ini, yang lagi-lagi memperkuat teori Atom Asy’ari ini.

Bedanya dengan teori biologis modern adalah kalau biologi modern melimpahkan tanggung jawab penciptaan baru (regenerasi) ini pada hukum alam, kaum Asy’ari melimpahkannya kepada Allah s.w.t. sebagai sebab dan pencipta langsung dari segala apapun yang ada di alam semesta.

Enam
Marilah sekarang kita beralih pada teori evolusi yang didukung dalam tradisi ilmiah Islam oleh beberapa filosof, seperti Miskawayh, Ikhwan al-Shafa’, dan Mulla Shadra dan beberapa kaum sufi, khususnya Jalal al-Din Rumi.

Berbeda dengan kaum kreasionis, yang menggambarkan bahwa makhluk ini tercipta seperti sekarang tanpa adanya perubahan substansial, kaum evolusionis berpandangan bahwa alam ini berkembang atau dicipta melalui sebuah proses yang panjang yang membutuhkan waktu bermilyar-milyar tahun.

Menurut pandangan ini alam berevolusi dari bentuk yang sederhana, menuju bentuk yang semakin sempurna dan canggih. Sepanjang perjalanan dan perlahan-lahan alam ini selalu terdapat unsur baru bahkan bentuk baru yang ditambahkan pada  bentuk sebelumnya, sehinga dengan begitu terjadilah perkembangan, yang senantiasa baru, pada alam ini.

Sebagai contoh ketika evolusi mencapai titik jenuhnya pada dunia mineral, terjadi perubahan substansial pada alam sehingga muncullah dunia tumbuhan, dengan kualitas-kualitas atau unsur-unsur baru, seperti kecakapan nutritif pertumbuhan dan kecakapan reproduktif.

Demikian juga, ketika gerak revolusi mencapai titik jenuhnya pada dunia tumbuhan, maka terjadi perubahan substansial yang lain, yang bertanggung jawab atas munculnya hewan-hewan, dengan tumbuhan kualitas atau kecakapan baru yang tidak dimiliki oleh benda-benda mineral maupun tumbuh-tumbuhan. Unsur yang tercipta secara baru itu adalah kemampuan hewan untuk mengindera dan kemampuan dan kemampuan mereka untuk bergerak dalam arti meninggalkan tempat.

Selanjutnya, ketika gerak evolusi ini menemukan titik jenuhnya pada dunia hewan, maka terjadilah perubahan substansial yang menyebabkan munculnya jenis makhluk baru yang kita sebut manusia, dengan kualitas dan kecakapan baru, yaitu akal, yang tidak dimiliki baik oleh substansi mineral, tumbuh-tumbuhan maupun hewan-hewan, betapapun miripnya mereka dengan  manusia dari sudut pandang fisiologis.

Nah dari uraian panjang tentang perkembangan alam ini dari tingkat yang rendah seperti benda mineral, hingga tingkat yang paling tinggi, yaitu manusia, kita dapat simpulkan bahwa sebenarnyalah telah terjadi penciptaan berterusan (continuous creation) pada alam ini.

Demikianlah seluruh penjelasan tentang teori penciptaan berterusan yang bisa saya sajikan dalam sub-fasl ini.

(Diambil dari facebook: Mulyadhi Kartanegara, 25/02/2016)


Sat, 27 Feb 2016 @12:15

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved