Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Teori Penciptaan Lewat Pelimpahan [by Mulyadhi Kartanegara]

image

Kini tiba saatnya kita untuk membincangkan teori penciptaan lewat pelimpahan (faydh atau emanasi), dalam teori ini penciptaan dilakukan lewat pancaran atau pelimpahan (al-faydh) dari Tuhan kepada serangkaian akal-akal hingga ia mencapai penciptaan bumi ini, yang dipahami saat itu sebagai wakil dari alam fisik, alam materi.

Dari prespektif teori ini, dunia dicipta dari jarak jauh oleh Tuhan, yaitu melalui rangkaian dari sepuluh akal yang mengentarai kita dengan Tuhan. Sebelum kita lanjut membicarakan teori itu secara rinci, baiknya kita bicarakan dalam prinsip dasarnya yang terkenal dari para filosof yang menggagas teori emnasi adalah al-Farabi dan Ibn Sina.

Bagi mereka Tuhan adalah “Akal” dan sebagai akal maka ia senantiasa berfikir. Dan selalu setiap aktifitas berfikir akan menghasilkan sesuatu. Nah, sesuatu yang di hasilkan oleh aktivitas berfikir Tuhan, adalah apa yang bisa kita sebut akal. Inilah yang disebut akal 1 sebagai ciptaan Tuhan.

Nah, sesuatu yang di hasilkan oleh aktivitas berfikir Tuhan, adalah apa yang bisa kita sebut akal. Inilah yang disebut akal 1 sebagai ciptaan Tuhan, maka muncullah akal ketiga, dari dirinya sebagai wujud actual muncul jiwa langit pertama. Demikian seterusnya, akal ketiga berfikir tentang Tuhan dan dirinya sebagai wujud aktual dan potensial, maka muncullah akal Keempat, Jiwa Langit Kedua, dan Tubuh Bintang-bintang, tentunya pastilah berfikir. 

Ada pun objek pemikirannya adalah sama dengan akal pertama, yaitu Tuhan, dirinya sebagai wujud potensial (mumkin al-wujūd), dan dirinya sebagai wujud aktual karena yang lain. Dari aktivitas memikirkan Tuhan, maka muncullah akal ketiga, dari dirinya sebagai wujud aktual muncul jiwa langit pertama. Demikian seterusnya, akal ketiga berfikir tentang Tuhan dan dirinya sebagai wujud aktual dan potensial, maka muncullah akal Keempat, Jiwa Langit Kedua, dan Tubuh Bintang-bintang potensial (mumkin al-wujūd), dan dirinya sebagai wujud aktual karena yang lain. Dari aktivitas memikirkan Tuhan, maka muncullah akal ketiga, dari dirinya sebagai wujud actual muncul jiwa langit pertama.

Demikian seterusnya, akal ketiga berfikir tentang Tuhan dan dirinya sebagai wujud aktual dan potensial, maka muncullah akal Keempat, Jiwa Langit Kedua, dan Tubuh Bintang-bintang Tetap, dan Seterusnya seperti bisa dilihat bagai teori emansi ibn Sina, hingga rangkaian akal ini mencapai nomor 10, yang biasanya disebut malaikat Jibril di langit kesembilan, yang darinya muncullah alam dunia yang kita hidup di dalamnya.

Dari apa yang telah digambarkan di atas, maka tahulah kita tentang toeri penciptaan melalui emanasi dimana dilukiskan bagaimana dari manusia (dunia fisik) di mana kita tinggal sekarang ini adalah hasil dari pancaran atau pelimpahan Tuhan berkat aktivitas berfikirnya, melalui rangkaian akal yang berjumlah 10 dan dunia-dunia yang dihasilkan, yakni jiwa dan tubuh Langit Pertama, jiwa dan tubuh Bintang-bintang Tetap, jiwa dan tubuh Saturnus (Zuhal), jiwa dan tubuh Jupiter (Musytari), jiwa dan tubuh Mars (Marikh), jiwa dan tubuh Matahari (Syams), jiwa dan tubuh Venus (Zuhara), jiwa dan tubuh Merkuri ('Aththarad), jiwa dan tubuh Bulan, (Qamar), jiwa dan tubuh Bumi atau Dunia Bawah Bulan (Sub-lunar World) yang bersifat fana tempat kita berada.

Ada beberapa catatan yang perlu diketahui dan dijelaskan lebih rinci dari teori ini. Pertama: Mengapa para filosof Muslim, terutama al-Farabi, mengembangkan teori evolusi di dunia filsafat Islam? Dikatakan bahwa teori ini dipandang mampu mampu menjelaskan bagaimana dunia yang beraneka ini berasal atau diciptakan oleh Tuhan Yang Esa, sedangkan ada diktum filosofis yang mengatakan bahwa dari Yang Esa atau Satu haruslah muncul yang satu juga.

Menurut al-Farabi keterangan ini tidak didapatkan dari buku metafisika aristoteles, tetatp ditemukannya dalam karya Plotinus pendiri aliran Neo-Platonisme. Diharapkan bahwa dengan teori emanasi atau limpahan ini kita jadi tahu bagaimana alam ini diciptakan oleh Tuhan, dalam perspektif filsafat. Kedua: Teori ini menunjukkan dengan jelas bahwa alam raya ini tidak sunyi dari makhluk-makhluk spiritual seperti akal, jiwa yang disamakan dengan malaikat, disamping tubuh dari benda-benda langit, seperti bintang tetap, langit dan planet-planet, dan juga matahari dan bulan. Ini penting dikemukakan di sini, mengingat pandangan dunia modern telah menyingkirkan unsur-unsur atau komponen-komponen spiritual dari kosmologi mereka dan konsentrasi hanya pada dunia fisik atau empiris saja.

Dengan ini diharapkan kita sebagai generasi intelektual Muslim mampu untuk mengembalikan Tuhan dan makhluk-mahkluk spiritual ke dalam kosmologi yang hendak kita bangun apapun model atau bentuknya. Yang jelas komponen spiritual ini merupakan unsur yang penting, yang tidak boleh ditinggalkan dalam teori kosmologis atau pandangan dunia Islam manapun. Yang Ketiga atau terakhir pengertian dari akal yang difahami oleh para filosof-filosof Muslim dalam teori-teori kosmologis mereka terutama dalam teori emanasi ini.

Berbeda dengan kita yang sering, berkat pengarus sekularisme modern, menyamakan akal dengan otak, atau sesuatu yang tergantung pada otak, filosof muslim memandang akal sebagai sesuatu yang terlepas dari materi sehingga disebut مجردات, artinya bersifat imaterial. Akal maupun jiwa yang sering mereka identikkan sebagai malaikat adalah makhluk hidup rohani, artinya tidak membutuhkan unsur materi untuk melakukan akivitas mereka. Dengan atau tanpa tubuh akal-akal (‘uqul) ini mampu menjalankan aktivitasnya, misalnya untuk berfikir, hidup dan bertindak. Akal dan jiwa manusia, misalnya, ia dapat hidup baik di dalam maupun diluar tubuh, misalnya ketika kita telah meninggal dunia, tubuh saja yang hancur dalam oristiwa kematian, bukan akal atau jiwa kita, dan akan terus hidup di dunia akhirat untuk mempertanggungjawabkan semua amal perbuatan selama hidup di dunia ini.

Sebagai penutup bagian ini, dapat kita katakana bahwa dengan teori emanasi ini kita memperoleh sebuah teori ciptaan, disamping teori-teori yang lain, yang menggambarkan teori penciptaan dimana Tuhan di langit yang jauh telah menciptakan alam raya ini melalui pancaran (emanasi) yang dikatakan melimpah (فاض-يفيض) dari Tuhan Sebagai akal utama, dan juga wujud pertama yang wajib ada, tak terbayang ketiadaan-Nya, yang dalam kaitannya dengan alam, kita sebut Tuhan.

Satu lagi teori penciptaan yang saya perkenalkan di sini adalah apa yang mungkin bisa disebut teori penciptaan sebagai realisasi diri. Berbeda dengan teori emanasi yang baru saja kita diskusikan, yang memandang bahwa Tuhan menciptakan alam dari jarak jauh dan memandang alam sebagai pancaran dari-Nya, teori realisasi-diri atau ada juga yang menyebutnya pengembangan-diri (Self-unfolding), memandang Tuhan dekat sekali, bahkan menjadi fondasi utama, di jantung ciptaan-Nya, jadi bagi para pendukungnya alam adalah manifestasi atau realisasi-diri dari Tuhan sendiri, di mana dia berada bukan terpisah, melainkan dipusat ciptaan tersendiri. Jadi alam beserta isinya tak lain dari pengungkapan, pengejwantahan, bukan hanya dari sifat-sifatnya, tapi dari diri (Dzat)-Nya itu sendiri. Salah seorang pendukungnya adalah sufi terkenal penggagas doktrin wahdat al-wujud, Muhy al-Dīn Ibn ‘Arabī.

Seperti dilihat dari bagan di atas. Realisasi-diri Tuhan yang pertama adalah Akal Pertama, sebagai makhluk pertamaan ciptaan dan pengembangan-diri-Nya. Disusul kemudian oleh jiwa universal (al-nafs al-kulliyyah), yang menjadi jiwa umum bagi alam semesta, yang dibedakan dengan jiwa particular (al-nafs al-juz’iyyah) yang menjadi jiwa dari benda-benda partikular, seperti jiwa-jiwa tumbuhan, hewan dan manusia. Jiwa universal kemudian disusun oleh Tabi’at universal, atau materi awal (al-hayūla), bentuk (Shūrah), Mahkota (‘Arsy) singgasana (Kursi), dan bola dunia (Athlas).

Realisasi Tuhan tidak berhenti disitu, tapi berlanjut pada lingkaran bintang-bintang tetap (al-kawālib al-tsābitah), kemudian empat unsur, yaitu tanah, air, udara, api, yang biasa juga disebut “pilar yang empat” (al-arkān al-‘arba‘ah), kemudian tujuh planet, seperti yang tercermin pada teori emanasi, antara lain saturnus, urusanu, yupiter, mars, matahari, venus dan merkuri, malaikat dan jin. Realisasi-diri Tuhan terus berlanjut pada dunia mineral, tumbuh-tumbuhan dan hewan, dan yang terakhir adalah manusia.

Berbeda dengan teori-teori lainnya, teori realisasi-diri atau self-unfolding menempatkan subjeknya, yaitu Tuhan, dalam perkembangan alam itu sendiri sebagai “bagian” utama dari penciptaan itu sendiri, jadi Tuhan sendiri yang mengejewantahkan pada berbagai pola berbagai bagian dari alam, tidak berada diluar, sebagai agen eksternal tetapi justru menjadi jantung dari perkembangan alam sendiri. Kalau kita perhatikan bagan dari teori penciptaan ini, maka nampaklah perkembangan itu berevolusi dari tingkat yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi, dan seperti akan kita bahas lebih lanjut dalam teori evolusi nanti pada ujungnya akan tercapai pada diri manusia, yang sebagai mikrokosmos, mampu merefleksikan semua sifat-sifat Allah dengan lengkap, manakala manusia mencapai tingkat idealnya dalam diri insan kamil.

Pertanyaannya adalah apakah Tuhan sama dengan alam yang kita saksikan? Jawabnya adalah tidak. Meskipun makhluk-makhluk yang ada di dunia ini adalah manifestawi atau pengejewantahan Tuhan, tetapi hubungan mereka dengan Tuhan adalah seperti hubungan “Fenomena” dengan “Noumena”. Yang kita saksikan adalah fenomena, atau penampakkan Tuhan, tetapi realitas atau “Noumena” Tuhan sendiri tersembunyi, jadi bukan terpisah dengan fenomena. Hakikat terletak di jantung fenomena, namun bukan fenomina itu sendiri. Atau kalau kita mau menggunakan istilah yang digunakan maulana Jalāl al-Dīn Rumi, yang Nampak pada kita ini adalah bentuk (shurah), sedangkan di balik bentuk terletak hakikat yang beliau sebut ma’na-arti atau makna. Maulana mengatakan dunia fenomena, atau alam fisik ini tak lain daripada Tuhan dalam penyamaran (God in disguise). Ia adalah bentuk, sedang realitas atau maknanya tersembunyi di balik (sehingga Tuhan disebut al-Bāthin) fenomena alam lahiriah, yang oleh al-Qur’ān disebut sebagai aspek lahiriah Tuhan yang menyebut diri-Nya al-Zhahir, yakni yang mengejewantah atau manifes.

Barangkali teori “self-ealisation” ini berguna sebagai cara untuk memahami ungkapan al-Qur’ān Dia Yang Awal, Dia Yang Akhir, lebih lebih lagi dia yang Lahir dan Dia Yang Batin, dengan kata lain ‘yang Nampak” dan “yang Tersembunyi.” 

Bagi Ibn ‘Arabi teori ini mungkin cocok dengan konsep wahdah al-wujud-nya di mana penampakan yang berbeda pada alam tidaklah dipandang ada secara hakiki, tapi hanyalah semacam dalam baying-bayang terlintas yang tidak mungkin “sama” dengan realitas itu sendiri, karena mereka tidak membentuk wujud yang tersendiri, berhadap-hadapan dengan wujud Tuhan, tetapi hanyalah baying semu daripada wujud sejati seperti yang sama dan satu. Wujud yang satu tidaklah akan bertentang dengan apapun, karena ke-Esaanya.

(Diambil dari Facebook: Mulyadhi Kartanegara, 28-02-2016)

Sun, 28 Feb 2016 @08:55

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved