Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Teori Okasionalis dan Ketergantungan kepada Tuhan (by Mulyadhi Kartanegara)

image

Teori ini sebenarnya telah didiskusikan ketika yang lalu terkait dengan teori penciptaan dari perspektif kesinambungan atau keterputusannya. Dalam bagian ini, teori atom Asy'ari (okasionalisme) akan diposisikan sebagai teori yang menunjukkan ketergantungan yang sangat besar dari alam pada Tuhan. Seperti mungkin telah kita ketahui dari yang lalu, teori Okasionalisme ini digagas oleh Imam Asy'ari (w. 925 M.) pendiri aliran Ahli Sunnah wal-jamaah (Sunni) sehingga teori ini disebut juga teori Atom Asyari.

Sebenarnya, perumus teori ini, yang lebih sistematis adalah al-Baqillanı (w. 981 M.), seorang teolog Asy'ariyyah yang sangat terkenal dan berpengaruh dan pengaruhnya sangat terasa dalam tulisa-tulisan Imam al-Gazali (w. 1111 M.).

Sebelum kita lanjut membahas teori okasionalis atau atom Asy'ari ini dan signifikansinya, saya merasa perlu untuk menyinggung kenapa pendiri teori okasionalisme ini memandang perlu mengemukakan teori ini dan apa motivasinya.

Abu Hasan al-Asy'ari, bukanlah terutama seorang ilmuan, tetapi seorang teolog besar dan pendiri aliran Kalam Asy'ariyyah atau Ahli Sunnah wal-Jama'ah.

Diceriterakan bahwa beliau pernah menjadi seorang murid dari salah seorang tokoh Mu'tazilah kaum Rasionalis Islam. Aliran Mu'tazilah sangat terpengaruh oleh ide-ide filosofis Yunani. Mu'tazilah, dalam literatur kalam adalah aliran yang sangat mempercayai keberadaan dan peran hukum alam yang dipahami sebagai "Sunnatullah" yang fixed dan yang secara deterministik mengatur jalannya alam semesta. Begitu fixed-nya hukum alam ini, sehingga kata Mu'tazilah, bahkan Tuhan saja tidak bisa mengubahnya.

Setelah Imam Asy'ari keluar dari Mu'tazilah dan mendirikan alirannya sendiri, yang dinisbatkan kepada namanya, Asy'riyyah, ia merasa bahwa pendirian Mu'tazilah ini terlalu mengesampingkan peranan dan kekuasaan Tuhan dalam alam. Betapa tidak, Tuhan dipandang oleh mereka tidak bisa mengubah hukum alam yang Dia sendiri ciptakan!

Dengan motivasi teologis yang kuat untuk menarik kembali Tuhan lebih dekat dengan alam, maka Asy'ari mencoba mencari teori ilmiah atau filosofis untuk mendukung pendirian teologisnya melawan posisi kaum Mu'tazilah.

Al-Asy'ari, didukung oleh para pengikutnya yang setia, khususnya al-Baqillani dan Imam al-Gazali, mencoba menempatkan Tuhan dan kekuasaan-Nya sangat dekat dan langsung dengan alam, dengan cara memotong perantara atau sebab-sebab sekunder apa pun yang mengantarai Tuhan dengan alam. Inilah yang melatarbelakangi pendiri aliran okasionalisme ini mengadopsi teori atom, yang menurut Majid Fakhry, tidak diambil dari sumber Yunani, tetapi justru dari teori Atom India.

Dengan teori ini al-Asy'ari kemudian berhasil bukan hanya mendekatkan Tuhan pada alam, tetapi juga bahkan membuat alam betul-betul tergantung pada-Nya.

Ajaran pokok okasionalisme adalah bahwa alam semesta ini terdiri dari satuan yang sangat kecil, bahkan tidak bisa dibagi lagi, yaitu atom. Namun menurut teori ini atom-atom ini tidak bertahan kecuali satu dua saat. Ini artinya perlu dicipta atom-atom baru untuk menggantikan atom-atom yang sebelumnya sudah musnah dan untuk mempertahankan eksistensi alam. Kalau tidak, maka alam akan segera musnah.

Oleh karena itu, Tuhan mesti menciptakan atom-atom baru setiap kali atom-atom lama dari benda tertentu musnah. Kalau tidak, maka dunia akan kehilangan pijakan wujudnya. Dalam pandangan teori ini, untuk menghancurkan dunia ini cukup bagi Tuhan untuk tidak menciptakan atom-atom baru. Dari sini nampak sekali berapa alam sangat-sangat tergantung keberadaanya pada Tuhan, sang Pencipta.

Teori ini pernah digunakan oleh Abu Hamid al-Gazali, dalam bukunya Tahafut al-Falasifah untuk menjelaskan bagaimana terjadinya mukjizat Nabi Musa, ketika tongkatnya berubah menjadi ular.

Berlandaskan pada teori Atom Asy'ari, al-Gazali menjelaskan bahwa karena atom dari segala sesuatu, termasuk tongkat Nabi Musa, bertahan hanya satu dua saat saja, maka baqaimana nasib atau keadaan benda tersebut berikutnya tergantung pada jenis atom apa yang Tuhan ciptakan untuk menggantikannya. Pada umumnya atom yang Dia cipta adalah dari jenis yang sama, sehingga benda tersebut, yakni tongkat, dalam konteks mukjizat Nabi Musa, akan tetap menjadi tongkat.

Tetapi ketika Tuhan berkehendak mengubah tongkat itu menjadi ular besar, maka dia bisa melakukannya dengan cara mengganti atom-atom tongkat tersebut dengan atom-atom ular, sehingga secara lahiriah kita melihat tongkat tersebut berubah menjadi ular. Dan dengan mekanisme yang sama, ketika Dia ingin mengembalikan ular kepada bentuk semula yaitu tongkat, Ia ciptakan atom-atom lain, yakni atom-atom tongkat, untuk menggantikan atom-atom ular yang dalam satu dua saat akan musnah. Dengan begitu maka berubahlah ular tersebut menjadi tongkat.

Menurut al-Gazali, pada prinsipnya, Tuhan bisa mengubah apa saja, misalnya ballpoint yang saya gunakan untuk menulis ini, menjadi seekor singa, dengan mekanisme kerja yang seperti itu.

Di bagian-bagian akhir bukunya, al-Gazali menggunakan argumen dan prosedur yang sama dalam menolak realitas kausalitas. Hubungan kausalitas, atau sebab akibat ini, menurut beliau, adalah semu, artinya tidak terjadi dengan sesungguhnya. Ini karena atom yang ada ketika terjadi sebuah sebab akan sudah berganti dengan atom yang berbeda ketika berlangsungnya sebuah akibat.

Jadi, kalau begitu bagaimana hubungan sebab-akibat ini bisa terjadi? Hubungan kausalitas bisa terjadi hanya apabila atom-atom yang nenerima sebab adalah sama dengan atom-atom ang menerim akibat. Namun karena atom-atom dari sebuah benda selalu berubah dari saat ke saat, maka secara logik, hubungan sebab-akibat tidak mungkin ada dan betul-betul terjadi.

Mawlana Jalal al-Din Rumi, sebagai salah seorang pengikut Asy'ari, yang secara cukup kuat juga dipengaruhi al-Gazali, memberikan keterangan yang baru dan menarik tentang ilusinya hubungan sebab-akibat atau kausalitas. Menurut beliau, hubungan sebab-akibat hanyalah kesan indera kita tentang sebuah peristiwa dan itu disebabkan oleh cepatnya tindakan Tuhan. Seperti ketika seseorang memutar dengan cepat sepotong bara api di ujung sepotong kayu di malam hari, maka akan timbul kesan seolah-olah bara tersebut membentuk tali panjang yang berkesinambungan. Padahal kita tahu bahwa hal tersebut adalah kesan palsu atau ilusi pikiran kita saja.[]

(diambil dari facebook: Mulyadhi Kartanegara, dimuat atas izin penulisnya)


Tue, 1 Mar 2016 @13:30

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved