Rubrik
Terbaru
Telegram Misykat
image

.

YouTube Misykat TV
image

.

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

TATA CARA SHALAT

Minat beli buku klik covernya
image

 

Flash Disk OTG Kajian Islam
image

.

Facebook Misykat
image

.

BAHAN BACAAN (Buku PDF)
image

 

Jiwa itu Tanpa Kelamin [by Kholid Al-Walid]

image

Beberapa waktu lalu sebuah stasion radio mengundang seorang psikolog dan pembicaraan seputar LGBT. Menarik ketika psikolog tersebut menjelaskan bahwa seorang waria bahwa jiwanya yang perempuan terjebak dalam fisik laki-laki atau juga ada yang sebaliknya jiwa laki-laki yang terjebak pada fisik perempuan.

Sekilas saya agak terpesona mendengar keindahan retoris seorang psikolog. Akan tetapi kekeliruan mendasar psikolog tersebut karena saya yakin dia lupa, apa yang dimaksud jiwa?

Kelamin seseorang adalah hal fisik yang biasanya ditentukan melalui bagian tertentu dari tubuh. Hormonal ikut berperan dalam menentukan feminimitas dan maskulinitas perilaku pada diri seseorang, ketika hormonal laki-laki lebih dominan maka kecenderungan akan sikap maskulinitas muncul. Begitu juga sebaliknya.

Karena itu, rekayasa hormonal dapat mengubah pola perilaku diri seseorang, antara maskulinitas maupun feminimitas. Kadang pengaruh obat-obat tertentu menimbulkan efek maskulinitas atau feminimitas. Saya pernah melihat perempuan yang tumbuh kumis karena konsumsi obat tertentu.

Berbeda sekali dengan jiwa. Dalam filsafat Islam, jiwa disebut sebagai "al-Unsur al-Mujaradatun an al-Maaddah wa muttasarifatun ala al-Maaddah" (unsur non-materi yang mengendalikan materi).

Pada tingkat ini jiwa bersifat non-materi, yang pada intinya tidak berbeda satu manusia dengan manusia yang lain, baik antara laki-laki maupun perempuan. Fungsinya sama, yaitu menjadi ini personal dan menghidupkan fisik manusia. Jiwa memiliki daya-daya yang luar biasa banyaknya, baik daya yang murni non-materi atau daya yang tergabung antara Jiwa dengan Fisik. Jiwa menjadi penentu kualitas diri manusia dan menjadi sumber kehidupan fisik manusia.

Walaupun demikian, maskulinitas dan feminimitas ditentukan oleh keadaan biologis fisik manusia tersebut. Jiwa tidak berbeda dalam proses bekerjanya, baik pada laki-laki maupun perempuan. Sehingga kita bisa menyatakan bahwa jenis kelamin dan perilaku maskulinitas dan feminimitas semata karena keadaan biologis fisik, bukan keadaan yang ada pada jiwa.***

(dikirim oleh Dr Kholid Al-Walid dalam WhatsApp Group Misykat, 7 Maret 2016)

Tue, 10 Mar 2020 @10:55

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved