Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Peristiwa yang Berujung pada Wafatnya Bunda Fatimah AS (2)

image

Imam Ali telah berjanji kepada Rasul dan beralasan kepada umat serta Khalifah yang terpilih saat itu bahwa ia akan tetap berada di rumah hingga ia menyelesaikan tugas mulianya menyusun dan menghimpun Al-Quran. Beberapa sahabat seperti Zubair dan Miqdad datang mengunjungi beliau secara teratur, berkonsultasi lalu kembali kepada kaumnya.

Melihat keadaan ini, Umar berkata kepada Imam Ali, “Jika orang-orang ini berlanjut mengunjungimu akan kuperintahkan orang untuk membakar rumahmu”, (Al Munsif Ibnu Abi Syaibah, Jilid 14, hlm 267). Dalam riwayat lain Umar berkata “akan kuhancurkan rumah ini” (Al Jawab Al Hasim, Qadhi Asadabadi, Jilid 2/20 hlm 299).

Ia lalu mendatangi Abu Bakar dan bertanya apakah ia tak perlu menyuruh orang-orang yang menolak baiat itu untuk segera melakukannya. Ia berkilah bahwa semua orang sudah melakukannya kecuali satu orang itu (Imam Ali) dan keluarganya, yakni Fatimah AS (Hasan, Husain, Zainab dan Ummu Kultsum masih kecil untuk berbaiat). Ia berkata kepada Abu Bakar bahwa mereka tak akan menikmati kekuasaannya selama Ali tidak berbaiat kepadanya. Untuk itu ia meminta Abu Bakar untuk mengirim seseorang dan memohon Imam Ali untuk berbaiat.

Untuk itu Abu Bakar selanjutnya mengutus Qunfudh dan menyuruhnya berkata bahwa “Khalifah Rasulullah” memanggilnya, yang dijawab oleh Imam bahwa Rasulullah tidak pernah menunjuk seseorang  kecuali dirinya sebagai penerus beliau dan Khalifah. Dalam riwayat lain Qunfudh menemui Fatimah yang selanjutnya menyampaikan kepada Ali dan kembali kepadanya menyampaikan jawaban Ali seperti di atas. Lalu Umar menyuruhnya kembali dan menyampaikan kepada Ali bahwa “Khalifah Muslimin” memanggilnya.

Imam Ali menjawab bahwa seseorang yang diangkat sebagai Khalifah (Abu Bakar) lebih rendah kedudukannya daripada yang mengangkatnya (kaum Muslimin). Seseorang yang diangkat sebagai Khalifah tak dapat berkuasa atas kaum yang mengangkatnya. Perintahnya tak akan didengar dan tak akan dipatuhi. Mendengar itu Abu Bakar menangis untuk beberapa saat sementara Umar resah dan marah atas jawaban tersebut dan terus mendesak Abu Bakar untuk memaksakan baiat kepada Ali.

Setelah menenangkannya dan menyuruh Umar duduk, Abu Bakar kembali mengutus Qunfudh kepada Imam Ali dan menyuruhnya berkata bahwa “Amirul Muminin” memanggilnya. Imam Ali menjawab dengan jawaban yang antara lain diriwayatkan oleh Salman Al-Farisi yang intinya gelar itu justru diberikan Rasulullah kepada Imam Ali, yang bukan saja ia Amirul Muminin namun juga Sayyidul Muslimin.

Mendengar hal itu Umar kembali mencak-mencak marah lalu berkata kepada Abu Bakar, “Demi Allah, aku tahu kelemahan dia. Dia tak akan melunak dan terbujuk kecuali dengan cara kita membunuhnya. Beri aku ijin, akan kupersembahkan kepalanya kepadamu.” (Sulaim Ibnu Qiyas hlm 249). Abu Bakar menyuruhnya duduk , namun ia menolak. Lalu Abu Bakar menghardiknya dan membuatnya duduk.

Kemudian Abu Bakar menyuruh kembali Qunfudh pergi menemui Imam Ali dengan mengatakan Abu Bakar (tanpa embel-embel) memanggilnya. Mendengar itu Imam Ali menjawab, “Aku sibuk dengan pekerjaan yang dipercayakan sahabatku, saudaraku, kepadaku. Pergilah kembali kepada Abu Bakar dan kepada orang yang memperkuat penindasan di sekelilingnya.”

Sumber tertentu menyebutkan bahwa setelah itu terjadi penyerangan kedua. Namun menurut Sulaim, yang melaporkan dari Salman, penyerangan kedua terjadi sesudah Imam Ali mempersembahkan Quran yang ia selesai himpun.

Setelah gagal memanggil Imam Ali, untuk beberapa saat penguasa baru dan orang-orang diam dan tak melakukan aktifitas apa-apa terhadap Imam Ali. Begitu Imam Ali selesai menghimpun Quran pada kain dan menyematkan segel padanya, segera ia bawa ke hadapan jamaah di Masjid Nabi. Ia mengumumkan dengan suara lantang:

“Hai orang-orang sekalian, sejak wafatnya Rasulullah hingga hari ini, saya sibuk mengafani Rasulullah, memakamkannya dan mengumpulkan Quran, yang telah aku himpun dalam kain ini. Tak ada ayat yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya kecuali telah aku kumpulkan di sini. Tak ada ayat yang Rasulullah ajarkan kepadaku artinya atau tafsirnya kecuali terdapat di dalam Quran ini. Aku telah tuntaskan tugas ini agar di masa yang akan datang kalian tak mempunyai kesempatan beralasan bahwa kita tak tahu tentang keberadaannya. Agar pada Hari Kiamat kalian tidak berkesempatan menggugat aku bahwa aku tidak memanggilmu untuk menolongku, atau mengingatkanmu tentang pemenuhan hak-hakku atas diri kalian; dan bahwa aku tidak menyerumu kepada yang pertama dan terakhir dari Kitabullah.”

Umar menolaknya dengan berkata, “Quran yang berada bersama kami lebih baik daripada yang kau seru kami kepadanya.” (Seperti yang juga ia lakukan di hadapan Rasulullah menjelang beliau wafat: “Hasbuna Kitaballah”). Mendengar itu, Imam Ali kembali ke rumahnya. Beberapa saat sesudah itu orang-orang tetap diam dan membiarkan Imam Ali.

Salman melaporkan bahwa di malam hari Imam Ali ditemani oleh Bunda Zahra, Imam Hasan dan Imam Husain, mendatangi rumah-rumah para sahabat Rasulullah SAW. Beliau meminta kepada mereka untuk menyokong dan menolong beliau demi Hak Allah SWT. Namun menurut Salman, selain ia dan ketiga orang lainnya (Abu Dzar, Miqdad dan Ammar) tak seorang pun memberikan jawaban positif, sementara mereka berempat telah menggunduli rambut mereka sebagai tanda dukungan dan kesiapan membantu Imam Ali. Ketika Imam menyadari orang-orang tak siap mendukungnya, ia kembali membatasi dirinya di rumah.

Dalam riwayat lain, Ibnu Qutaibah menyampaikan bahwa Imam Ali dan putri kinasih Rasulullah, Az Zahra, mengunjungi rumah-rumah kaum Ansar di malam hari dan meminta dukungan mereka. Mereka menjawab kepada Az-Zahra bahwa mereka telah berbaiat kepada Abu Bakar dan menyatakan sekiranya Ali datang lebih awal tentulah mereka tak akan menolaknya.

Mendengar itu Imam Ali berkata, “Haruskah aku tinggalkan jenazah Rasulullah SAW tanpa dimandikan (ghusl) dan dimakamkan hanya untuk datang demi kekuasaan?”

Bunda Fatimah selanjutnya berkata. “Abul Hasan telah melakukan apa yang seharusnya ia lakukan; dan atas apa yang orang-orang telah lakukan, Allah akan meminta pertanggung-jawaban mereka.” (Al Imamah wa Siyasah, Ibnu Qutaibah, jilid 1 hlm 19).

(Dikirim oleh Abdi M.S. dalam group whatsapp Misykat, 13 Maret 2016)


Mon, 14 Mar 2016 @12:13

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved