Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Peristiwa yang Berujung pada Wafatnya Bunda Fatimah AS (4)

image

Umar tak sabar melihat keadaan di mana Imam Ali dan Ahlul Baitnya belum juga memberikan baiatnya kepada Abu Bakar. Tanpa menunggu perintah Abu Bakar ia mengumpulkan orang-orang dari keluarga, sukunya dan sebagian orang-orang yang terbujuk olehnya untuk menyambut seruan dan membantu “Khalifah Rasulullah”.

Setelah berhasil mengumpulkan orang-orang yang berkuda dan berjalan kaki, Umar dan Abu Bakar menyuruh Qunfudh mendatangi Imam Ali dan memintanya datang memberikan baiat kepada Abu Bakar. Qunfudh berangkat dan mencoba meminta ijin dari Imam Ali untuk masuk ke rumahnya, namun ia ditolak. Ia kembali ke Masjid dimana saat itu orang-orang sudah berkumpul di sekeliling Abu Bakar dan Umar. Umar menyuruh Qunfudh untuk kembali ke rumah Imam Ali dan mencoba lagi meminta ijin darinya. Ia berangkat kembali bersama beberapa orang. Namun kali ini mereka ditolak oleh Az-Zahra. Qunfudh tetap berada di tempat sementara yang lain pergi memberi tahu Umar dan Abu Bakar. Umar gusar dan marah atas penolakan Az-Zahra ini. Ia menyuruh Khalid bin Walid dan Qunfudh mengumpulkan kayu bakar.

Abu Bakar menyuruh Umar untuk mengumpulkan orang-orang yang paling keras hatinya dan tak memiliki perasaan. Ia menyuruhnya untuk mengajak mereka semua bergabung, kalau perlu dengan paksaan (Iqdul Farid, jilid 1 hlm 259). Umar berhasil mengumpulkan banyak orang yang terdiri dari para sahabat, Muhajirin, Ansar, mereka yang diampuni Rasul saat Penaklukan Mekah (Tulaqa), kaum munafik, orang-orang Arab yang lemah hati dan pasukan pejalan kaki, dan memimpin mereka menuju rumah Az-Zahra. Riwayat menyebutkan ada sekitar 300 orang seluruhnya (Jannatul Khulud, hlm 19). Riwayat lain menyebutkan jumlah yang lebih besar. Beberapa di antara mereka adalah:


1. Umar bin Khattab
2. Khalid bin Walid
3. Qunfudh
4. Abdurrahman bin Auf
5. Mughirah bin Syu’bah
6. Abu Ubaidah bin Jarrah
7. Salim Mawla Huzaifah
8. Utsman
9. Asid bin Azir Asy’ali
10. Salmah bin Salamah Asy’ali
11. Salmah bin Aslam Asy’ali
12. Sabit bin Qais 
13. Muhammad bin Salmah
14. Ayasy bin Rabi
15. Hurmuz Al-Farisi (kakek Umar bin Abi Miqdam)
16. Aslam Adawi
17. Zaid bin Lubaid
18. Abdullah bin Abi Rabi
19. Abdullah bin Sama
20. Sa’ad bin Malik
21. Hammad

Ada riwayat yang menyebutkan Abu Bakar termasuk juga. Namun, sebagai Khalifah agaknya riwayat yang menunjukkan ia tetap berada di Masjid lebih tepat.

Kembali Umar menyuruh orang mengumpulkan kayu bakar sementara ia sendiri memegang tambang atau kayu yang terbakar. (Iqdul Farid, jilid 4 hlm 242; Tarikh Abul Fida, jilid 1 hlm 156). Ia bersikukuh akan membakar rumah dan segenap isinya, bahkan sekalipun orang menyebutkan ada Fatimah di dalamnya.  Mereka semua menuju rumah Fatimah dengan niat untuk membakar rumahnya bersama penghuninya (Asy Syafi, Ibnu Hamzah, jilid 4 hlm 173; Iqdul Farid, jilid 4 hlm 242; Tarikh Abul Fida, jilid 1 hlm 156).

Ibnu Abi Ka’ab melaporkan bahwa ia mendengar ringkikan kuda dan dentingan logam-logam yang menghiasnya serta dentingan lembing. Kami keluar rumah. Banyak orang berkerumun di sekitar rumah Ali dan Fatimah. Fatimah berdiri di balik pintu. Ia Nampak mengenakan kain yang membalut kepalanya. Jelas sekali ia makin melemah akibat kesedihan atas kepergian ayahnya, Rasul Mulia SAW. (Sulaim Ibn Qais, hlm 250). Ketika ia melihat rombongan orang-orang itu mendekati rumahnya, ia menutup pintu rumahnya. Ia yakin orang-orang ini tak akan masuk ke rumahnya tanpa ijinnya. (Tafsir Ayasyi, jilid 2 hlm 67; Al-Ikhtisas, hlm 176).

Orang-orang itu mencapai pintu dan mengetuknya sekuat tenaga. Mereka mulai menarik dan mendorong pintu dengan keras, seraya mengeluarkan kata-kata kasar dan keras terhadap penghuni rumah dan bersikukuh agar mereka berbaiat kepada Abu Bakar. Umar berteriak-teriak, menyuruh Ali keluar dan kembali mengancam akan membakar rumah.

Fatimah menempatkan dirinya di balik pintu rumah dan menanggapi Umar dengan berkata, “Hai orang-orang yang menyimpang dan pendusta, apa yang kau katakan? Apa maksudmu?” 

Umar menyahut, “Hai Fatimah!” 

Fatimah bertanya, “Hai Umar, apa yang kau inginkan?” 

Umar berkata, “ Apa yang terjadi pada sepupumu (Imam Ali)? Mengapa ia menyuruhmu sementara ia tetap berada di balik tabir?”

Zahra berkata, “Celakalah engkau. Aku muncul karena sikapmu yang keterlaluan. Aku ingin menyelesaikan persoalanku denganmu dan dengan orang-orang yang menyimpang (diantara kalian). 

Umar berkata, “Simpan ucapan itu. Tak usah berceloteh seperti perempuan dan suruh Ali keluar.” 

Zahra menjawab, “Apakah kau tak punya malu? Apakah engkau bermaksud menakut-nakuti aku dengan orang-orang dari kelompok setan? Hai Umar, ketahuilah bahwa pasukan setan itu lemah!”

Umar berkata, “Jika Ali tidak keluar, ketahuilah bahwa aku telah mengumpulkan kayu bakar dan akan membakar rumahmu bersama penghuninya bila ia tak bersedia berbaiat.” (Dalail Al Imamah, jilid 2, Biharul Anwar, jilid 30 hlm 293).

Umar terus meminta Fatimah menyuruh Ali dan orang-orang yang bersamanya untuk keluar dan bersikeras akan membakar rumah seisinya bila mereka tetap bertahan di dalam. Bahkan ketika Fatimah mengatakan sekalipun ada anak-anaknya di dalam rumah itu. (At Taraif, hlm 239; Nahjul Haq, hlm 271).

Zahra berkata, “Celakalah engkau! Apakah engkau bermaksud menyingkirkan keturunan Rasulullah SAW? Apakah engkau ingin memadamkan cahaya Allah? Ketahuilah bahwa Allah (SWT) akan menyempurnakan cahaya-Nya.”

Umar menyahut, “Cukup sudah perkataanmu, hai Fatimah. Diamlah! Muhammad (SAW) sudah tak berada lagi bersama kita, begitu pula dengan para malaikat yang membawa wahyu dan perintah dari Allah. Sekarang hanya ada kita, kaum Muslimin. Kalau kau mau, perintahkan anggota keluargamu unruk membaiat Abu Bakar. Kalau tidak, aku bakar rumahmu hingga musnah!” (Hidayatul Kubra, hlm 407; Biharul Anwar, jilid 53 hlm 18).

Seraya menangis, Fatimah meratap, “Ya Allah, aku sampaikan keluhan kami kepada-Mu atas ketidak-hadiran Nabi-Mu, Rasul pilihan-Mu. Kami mengadukan kepada-Mu bahwa umat mengeroyok dan melawan kami. Ya Rabbi, hak-hak yang kau sebutkan dalam Kitab-Mu melalui Rasul-Mu telah Kau tetapkan bagi kami, namun umat ini merampas hak-hak tersebut (dari kami).”

Umar kembali menyahut, “Hai Fatimah, tinggalkan kelakuan perempuan (seperti itu) dan tak usah mengatakan hal-hal yang tak berguna. Allah tak akan pernah menganugerahkan kenabian (Nubuwwah) dan kekhalifahan (Khilafah) di rumah yang sama.” (Hidayatul Kubra, hlm 407; Biharul Anwar, jilid 53 hlm 18).

Dan akhirnya Zahra berkata, “Hai Umar, tidakkah engkau takut kepada Allah untuk memasuki rumahku dan menyerangku?”

Umar tetap berdiri di tempatnya, tidak bergeming dan menolak untuk  beranjak dari situ (Sulaim Ibn Qais, hlm 74 dan 250).

(dikirim oleh Abdi MS dalam group whatsapp Misykat, 14-03-2016)


Mon, 14 Mar 2016 @20:26

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved