Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Missing You Already !!

image

Bismillah wa billah wa 'ala millati Rasulillah Saw. Bismillahi Allahu akbar.

Setiap kali berangkat umrah, selalu ada rasa berada di persimpangan itu. Kebersamaan yang diantarai oleh perpisahan. Siapa tidak ingin selalu bersama keluarga, Ibu dan Bapak, anak-anak dan orang yang kita kasihi dan sayangi. Siapa tidak ingin untuk selalu memandang wajah-wajah bersahabat dari karib dan kerabat.

Setiap kali melepas anak-anak pergi sekolah, aku selalu menghabiskan pandang. Hingga mereka menghilang di kelokan. Dan kuantarkan doa singkat. Kataku kepada mereka sebelum berangkat: missing you already. Belum apa-apa, aku sudah merindukanmu. Dan kami berpelukan hangat. Lalu pandangan itu. Mereka tak henti melambaikan tangan hingga kelokan itu dan mata kami yang senantiasa beradu.

Ali putraku yang kecil biasa memelukku erat. Berkali-kali. Pun pada malam kemarin. Ia sedang bermain komputer. Tiba-tiba ia berhenti dan tanpa diduga lalu memelukku, cukup lama. Dan kubacakan sederet doa di kepalanya. Lalu Muhammad yang berpesan agar aku tetap membangunkannya pagi. Meski kami dipisahkan tiga zona waktu. Subuh di tanah air, sekitar jelang jam dua malam di tanah suci. Dan begitu aku berangkat, giliran ia yang tak memalingkan pandang.

Sore ini, keluarga dan kerabat melepas kami berangkat. Selalu aku mohonkan doa pada siapa saja di antara mereka. Aku faqir akan curahan doa mereka. Aku membutuhkan kerelaan, keikhlasan, dan maaf mereka. Aku percaya doa-doa mereka bagaikan sayap di kiri dan kananku, mengawal setiap gerak keberangkatanku. Ingin bersimpuh di kaki Mamah, memohonkan ridho dan maafnya, dan menbiarkan curahan airmata penyesalan membasahi pipiku dengan derasnya. Ini anak tak tahu diri. Ini anak kurang berbakti. Ini anak yang tak bisa berterima kasih. Aku mohonkan juga maaf pada Teteh, saudari sulungku. Dan kuingat ia memasukkan sendok makanan menyuapiku. Maafkan aku, tak dapat menunaikan hak persaudaraan. Lalu Zack, putra kecilnya kudekap erat. Ia berbisik agar perjalananku lancar, tak terjadi suatu apa. Agar aku kembali lagi ke tanah air nantinya. Lalu semua handai taulan dan sahabat. Ah, aku tak pernah dapat menunaikan seluruh hak mereka. Bagaimana mungkin aku datang pada Baginda.

Setelah itu semua, istriku memelukku. Ia pasti menahan haru. Sudah beberapa hari ia sakit, dan tetap merapikan barang-barang kepergianku seperti biasa. Adalah doaku untukku dan dirinya. Semoga kami termasuk dalam hadis Baginda Nabi Saw, "Makin baik keimanan seseorang, makin besar pula kecintaannya pada pasangannya." Atau riwayat Imam Ja'far Shadiq as, "Kulla ma izdada linnisaa'i hubban, izdada fil iimaani fadhlan. Setiap kali bertambah kecintaan pada perempuan (istri), bertambah pula keutamaan dalam keimanan." (Man laa yahdhuruhu al-Faqih, 3:251).

Bapak khusus meneleponku. Seiring usia aku jadi lebih melankolis. Mendengar suaranya saja aku sudah ingin menangis. Bila saja topeng 'kedewasaan' tak menghalangiku. Lalu kuhubungi Ibu mertua. Mereka berdua mendoakanku. Ya, semua orang baik itu mengantarku. Aku berangkat ke tanah suci karena mereka, karena doa dan kesalehan mereka.

Konon, ada seorang pembimbing umrah bermimpi dalam tidurnya. Ia didatangi seorang sosok nan baik hati. Ia diminta agar membantu memberangkatkan seorang tetangganya ke tanah suci. Ia tak pedulikan. Karena tetangga yang dimaksud dikenal tidak pernah shalat, tidak pernah puasa. Lalu datang mimpi kedua. Masih sama juga. Ia mengabaikannya. Hingga datang mimpi yang ketiga.

Akhirnya, ia datangi tetangganya. "Kau berangkat umrah bersamaku."
"Bagaimana mungkin, aku tak sanggup memenuhinya." Jawabnya.

"Aku siapkan semuanya."
"Tapi aku tak tahu caranya."
"Akan aku ajarkan segalanya."
Maka, berangkatlah mereka bersama.

Di tanah suci, ia belajar dengan cepat. Shalat, umrah. Semuanya. Ketika tiba saat untuk pulang, mereka tawaf perpisahan dan melangkah pulang melepas salam pada rumah Tuhan yang dimuliakan. Tetangganya berkata: "Izinkan aku untuk shalat dulu dua rakaat." Dan ia pun bergegas menuju maqam nabiyullah Ibrahim as, menunaikan shalatnya. Begitu khusyuk, hingga sajadah yang terakhir. Sajadah yang disertai dengan hembusan nafas yang terakhir. Ia tak pernah bangun dari sujudnya. Ia melepas ruh di halaman rumah Allah Ta'ala.
Sang pembimbing umrah itu takjub. Bagaimana mungkin? Semudah itu ia terbang ke alam baka? Seindah itu. Pasti ada rahasianya.
Pulanglah ia ke tanah air. Ia kabarkan yang terjadi. Ia berusaha mencari tahu, kebaikan apa yang dimiliki oleh tetangganya. Tak pernah shalat tak pernah puasa, tapi berakhir begitu mulianya.

Istrinya pun bercerita membenarkan perilakunya, jauh dari ibadah Tuhannya. Tapi ia punya kerabat. Seorang tua yang ia rawat. Ia bawakan makanan pagi dan petang untuknya. Ia berbuat baik kepadanya. Dan perempuan tua itulah yang senantiasa memanjatkan tangannya ke langit dan berdoa: agar lelaki itu diberi khusnul khatimah. Dan Allah Ta'ala mengabulkannya.

Mungkin ada orang berkata aku berbuat baik kepada mereka. Mereka keliru. Merekalah yang berbuat baik kepadaku. Mereka mengantarkanku pergi. Adalah salam dan ziarah mereka yang sampai ke tanah suci.
Aku bisa berangkat karena setiap kebaikan mereka kepadaku. Dan karena itulah, aku berangkat. Aku harus pergi setiap waktu. Tak ada cara yang lebih baik selain menghaturkan kebaikan mereka itu, menyampaikannya di hadapan Baginda Nabi Saw, di hadirat Allah Ta'ala.
Sungguh, teramat malu aku datang pada Baginda, tanpa kehadiran mereka itu.

Di undangan seorang wali murid, aku ditanya tuan rumah: bagaimana caranya seorang disertakan dalam doa? Bagaimana caranya kami ikut bersama ke tanah suci? Lalu aku kutip Al-Quran, "...kepadaNya naik kalimat yang indah dan amal saleh membuatnya lebih tinggi lagi..." (QS. 35:10). Ada dua kata Arab digunakan di situ: yas'ad dan yarfa'. Itulah indahnya Al-Quran. Yas'ad naik dari bawah. Yarfa' ditarik dari atas. Doa-doa kita dipanjatkan, dan amal saleh membuatnya dekat ke haribaan.

Ingat cerita tiga orang terjebak dalam gua? Mereka berdoa pada Allah Ta'ala, dan Allah Ta'ala bukakan pintu sedikit demi sedikit karena kebaikan yang mereka lakukan.

Maka aku akan datang dengan mengenang setiap kebaikan itu. Aku akan tersungkur di hadapan Baginda setelah menyebut nama mereka itu. Pintu guaku telah lama tertutup. Aduhai Baginda bagaimana mungkin menujumu? Adakah pintu tertutup dariku? Sungguh, aku akan datang dan yang kukenang adalah kebaikan keluarga dan sahabatku itu dalam hadapan.

Mengapa aku berangkat pada saat-saat yang kupilih untuk berangkat? Karena di akhir rencana perjalanan menunggu sebuah peristiwa teristimewa. Kami akan hadir di hadapan Baginda Nabi Saw, tersungkur dengan membawa semesta rindu yang telah tersimpan sekian lama. Barulah setelah itu, kami beranikan diri menuju ke rumah suci. Tak mungkin sampai pada Tuhan tanpa menghadirkan diri di hadapan Sang Utusan. Perkenan Baginda adalah bekal teramat berharga. Doa Baginda akan kutukar dengan dunia dan isinya. Yang kuharap hanya senyumnya. Yang kudamba binar cintanya. Dan aku tahu betapa Baginda sungguh sangat mencintai putrinya.

20 Jumadi al-Tsani adalah wiladah Sang Putri tercinta. Hari itu kami akan berada di Makkah, berziarah pada Sayyidatin Nisa. Pada hari ketika Baginda sangat berbahagia. Pada hari langit dan bumi bersukacita. Ingin kami sampaikan: Selamat duhai Baginda, selamat duhai tercinta. Karunia teramat mulia dihadirkan di dunia.

Sayyidah Azzahra adalah permata dua dunia. Ialah kerinduan Baginda. Ialah Ummu Abiha. Para imam teladan suci menggumamkan namanya dalam tawassul pada Tuhannya. "Bila kami hujjah Allah Ta'ala bagi kalian. Maka Sayyidah Fathimah sa adalah hujjah Allah Ta'ala bagi kami," demikian Imam Askari as menjelaskan kedudukan ibundanya.

Maka anakku, istriku, Bapak dan Mamah, keluarga, handai taulan, sahabat dan kerabat. Aku menuju rumah para kekasih hati. Aku melangkah menuju halaman para teladan suci. Karena kebersamaanku bersama kalian takkan abadi tanpa cinta mereka. Takkan berarti tanpa kasih dan perkenan mereka.

Sungguh, aku tidak punya bekal menghadap Baginda kecuali dengan membawa kalian dalam ingatan. Ungkap syukurku adalah menghadiahkan setiap amalan untuk para kekasih Tuhan. Berharap kiranya mereka berkenan menyebut nama kalian di hadapan Tuhan. Hanya itu satu-satunya bekalku. Pintu guaku teramat berat. Rasa malu telah membenamkan wajahku. Semoga ungkap cinta pada Baginda memberi terang dalam gelapku.

Sungguh, tiada saat yang paling kucemburui, selain berada di haribaan para kekasih hati. Dan di hadapan mereka kugumamkan, "...missing you already."

@miftahrakhmat

Fii amanillah abi... Titip doa dan salam rindu untuk Kanjeng Nabi Saw dan Ahlulbaytnya yang suci...
missing you already ... :(

[diambil dari FB Enovita Miftah, 22 Maret 2016]


Tue, 22 Mar 2016 @16:01

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved