Rubrik
Terbaru
MEDSOS Misykat

Fanpage Facebook  MISYKAT

YouTube Channel  MISYKAT TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

Informasi MISYKAT

Redaksi www.misykat.net menerima artikel/opini/resensi buku. Kirim via e-mail: abumisykat@gmail.com

TATA CARA SHALAT

Buku Islam terbaru
image

 

BAHAN BACAAN

Catatan Umroh: Dini Hari Baqi (2)

image

Kami pun shalat. Perasaan keterasingan menghinggapiku. Ada yang hilang pada umrah kali ini. Jamaah Iran. Mereka tak terlihat. Pemerintah Iran menghentikan sementara pengiriman jemaah umrah sebagai bentuk protes pada kerajaan Saudi.

Tahun lalu, dua jamaah laki-laki dilecehkan di bandara. Running text televisi swasta di Indonesia pernah menyiarkannya. Alih-alih memprotes, rakyat Iran mendukung pilihan pemerintahnya.

Musim haji kemarin, mereka kembali mengirimkan jamaah. Apa daya, terjadi musibah crane dan Mina yang memakan korban sebagian besar dari jemaah haji Iran. Moratorium pun berlanjut. Iran meminta kejelasan pemerintah kerajaan Saudi, untuk setidaknya menyingkap tabir tragedi itu dengan membuka akses pada rekaman cctv di Mina. Sempat muncul pula wacana untuk kembali mengelola prosesi haji dalam sebuah konsorsium bersama negeri-negeri Islam.

Iqamah dikumandangkan. Di Madinah, adzan Subuh ada dua. Adzan awal tanpa ash shalatu khairun minan naum. Adzan kedua menggunakan kalimat "Shalat lebih baik dari tidur" itu. Ada yang pernah bertanya mengapa dalam adzan ada kalimat yang 'kurang' filosofis. Disandingkan dengan kemahabesaran Allah Swt. Jawabannya barangkali karena kalimat itu tidak dikumandangkan di zaman Rasulullah Saw. Ia baru disusulkan belakangan, setelah Baginda Saw berpulang. Pun di iqamah, kalimat itu diserukan.

Jemaah serentak berdiri. Berbaris rapi. Sebagian merapatkan kaki, melihat lurusnya shaf di kanan dan kiri. Begitu takbir, tangan berbeda diletakkan. Ada yang dikepit di dada atas, ada yang di perut, ada pula yang dibiarkan terjuntai ke bawah lurus. Semua rukun, bersaudara. Kecuali ketiadaan beberapa negeri yang sedang berkonflik dengan Saudi. Yaman tak terlihat. Suriah, dan sekarang Iran.

Usai shalat, ritual seperti biasa. Berbaris berdesak di Babus Salam. Sejenak menyampaikan salam pada ayahanda Rasulullah Saw. Lalu menyampaikan izin, dan bergabung bersama para perindu meniti langkah demi langkah menuju ke halaman rumah Baginda. Melewati Rawdhah dan ziarah pada Sayyidah Zahra. Di sepanjang dinding dituliskan nama-nama dan gelaran kemuliaan untuk Rasulullah Saw.

Begitu mendekat pusara Baginda, aku hanya ingin tersungkur. Beri aku sebaris ruang di gelombang manusia itu. Izinkan aku untuk bersimpuh.

Terkadang, aku paksakan diri berdesak-desak. Terkadang, aku mengalir saja ke mana arus membawaku. Tak ingin kulawan mereka dengan gerutuan. Tak ingin ada hak manusia yang di leherku dikalungkan. Sudah banyak hak sesama yang tidak kutunaikan. Aku tak ingin menambahnya lagi.

Askar memintaku bergerak ke kanan. Ke arah shaf pertama di belakang imam. Artinya, aku tidak dapat tempat di halaman Baginda. Ada empat-lima meter jauhnya. Kutundukkan pandang, kugumamkan salam. Sebatas merindumu saja sudah teramat indahnya. Dan meski hadir di hadapan, kerinduan itu tak pernah hilang. Aku mohon izin pada Baginda. Dini hari ini, di Baqi akan kutumpahkan rindu pula.

Aku susuri kembali jalanan itu. Tanpa alas kaki. Imam Malik tak pernah mengenakan sandal di Madinah. Ia kuatir ia menginjak jejak kaki Baginda dan ada jarak di antaranya, meski hanya sandal atau sepatu. Dan pastilah di setiap jengkal tanah Madinah bertebaran telapak suci penuh berkah.

Di pinggiran Baqi, pedagang jalanan sudah menggelar tikarnya. Kurma, kain, kerudung, mainan anak-anak...tersedia. Mereka memanggil-manggil para peziarah. Lima real, lima real ujar mereka. Mereka tawarkan barang-barang separuh harga. Sedangkan tak jauh dari mereka berbaring karunia Allah teramat istimewa, jauh lebih berharga dari langit dan dunia. Ke sana akan kulangkahkan kaki.

Aku merapat ke dinding tangga yang membawaku naik. Aku bacakan izin mohon perkenan. Pada kubah hijau kulayangkan pandang. Ampuni Baginda, tak beradab aku masuk ke rumahmu. Tanpa izin, tanpa berdiri, tanpa salam yang dilantunkan. Hanya langkah kaki yang kuayunkan. Ampuni Baginda, sucikan mata yang penuh dosa ini dengan kesempatan berlama-lama memandang apa yang tersisa dari pusara para kekasihmu tersayang.

Batin ini sudah ingin menjerit begitu melihat pagar hijau Baqi yang menjulang tinggi. Siapa yang mau kauhalangi? Tidakkah tembok itu sudah cukup. Tidakkah barikade pagar itu sudah cukup? Tidakkah para tentara itu sudah cukup? Bila di tempat lain, para peziarah diatur oleh polisi bagian keamanan, berseragam coklat dan tubuh yang tak terlalu kekar, maka di Baqi di hadirkan militer terlatih, bertubuh tegap dan bergerak lincah ke sana ke mari. Di samping mereka ada para syaikh yang tak henti menasihatkan para ziarah. Untuk apa semua itu? Apa yang dikuatirkan dari kami?

Aku berhenti. Aku berdiri. Fragmen yang sudah lama kurindu, hadir di depan mata. Sebuah komplek pusara, terpisah dari yang lainnya. Kosong dari yang lainnya. Ah, sudah lama kusampaikan salam kepadamu, dari tempat yang teramat jauh, dan kini aku hadir di hadapanmu. Bersamaku salam setiap orang yang merindumu, diuji karena mencintaimu. Dihadapkan pada kesulitan karenamu.

Assalamu'alaikum ya Ahla Baitin Nubuwwah. Ma'akum ma'akum laa ma'a ghairikum.

Aku melangkah ke dalam. Setiap tahun, selalu ada perubahan. Dahulu, kami bisa berdiri hingga jarak sepuluh meter. Lalu muncul pagar itu. Nasihat para syaikh tak dapat menembus relung hati para perindu. Berulang kali mereka berkata, "Tutup buku (doa). Kita tak tahu pasti siapa yang dimakamkan di sini. Semua para sahabat. Ayo jalan. Jangan berdiri di sini." Aku bayangkan lama-lama mereka bisa stress, karena seruan itu tak didengar orang. Dini hari Baqi selalu antarkan gelombang demi gelombang. Tak pernah ada satu pun yang surut ke belakang.

Lagi pula, bila mereka mengatakan tak tahu siapa yang dimakamkan di sana, mereka merendahkan penduduk Madinah yang selama ini menjaga tempat-tempat sejarah itu. Lalu, mengapa harus dipagari?

Dulu, kami bisa baca doa ziarah. Kini, tidak lagi. Buku doa bisa diambil, begitu pula membacanya dari handphone. Para perindu itu tak kehilangan akal. Mereka hafalkan doa ziarah, dan biasanya aku gabungkan diriku bersama mereka. Pernah ada seorang ulama membaca ziarah jami'ah kabirah yang berhalaman-halaman itu. Aku mendekatinya, mengaminkan doanya. Kau boleh ambil buku doa, kau boleh sita telepon genggam. Tapi bagaimana kau mau ambil kepala yang menghafalnya? Bagaimana kau akan hentikan kekuatan cinta?

Kini, semua itu tidak ada. Mereka menang sementara. Barisan yang biasa bershalawat tak lagi terdengar. Aku beranjak bergerak ke depan. Sudah lama kupendam kerinduan.

Dan Ya Allah, batin ini seakan ingin berteriak kencang. Mata ini ingin menangis sekeras-kerasnya. Dulu, hanya rantai besi di bawah yang menghalangi para jama'ah. Sekarang, bahkan untuk sekadar menyampaikan salam, mereka dirikan pagar penghalang. Mereka lebih cerdik, kini. Bukan para syaikh yang berdiri persis di hadapan kompleks pemakaman yang satu itu, melainkan para tentara. Agar tak perlu berkutat dalil. Agar tak perlu berpanjang kata. Cukup, "Pergi, pergi...ayo jalan!"

Aku berdiri, lahir dan batinku menangis. Ampuni aku Ya Allah. Maafkan aku ya Nabiyallah. Beginilah kami umatmu, memuliakan keluargamu.
Terbaring di Baqi'. Di sebuah tempat yang tak dapat diakses oleh siapa pun, jasad suci para kekasih Rasulullah Saw. Ada Imam Hasan al-Mujtaba, ada Imam Sajjad, Imam Baqir, Imam Ja'far Shadiq 'alaihimus salam. Lalu ada ibunda Sayyidina Ali, Sayyidah Fathimah binti Asad, dan ada paman Nabi Abbas bin Abdil Muthallib. Salaamullah 'alaihim jami'an.

Maafkan aku wahai terkasih, hanya ucapkan salam dalam keheningan. Maafkan aku wahai tercinta, bahkan tak kugetarkan lisan menyebut nama.

Aku berdiri saja dan pandang tepekur ke bumi. Tangisku wahai yang mulia telah kutabung sejak lama. Kuadukan derita para pecinta. Kusampaikan beragam kisah duka. Sungguh, telah menimpa kami dan bangsa kami musibah ayyuhal a'izza, fatashaddaq 'alaina, fatashaddaq 'alaina...

‪#‎alwayssayshalawat
‪#‎UsMif@TPW
‪#‎UmrahZiarahRinduRasul 

(Diambil dari facebook Enovita Miftah, 29 Maret 2016)

Tue, 29 Mar 2016 @08:29

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved