Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Imam Muhammad Al-Jawad, Teladan Umat Islam

image

 

Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad

Keistimewaan bagi Kaum Muslimin adalah teladan-teladan suci tak tertandingi semisal keluarga Nabi Saw (salam sejahtera senantiasa dilimpahkan Allah Ta’ala bagi mereka). 

Di hadapan kesewenang-wenangan, ada teladan Imam Hasan dan Imam Husain as. Hidup yang dihabiskan di penjara, ada Imam Musa al-Kazhim as. Terasing dan jauh dari keluarga, pelajari kisah Imam Ali Ar-Ridha as. Bagi para perempuan, ada teladan Sayyidah Zainab sa, srikandi megatragedi Karbala. Ada Ummul Banin, ada Sayyidah Ma’shumah, ada Fidhhah dan masih banyak lagi. Semua bermuara pada teladan Rasulullah Saw, Imam Ali as dan Sayyidah Fathimah sa. Merekalah silsilah emas teladan kehidupan sepeninggal Baginda Nabi Saw.

Imam Muhammad Al-Jawad

Di antaranya, adalah Imam Muhammad al-Jawad as. Imam Jawad adalah teladan bagi kaum Mukminin dalam menghadapi tantangan zaman. Setiap imam dari keluarga Nabi mencontohkan bentuk perjuangan tertentu, sesuai dengan kondisi zaman waktu itu. Imam Jawad as berjuang melawan kemunafikan zaman. Di masa beliau ditampakkan wajah mukmin sejati dan yang palsu. Di zaman beliau dibukakan penguasa yang berlindung di balik topeng agama.

Ketika ia membuka mata, 10 Rajab 195H, ayahnya mengabarkan kabar gembira ini pada para pengikutnya, “Berkah yang besar bagi para pengikut kami.” Ia tumbuh dalam naungan ayahanda tercinta. Ilmu Rasulullah Saw yang dititipkan ayah-ayahnya, sampai kepadanya.

Di antara hikmah yang disampaikannya, “Kematian seseorang karena dosanya, jauh lebih banyak dari kematiannya karena ajalnya. Hidupnya karena amal baiknya jauh lebih banyak dibanding hidup karena umurnya… Ada tiga hal yang menyampaikan seorang hamba pada Allah Ta’ala: Seringnya beristighfar, berlaku lembut pada orang terdekat, dan banyaknya bersedekah. Dan ada tiga hal yang tidak akan mendatangkan penyesalan: meninggalkan ketergesaan, bermusyawarah, dan tawakal pada Allah dalam setiap urusan. (Dalail Imamah, 210).

Dalam usia belia, Imam Jawad as melanjutkan teladan ayahandanya. Ia bersama umat hingga usia 25 tahun. Membimbing mereka, menyingkapkan tirai kemunafikan zamannya. Tentang Imam Jawad as, berikut kutipan dari Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, ulama besar yang juga pada penanggalan masehi ini, miladnya berdekatan dengan milad Imam Jawad as: Pelajaran besar dari Imam Jawad as adalah berdiri di hadapan kekuatan-kekuatan kemunafikan. Berdiri di hadapan para pelaku pamer keagamaan. Agar kita untuk membangun kesadaran masyarakat. Sebagaimana Imam Jawad as yang telah membimbing umat sehingga wajah riya dan kepalsuan al-Ma’mun (penguasa waktu itu) berhasil disingkapkan.”

Selain ilmu dan perjuangan untuk umat, Imam Jawad as mengajarkan doa-doa indah. Di antara wiridan teramat singkat yang bisa kita amalkan adalah doa bakda shalat Subuh yang mengajarkan kebergantungan sempurna pada Allah Swt, “Hasbi man huwa hasbi. Hasbiyallahu laa ilaaha illa hu. ‘Alaihi tawakkaltu.” Terdengar Imam membaca wirid ini berulang-ulang. Cukuplah bagiku Dia yang mencukupiku. Cukuplah bagiku Allah, tiada tuhan melainkan Dia. KepadaNya aku bertawakkal.”

Akhlak Imam as dan kemuliaan yang Allah Ta’ala anugerahkan kepadanya sangat istimewa. Hujjatul Islam Qara’ati bahkan berani mengatakan, “Sekiranya orang melihat (akhlak) Imam Jawad as, ia akan mencukupi imamah sampai padanya. Ia akan berkata: aku mengikutinya. Cukup, ia teladan dan panutanku.”

Alkisah, Ayatullah Dastaghib menjelaskan makna berlindung pada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Beliau membuat perumpamaan. Kepada pendengarnya, beliau berkata “Kaubayangkan seekor anjing yang kelaparan. Dan di tanganmu ada daging dan makanan. Ia akan berdiri mematung di hadapanmu. Meski kauhardik ia. Meski kaulempar ia dengan tongkat kayu, ia akan kembali dan kembali datang kepadamu. Tapi bila kau tak memiliki daging dan makanan itu, bila tanganmu kosong. Kauhardik saja, anjing itu akan berlari menjauh. Begitulah setan, ia tahu persis hati kita. Bila masih ada ‘makanan’ setan di dalamnya, ia takkan menjauh walau kau baca ta’udz berkali-kali. Kosongkan dulu. Baru kau memohon perlindungan Allah Ta’ala. Satu ta’udz akan bisa mengusirnya.” 

Dan menurut Allamah Bahjah, Imam Jawad as mengajarkan cara mengobati hati, membersihkannya dari makanan setan itu. Dalam hadis yang diriwayatkan dari Imam Jawad as, “Setiap mukmin membutuhkan tiga hal: taufik dari Allah Swt, mengambil pelajaran untuk diri, dan kesediaan menerima nasihat dari orang lain.” Kata Allamah, “Selama manusia tidak mengambil pelajaran untuk dirinya, selama ia tidak merendahkan dirinya…nasihat apa pun tidak akan berpengaruh baginya.” 

Selama masih ada keakuan…ribuan buku takkan menghasilkan perubahan. Berbahagialah para pecinta, bersukacitalah semesta. Teladan suci hamparkan jalan menuju cahaya. Berdukalah, bila masih tak dapat menghardik binatang buas yang mengamati makanannya dalam hati kita. Bagaimana mungkin meniti jalan cahaya?

@miftahrakhmat

(Diambil dari whatsapp group Misykat, April 2016)

Tue, 19 Apr 2016 @12:08

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved