Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Wiladah Imam Ali dan Peluncuran Buku Kang Jalal

image

Merayakan hari lahir itu biasa. Bukan hanya kelahiran manusia yang dirayakan, bahkan lembaga yang tidak bernyawa pun dimeriahkan. Negara, perusahaan, sekolah, atau hari nikah pun dirayakan. Jadi, merayakan hari kelahiran itu biasa alias lumrah.

Lantas, mengapa ada orang dan sekelompok kaum beragama yang tidak suka ketika sebuah komunitas merayakan hari lahir Nabi, Putri Nabi, dan Menantu Nabi? Yang lebih parahnya orang yang rayakan hari lahir tiga orang istimewa itu disebut kultus individu. Sampai sekarang saya belum paham dan tidak paham dengan kata “kultus” yang ditempelkan kepada pengikut Ahlulbait yang cinta kepada Rasulullah saw dan keluarganya. Saya tidak paham apa latar belakang atau motif mereka saat melarang perayaan Milad Sayidah Fathimah, Maulid Nabi, dan menyatakan sesat pada acara-acara tersebut.

Memang dari sisi makna, kultus diartikan pemujaan. Maka seorang ayah yang cinta kepada anaknya biasanya mirip pada penyanjungan dan puja puji, hingga dirayakan hari lahirnya. Tapi anehnya tidak disebut kultus. Ketika seorang laki-laki cinta kepada perempuan hingga rela untuk korban harta dan waktu dalam rangka bahagiakan perempuan yang dicintanya; mengapa tidak disebut kultus? Apakah hanya berlaku dalam agama?

Hoream saleresna ngomentaran anu ngewa jeung sirik kana urusan batur teh. Ngan ieu mah pedah tadi isuk di Aula Muthahhari, Kang Jalal (KH Jalaluddin Rakhmat) ngajentrekeun mun apal kana poe lahir sohabat Nabi anu lain arek ngarakeun. Kusabab ngan anu jentre alias eces ngan Imam Ali bin Abi Thalib kw janten dirayakeun. Jeungna dina hadis mah geus jentre Imam Ali teh manusa anu luhung ku elmu sareng jembar manah, satria, sareng welas asih. Tangtos saatos Rasulullah saw, anu janten tuladeun urang Islam dina kaagamaan teu salah deui Imam Ali.

Simkuring dugi kiwari tacan mendakan sohabat Nabi anu langkung ti Imam Ali dina elmu, ibadah, kasolehan, bumela ka Nabi, sareng ditegeskeun ku Rasulullah saw salaku panto anu kedah disorang mun bade lebet kana kota elmu Rasulullah saw. Tangtos eta hadis hanteu harfiah, kedah ditafsir. Ngan naha Imam Ali anu kenging kaistimewaan ti Rasulullah saw? Tah perkawis ieu kuring hanteu tiasa nolak kana kayakinan urang Syiah atanapi Ahlulbait dina muji sareng ngagungkeun Imam Ali kw. 

Wiladah Imam Ali kw

Alhamdulillah, saya bisa hadir dalam acara Wiladah Imam Ali as yang digelar di Aula Muthahhari Bandung, Minggu, 24 April 2016. Saya datang saat acara kuis berlangsung untuk mendapatkan buku Afkar Penghantar karya Jalaluddin Rakhmat. Aula padat dipenuhi jamaah sampai luar. Di Aula, saya bertemu dengan teman yang pernah hadir saat perayaan hari lahir putri Nabi Muhammad saw.

Yang menarik dari acara Wiladah Imam Ali ini, Ustadz Miftah yang memandu memberi buku kepada jamaah yang bisa jawab pertanyaan meski tidak tepat dalam menjawab. Saya hanya bisa senyum karena momentum bahagia.

Kang Jalal membuka peluncuran buku dengan membacakan syair persatuan Islamiah yang dirintis Imam Ali saat menghadapi gerakan pemberontak. Terasa menyentuh dalam hati sehingga tanpa disadari air mata membasahi pipi.

Selanjutnya, Kang Jalal mengisi dengan uraian sosok Imam Ali berdasarkan tinjauan dari orang-orang Barat dan ulama terdahulu seperti Gibbon, Carlyle, Sir William Muir, Madelung, Ibnu Katsir, dan lainnya. Terlalu banyak yang diuraikan oleh Kang Jalal. Yang diingat adalah Imam Ali menempatkan kekuasaan tidak lebih berharga dari alas kakinya. Wajar jika dalam urusan politik, Imam Ali tidak berambisi dan tidak memberontak saat jabatan kekuasaan Islam dipegang oleh Abu Bakar, Umar bin Khaththab, dan Utsman bin Affan.

Ini yang terakhir, yang masih saya ingat bahwa Imam Ali berpesan: “jadilah seperti bunga yang memberikan wewangian, meski kepada tangan yang meluluh-lantakannya.”

Jujur untuk kalimat terakhir, saya belum mampu meneladani. Sosok Imam Ali saja sukar untuk diteladani, apalagi Rasulullah saw. Nabi Muhammad saw lebih dari Imam Ali. Karena itu, saya masih belajar dan bersyukur masih bisa menikmati pencerahan yang berasal dari keluarga Rasulullah saw. Hatur nuhun anu parantos masihan wartos acara. Mugi engkin simkuring tiasa ngahadiran deui. Cag…

[Ikhwan Mustafa, kontributor Misykat]

 

 

Sun, 24 Apr 2016 @17:51

Copyright © 2021 Misykat · All Rights Reserved