Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Nikah Mutah itu Tidak Wajib

image

Perlu dipahami bahwa tidak ada kewajiban dalam melakukan nikah mutah. Yang wajib itu menikah karena Rasulullah saw bersabda bahwa nikah itu Sunnah beliau dan tidak termasuk umatnya mereka yang tidak menikah. Namun, ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi di sini.

Pertama, orang harus membedakan antara menyatakan sebuah hukum benar dan sah dengan menjalankan hukum tersebut. Orang-orang yang anti Syiah dan para Syiah baru yang memanfaatkan kesempatan mengira keduanya sama, yaitu bahwa kalau mut'ah itu dibenarkan dan sah maka harus atau wajib dilakukan. Pemikiran yang super keliru. Pintu darurat di pesawat itu dibenarkan dan sah adanya, tapi apakah harus selalu dan segera Anda gunakan dalam keadaan normal?

Kedua, seperti yang diindikasikan oleh Syahid Murtadha Muthahhari bahwa mut'ah dalam bentuk tertentu dapat menjadi penyelamat muda-mudi dari kerusakan moral. Islam tidak mengenal dan mengesahkan pacaran, seperti halnya yang dilakukan di Barat dan ditiru sebagian masyarakat kita. Mut'ah dalam pengertian mengesahkan hubungan pemuda dan pemudi hingga mereka menentukan waktu yang tepat untuk menikah daim/permanen merupkan solusi yang tepat.

Karena itu, di luar hal di atas yang dianggap perlu, menghindarlah dari melakukan mut'ah, terutama buat mereka yang sudah berkeluarga. Apalagi yang menjalani kebahagiaan dalam keluarganya. Jangan rusak kebahagiaan Anda dengan pikiran serakah yang bisa muncul di kepala kita semua.

Kemudian yang menjadi masalah sebagian orang, apakah yang mengaku Aswaja atau Wahabi, tidak berusaha menelaah dengan baik apa yang ada dalam kitab-kitab standar Sunni.

Mereka berdalih bahwa Mu'tah itu praktik Syiah. Mereka tidak mau menyadari bahwa Mu'tah pernah diperbolehkan Rasulullah saw, bahkan mengikuti tarikh dan hadis yang termaksud dalam khazanah Sunni. Yang tidak terdapat kesepakatannya adalah dalam hal pelarangannya. Riwayat yang menyatakan pelarangannya sulit untuk dirujukkan karena terjadi dalam waktu-waktu yang berbeda. Sehingga seakan-akan hukum Mut'ah itu diizinkan, dilarang, diizinkan, dilarang dan begitu seterusnya. Begitu rupa sehingga salah seorang ulama atau sahabat yang saya lupa namanya berkomentar bahwa tidak pernah ada hukum yang pengujian dan pelarangannya terjadi berkali-kali, seperti halnya Mut'ah.

Yang pasti dan disepakati para ahli pelarangannya dilakukan oleh Umar bin Khaththab, yang berkata ada tiga hal  (dua di antaranya berkenaan dengan Mu'tah) yang berlaku di zaman Rasulullah saw (dan Abu  Bakar) yang sekarang ia larang, yaitu Mu'tah haji (tamattu) dan Mu'tah perempuan (nikah Mu'tah). Umar mengancam rajam pelaku nikah Mut'ah.

Mungkin dari sini orang-orang yang kita sebut di atas mendasarkan kesimpulannya bahwa Syiah sesat, karena tidak menjalankan hal yang sudah dilarang Umar. Jangan lupa beberapa hal yang dibuat Umar sudah menjadi bagian praktik ibadah kaum Sunni, seperti mengatupkan tangan saat shalat (sedekap), menghilangkan hayya'ala khairil 'amal dalam adzan, memberlakukan pengucapan thalak 3x sebagai thalak 3, shalat tarawih, dan lainnya.

(Dikirim oleh  Abdi MS dalam WhatsApp Group Misykat, 29 April 2016)


Mon, 23 Sep 2019 @07:58

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved