Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Miftah Fauzi Rakhmat: BAGAIKAN DEBU TERTIUP ANGIN (2)

image


Hari ini, saya berusia empatpuluh tahun. Sudah lama saya pikirkan saat ini. Ini waktu turning point. Ini saat setan datang mengelus pipi saya. Ini saat ia menyambut selamat datang. Ini saat ia menunggui saya lebih dari sebelumnya. Ini saat ia menyampaikan pesan: kalau kebaikan saya tak bertambah banyak, ia tambah sayang pada saya. Kalau keburukan tidak juga saya tinggalkan, ia tambah dekat dengan saya.

Hari ini, karib kerabat dan sahabat menyampaikan doa. Istri dan anak-anakku jadi orang yang pertama. Mereka terlalu baik padaku. Terlalu banyak hak mereka. Terlalu banyak momen itu yang kubiarkan hilang karena menutup mataku. Lalu ada doa dari Ibunda, yang kepadanya saya berutang seluruh wujudku. Kemudian ayahanda, pintu bagi seluruh nikmat Tuhan untukku. Pagi ini, aku salami keduanya, mendoakan bagi mereka panjang usia.

Bila ada yang harus berubah, bagiku kali ini adalah shalat awal waktu. Melalui tulisan singkat ini kuhaturkan terima kasih pada setiap ucap selamat itu. Pada setiap doa dan perhatian itu. Ketika kulihat ke belakang, shalatkulah yang pertama kali harus dibereskan. Bagaimana mungkin menyelesaikan urusan dunia sedangkan urusan dengan Tuhan tak baik kuperhatikan. Seorang pernah datang pada Allamah Hasanali Nakhudaki, “Aku punya tiga masalah dalam hidupku. Aku mohon darimu tiga kunci untuk itu: aku ingin pernikahan yang baik, aku ingin hidup yang penuh berkah, dan aku ingin akhir yang indah.” Allamah menjawab singkat, “Kunci untuk semuanya adalah shalat di awal waktu. Shalat lima waktu di awal, adalah kunci induk untuk semua permasalahan.”

Allamah Mujtahidi Teherani berguru pada begitu banyak ulama. Dari Imam Khumaini, Ayatullah Hairi, Allamah Syah Abadi hingga Ayatullah Burujerdi. Katanya, “Kalau kau ingin aku simpulkan semua nasihat orang saleh itu. Berikut ini. Kalau kau ingin dunia dan akhirat, kalau kau ingin rezeki dan jalan keluar…semua hanya satu cara: Shalatlah di awal waktunya tiba.”

Lalu, ada Allamah Bahjah. Ah, kenangan shalat Subuh bersamanya menyimpan rindu yang menyala. Dingin udara berganti kehangatan mendengarkan lantunan suaranya. Allamah berpesan, “Semakin tertib, teratur dan baik shalatmu di awal waktu, maka akan semakin baik pula hidupmu. Apakah kau tidak tahu bahwa kebahagiaan hidup di dunia disandingkan dengan kewajiban melaksanakan shalat?”

Maka, tekadku yang pertama di awal usia empatpuluh ini adalah memperbaiki shalatku. Menjaganya awal waktu. Bagaimana bila Subuh kita sulit terbangun? Masih kata Allamah Bahjah, “Jaga awal waktu pada keempat shalat yang lainnya, Tuhan akan membangunkanmu untuk Subuhmu.”

Tanpa shalat, hidupku bagaikan debu terbang terbawa angin. Bagaikan mimpi yang tak pernah berhenti.

Setelah itu, apa yang harus kujaga. Lisan. Kata-kataku. Terlalu banyak canda tak berguna. Terlalu sering aku menyakiti sesama. Ternyata semua ucapku, hanya butir yang jatuh ke lautan. Ringan kuucapkan, tetapi berat di amal timbangan. Maka melalui tulisan ini, kuhaturkan permohonan maaf teramat dalam, bagi setiap mereka yang kusakiti dengan lisan. Bagi kata yang terbuang, dan bekasnya abadi pada ia yang mendengarkan. Terutama: pada kedua orangtua, pada istri dan anak-anakku. Percayalah, aku pahat kuat-kuat dalam sanubari saat aku menyesal karena kata-kataku pada mereka. Jangan kautiru, tapi di SMP aku pernah membantah Ibunda. Sesal teramat dalamnya. Tak terhitung aku meninggikan suara di hadapan anak-anakku. Aku pernah membanting buku di hadapan mereka. Merasa sok perkasa, merasa adidaya. Dan istriku, sahabat-sahabatku…terlalu banyak mereka menderita karena ocehanku. Maka, empatpuluh tahun ini tiba, dan lisan ini harus dapat kukekang semestinya. Menurut guruku Ustad Fathimi Niya, “Tahukah kau, satu amarah yang kaukekang (karena mengendalikan dirimu) lebih mendekatkanmu pada Tuhan dari seribu shalat sunnah…” Ya Allah…terlalu banyak kesempatan itu aku buang sia-sia. Padahal Baginda Nabi Saw bersabda, “Hormati anak-anakmu, perbaiki akhlak mereka…niscaya Tuhan akan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Ta’ala karuniakan jalan pengampunan dosa dengan berkhidmat pada anak-anak kita. Dalam riwayat yang lain, Baginda Nabi Saw bersabda, “Ia yang menjaga lisannya, telah amalkan Al-Qur’an seluruhnya.”

Shalat yang pertama, lalu lisan yang kedua. Lalu apa resolusi yang ketiga? Perbanyak shalawat. Kata Imam Ridha as, bila kau tak sanggup meninggalkan dosa-dosamu, perbanyaklah bershalawat. Ada amalan ‘sakti’ yang sekarang saya sampaikan pada teman-teman. Berbagi kebahagiaan di hari keempatpuluh ini. Dari Allamah Kasymiri, yaitu membaca shalawat 1400 kali dengan nadzar untuk para teladan kekasih hati (bil khusus Imam Musa bin Ja’far as). Setidaknya antarai dua hari Jumat dengan shalawat yang 1400 itu. Alkisah, orang bertanya pada Imam Ja’far Shadiq as perihal makna ayat, “Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus…” QS. Maryam [19]:39. Imam Ja’far as menjawab, “Hari itu adalah hari kiamat. Bahkan orang saleh akan menyesal mengapa mereka tidak beramal lebih banyak.”

“Apakah ada mereka yang tidak menyesal di hari itu?”
“Ada. Mereka yang di dunia ini tidak pernah berhenti bershalawat pada Rasulullah Saw.” (Wasail al-Syi’ah 7:198)

Shalawat yang akan last forever…bahkan setelah the earth and sky tiada.

Shalat, menjaga lisan, lalu shalawat. Apakah berikutnya? Perkhidmatan pada sesama. Usia empatpuluh adalah usia ketika setan singgah dan datang menyapa. Bila ego kita masih teramat kuat, setan akan makin nyaman bertahta. Tiada cara lain melawannya, kecuali merendahkan diri ini serendah-rendahnya. Terima kasih kawan, sahabat, keluarga, para guru semua untuk semua ungkap doa. Bahkan ada yang mengkhatamkan Al-Quran untukku. Kalian tidak memberiku pilihan lain kecuali untukku membalas semua kebaikan itu. Bila kalian menyayangiku, izinkan aku untuk berkhidmat pada Ibu dan Bapak semuanya. Pada kawan-kawan seluruhnya. Jangan tahan tanganku bila hendak berkhidmat kepadamu. Jangan tepiskan lenganku bila hendak memijat punggung lelahmu. Sungguh, bila kau benar-benar tulus menyayangiku, berikan padaku kehormatan itu. Tuhan tidak memintaku menjadi abid, ahli ibadah. Ia memintaku untuk menjadi abdi, seorang hamba yang rendah. Aku tidak dapat menjadi abdi Dia, bila tak belajar menjadi abdi saudara.

Dan Allah Ta’ala karuniakan bagiku jalan berkhidmat itu. Pada anak-anak dan guru-guru di sekolahku. Meski mereka menganggapku pimpinan, saya selalu merasa kurang berkhidmat para mereka. Sayalah yang harusnya lebih banyak memberi. Sayalah yang harusnya berpikir keras bagaimana lebih banyak membahagiakan dan mensejahterakan mereka. Hari ini, pada hari yang sama denganku berulangtahun, ada guru yang menikah. Doaku untuknya, semoga keberkahan teladan suci senantiasa menyertainya. Lalu ada rekan guru yang berulang tahun di hari yang sama. Semoga kebahagiaan bertambah setiap harinya. Dan ada Ibu dan Bapak, saudara-saudaraku di jalan cinta. Ada pula yang membuat meme karena olahragaku main bola. Izinkan aku berkhidmat kepada Ibu dan Bapak semuanya. Sungguh, dengan demikian kebahagiaanku tak terkira.

Dan yang terakhir, tekadku di usia yang tersisa ini, adalah menyebarkan kecintaan pada Rasulullah Saw dan keluarganya yang suci, para teladan kekasih hati. Hari ini aku bersiap diri untuk setiap yang akan aku hadapi karena itu. Hari ini aku patrikan janji untuk hibahkan diri, untuk wakafkan waktu. Takkan ada hari berlalu tanpa kubaca ayat-ayat ilahi dan riwayat dari teladan suci. Tuhan tidak meminta kita datang dengan amal saleh yang banyak. Tuhan hanya minta kita datang dengan “qalbun salim”. Dengan hati yang tulus, bersih, ikhlas, suci… tak mungkin meraihnya tanpa belajar pada para teladan kekasih hati. (bersambung)

Sun, 8 May 2016 @15:13

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved