AUDIO KAJIAN ISLAM

TATA CARA SHALAT

Buku Baru
image

 

Flash Disk OTG Kajian Islam
image

.

Facebook Misykat
image

.

BAHAN BACAAN (Buku PDF)
image

 

Membaca untuk Menguasai? Belajar Membaca kepada Dr Jalaluddin Rakhmat

image

Dalam buku terbaru saya, buku yang ke-37—insya Allah buku ini akan terbit pada Mei 2016—yang berjudul "Flow" di Era Socmed: Efek-Dahsyat Mengikat Makna, saya menunjukkan tiga tingkatan membaca.

Tingkatan pertama, tingkat membaca yang paling rendah, adalah membaca yang difungsikan hanya untuk melihat. Ini terjadi pada anak-anak. Mereka membaca hanya untuk melihat bentuk huruf, warna (jika buku yang dibacanya ada goresan atau sapuan merah, biru, kuning, hijau, dll.), dan gambar. Apakah ketika anak-anak itu melihat apa yang ada di buku yang dibacanya juga disertai dengan proses pemahaman? Mungkin ya dan mungkin tidak.

Tingkatan kedua membaca saya sebut sebagai meniru. Ini membaca yang sudah disertai dengan berpikir atau mengolah meski masih tergolong rendah. Yang menarik, orang-orang yang membaca dengan maksud meniru ini juga sudah memfungsikan membaca untuk belajar—belajar apa saja dari buku-buku yang dibacanya. Saya kadang mengarahkan orang-orang yang membaca di tingkat ini untuk meniru bagaimana sebuah tulisan atau buku ditulis oleh seorang penulis yang baik. Di sini kemudian muncullah pentingnya memilih buku yang bergizi—sebuah buku yang memang akan "menyehatkan" pikiran kita jika kita baca dan bukan malah menyesatkan pikiran.

Lantas apa yang ditiru oleh para pembaca di tingkat kedua ini? Pertama, bagaimana menciptakan kalimat atau paragraf yang bening, tertata, dan "bergizi". Kedua, bagaimana menyusun dan menyampaikan materi tertulis secara enak, mematuhi kaidah berbahasa-tulis, sistematis, dan penuh kejutan. Dan ketiga, bagaimana membuat judul yang menggigit, membuka tulisan yang menggairahkan, serta menguraikan dan menutup tulisan dengan penuh kejutan. Hal-hal yang saya sebutkan ini bisa sih dipelajari tetapi akan sangat sulit dan berat.

Bagi saya, ketika kita membacalah secara otomatis kita dapat meniru dalam arti memasukkan pola-pola yang kita baca itu ke dalam pikiran kita.

Nah, membaca di tingkatan tertinggi adalah membaca untuk menguasai. Ini tidak sekadar membaca untuk memahami melainkan membaca untuk dapat menyampaikan secara sangat baik apa-apa yang telah dipahami dari yang dibacanya. Di tingkat membaca yang tinggi inilah saya belajar kepada Dr. Jalaluddin Rakhmat.

Beliau sangat piawai dalam membaca di tingkatan ketiga ini dan juga dalam menyampaikan penguasaannya atas apa-apa yang dibaca. Buku-buku yang dibacanya pun memiliki ketinggian dan kedalaman materi yang kadang-kang tidak mudah—atau bahkan membuat diri kita malas—untuk membacanya. Namun, Dr. Jalaluddin Rakhmat ternyata bisa! Ini yang luar biasa dari sosok beliau sebagai seorang pembaca yang memfungsikan membaca untuk menguasai.

Lantas bagaimana caranya agar kita dapat menjadi pembaca yang dapat menguasai apa pun yang ingin kita baca? Saya tidak akan menjelaskannya di sini karena akan memanjangkan tulisan saya ini. Saya hanya akan menunjukkan buku (dalam hal ini dapat juga disebut sebagai: "teori") apa saja yang telah "dikuasai" oleh Dr. Jalaluddin Rakhmat. Ternyata banyak dan beragam sekali. Namun, marilah kita mengambil beberapa contoh saja pada apa yang muncul di dalam buku terbarunya, "Afkar Penghantar"  (Penerbit Nuansa, April 2016) sebagaimana sudah sempat saya bahas dalam dua tulisan saya sebelum ini.

Pertama-tama beliau setidaknya berhasil dalam membaca dan kemudian menguasai teori-teori bahasa Noam Chomsky. Ini setidaknya dapat kita baca di pengantar yang berjudul "Kamus Terorisme Noam Chomsky" (h. 119). Chomsky adalah salah seorang tokoh kognitivisme dalam bidang linguistik. Ketika memahami teori bahasa Chomsky yang rumit, beliau juga harus memahami terlebih dahulu teori "sprachliche Weltaschaunglehre"-nya Leo Weisberger dan teori kata untuk mengorganisasikan realitas dari Edward Sapir dan Benjamin Whorf. Chomsky sendiri melejit gara-gara teori "generative grammar"-nya. Itu baru satu teori saja dari Chomsky.

Belum bagaimana beliau menguasai teori Jean-Jacques Rousseau lewat buku terkenal The Story of Civilization karya Will dan Ariel Durant dalam pengantar "Ketimpangan dan Agama Madani: Belajar dari Rousseau" (h. 97), lalu teori politik internasionalnya Hamid A. Rabie dalam pengantar "Yang Mungkin dan Yang Harus: Islam sebagai Kekuatan Politik Internasional" (h. 104), dan teori psikologi yang merambah agama lewat Viktor Frankl, Zohar-Marshall, Marsha Sinetar, dan Khalil Khavari dalam pengantar "Spiritual Quotient (SQ): Psikologi dan Agama" (h. 80).

Saya sesungguhnya ingin menunjukkan pula beberapa teori dan “ilmu” agama yang dipelajari dan telah dikuasai dengan baik oleh Dr. Jalaluddin Rakhmat. Hanya saya akan cukupkan saja sampai di sini karena akan terlalu panjang jika saya lanjutkan. Betapa dahsyat dampak membaca untuk menguasai dalam mengembangkan dan meluaskan pikiran?

 

 

 

[Diambil dari facebook Hernowo, 9 Mei 2016]

Sat, 15 Feb 2020 @14:47

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved