Rubrik
Terbaru
Telegram Misykat
image

.

YouTube Misykat TV
image

.

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

TATA CARA SHALAT

Minat beli buku klik covernya
image

 

Flash Disk OTG Kajian Islam
image

.

Facebook Misykat
image

.

BAHAN BACAAN (Buku PDF)
image

 

Zuhud dan Keadilan Sosial (2) [by Miftah F. Rakhmat]

image

Pada awal sekali kemunculan tasawuf itu ditandai dengan orang-orang yang bersifat zuhud. Dan zuhud itu adalah (yang dipraktekkan pada waktu itu) memisahkan diri dari dunia. Padahal tidak selamanya zuhud itu seperti itu. Seperti dalam kisah Rumi yang disampaikan tadi, kata kawan burung merak itu, “Kenapa kamu cabuti bulu-bulumu, yang harus kamu lakukan itu adalah meninggalkan keterikatan kamu pada bulu yang indah itu.”

Ada kisah seorang sufi Abu Yazid al-Bustami, kalau saya tidak salah, suatu saat ia merasa bahwa menjadi muslim yang sejati. Jadi, sufi yang sesungguhnya adalah meninggalkan dunia. Dari mana kemudian ia dapat pemahaman bahwa seorang zahid itu harus meninggalkan dunia. Itu karena dalam perjalanan ia ditinggalkan kafilahnya, ia sudah kehilangan bekal. Tiba-tiba ia sampai disuatu tempat dan ia melihat burung yang sudah patah sayapnya. Kemudian ada burung lain yang datang kepada burung yang patah sayapnya tadi dan menjatuhkan makanan yang dia pegang di paruhnya. Dijatuhkan makanan pada burung yang menggelepar-gelepar sekarat mau mati itu, dan burung itu menemukan makanannya.

Kata sufi itu, “Kalau Tuhan saja memberikan rezeki pada burung yang ditengah padang pasir patah sayapnya, maka apalagi seorang hamba yang mengkhususkan hidupnya hanya untuk dunia saja.” Jadi, dia memilih untuk tidak mendekati dunia. Namun ia bertemu dengan guru sufi yang lainnya, ketika ditanya kenapa ia memilih sufi yang seperti itu. Lalu ia mencerikan kisahnya, ia menemukan burung yang diberi rezeki oleh Allah walaupun ia sudah dicelakai oleh kawan-kawannya. Kata guru sufi itu, “Kenapa kamu memilih untuk menjadi burung yang patah sayapnya. Kenapa kamu tidak memilih burung yang satunya lagi, yang memberikan rezeki Tuhan pada burung yang patah sayapnya tadi.” Jadi pada burung itupun ada dua, yang kita ambil apakah misalnya kita beribadah kepada Tuhan lalu menjadi orang yang acuh pada perkembangan sesama bahkan tidak peduli dengan perkembangan disekitar kita. Hanya kepada Allah Swt. saja. Dan rezeki kita pasti dicapai. Tapi kata guru sufi itu, kenapa kita tidak memilih burung yang kedua, yang memilih untuk memberikan kelebihan rezekinya dan menyalurkannya pada burung-burung yang patah sayapnya.

Mungkin itu dipertentangkan antara konsep zuhud yang murni hanya beribadah kepada Allah Swt dan zuhud yang sesungguhnya. Zuhud yang sesungguhnya itu adalah zuhud yang beribadah kepada Allah Swt dengan berbagai macam cara tanpa melepaskan diri dari dunia. Laisa al-zaahidu an-laa yamliku syaia’, bal yuzaahidu an-laa yamlikuhu syaiu’, kata Imam Ali. (Bukanlah seorang zahid itu adalah orang yang tidak memiliki apapun, tapi seorang zahid itu ialah yang hatinya tidak dimiliki oleh apapun). Bukan berarati kita jadi zahid lantas kita hidup miskin. Orang yang zahid itu adalah orang yang hatinya tidak dimiliki oleh apapun.

Dan cara mengukur apakah kita sudah termasuk golongan orang yang zahid atau tidak, yang pertama adalah: apakah kita punya kecintaan terhadap sesuatu. Seorang yang zahid kecintaan itu kepada Allah Swt, tetapi semua kita itu (hati kita itu) terikat pada sesuatu, kita mencintai sesuatu. Kadang-kadang ada juga kecintaan pada sesuatu itu tidak kita pedulikan. Malah kita tidak punya sesuatu yang kita cintai dengan sungguh-sungguh. Dan saya termasuk orang yang tidak ingin mencintai sesuatu dengan sungguh-sungguh.

 Kecintaan saya mungkin lebih bersifat sebatas ibadah saja. Kalau saya mencintai isteri saya, mencintai anak saya, mencintai keluarga saya, itu saya takut untuk mencintai mereka dengan sungguh-sungguh. Karena ketika hati kita sudah terikat dengan cinta yang sesungguhnya maka Allah Ta’ala akan menguji kita berdasarkan kecintaan kita itu. Dan itu ujian yang pasti diberikan kepada siapapun, karena orang yang zahid hanya pasti akan mengikatkan kecintaannya itu kepada Allah Swt.

Saya punya kawan (tetangga), ia mendapat mobil baru dan memperlakukan mobil itu dengan baik. Setiap hari ia mencucinya dua kali. Dan setiap ada goresan sedikit saja, hatinya itu tidak tentram. Artinya dia tidak enak kalau melihat mobilnya terkena goresan sedikit saja. Akhirnya dibawa lagi ke dialernya karena masih ada asuransi untuk menutupi goresan itu. Dan saya bilang, “Kamu akan diuji lewat mobil kamu.” Karena dia memperlakukan mobil itu dengan begitu rupa. Dia bilang, “Saya punya mobil ini, saya akan urus baik-baik, dan saya akan perlakukan itu seolah-olah saya akan memakai mobil ini untuk selama-lamanya.” Dan saya bilang, “Kita akan diuji berdasarkan sesuatu yang kita cintai.”

Tahu-tahu dia kasih SMS sama saya bahwa ketika mobilnya itu penuh dengan debu. Anak-anaknya menggambar dimobil itu. Karena menggambarnya diatas debu maka tergoreslah mobilnya itu dengan debu itu. Dibawa lagi mobil itu ke asuransi. Terakhir, mungkin sekitar seminggu yang lalu dia SMS lagi. Persis di depan rumah dia mobil itu kehilangan CD yang sangat mahal yang ia simpan disistu. Dan alat sterio yang ada dimobil itu dibobol oleh maling. Dan saya bilang, “Karena mungkin hati kita lekatkan kepada sesuatu yang kita cintai itu.”

Dan saya takut untuk mencitai sesuatu berlebihan. Mungkin juga tidak begitu berlebihan menurut kita. Tetapi kalau kita punya sesuatu yang kita anggap berharga, sesuatu yang hati kita lekatkan disitu, Allah Ta’ala akan menguji kita disistu. Bapak-bapak dan ibu-ibupun dapat praktekkan. Coba saja kita cintai suatu barang dengan berlebihan, Allah Ta’ala akan menguji kita. Dan yang paling tidak saya inginkan adalah kalau Allah Ta’ala menguji saya lewat orang-orang yang saya cintai. Jadi saya mencintainya antara ingin mencintai yang sesungguhnya sama dengan kekhawatiran saya takut diuji dengan sesuatu yang saya cintai. [bersambung]

@miftahrakhmat


Mon, 16 May 2016 @19:50

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved