JUAL PRODUK ANDA

Anda bisa pasang IKLAN pada www.misykat.net dengan posisi banner atas, sisi kiri dan kanan. Kontak Chat WA: 0895-3755-29394

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

Komunitas MISYKAT
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Zuhud dan Keadilan Sosial (5) [by Miftah F.Rakhmat]

image

Sampai hari ini dalam hati saya itu ada pertanyaan ketika Imam Husain as itu dipenggal oleh Dzimir laknatullah alaihi, apa ada dalam hati Imam Husain itu kecintaan kepada Dzimir? Orang yang sudah mendhalimi beliau, mendhalimi keluarganya, bahkan akhirnya mengeksekusi Imam Husain as ( Cucu Rasulullah Saw). Dulu saya pernah diskusi agak ramai berkenaan dengan apakah para Imam itu tahu siapa yang akan membunuh dia. Saya bilang, “Menurut saya, tahu.”

Apakah Rasulullah tahu beliau akan syahid, apakah Imam Ali tahu beliau akan syahid, apakah Imam Husain tahu beliau akan syahid. Saya jawab, iya. Kalau begitu mereka bunuh diri, karena mereka melangkah pada sesuatu yang sudah mereka ketahui. Imam Husain tahu kalau pada akhirnya beliau akan syahid, tapi tetap beliau berangkat. Dan ketika Imam Ali itu membangunkan Ibn Muljam untuk shalat subuh yang sudah menunggu dengan belati dibalik jubah dia untuk membunuh Imam Ali, ucapan Imam Ali kan, “Bangunlah kamu. Aku melihat ada niat buruk dikedua matamu.” Imam Ali juga sudah tahu (kalau beliau akan dibunuh, pen.), tapi tetap beliau shalat hingga kemudian dipenggal dari belakang. Tetap Imam Ali itu mengajak sampai detik terakhir, karena kecintaan.

Seorang yang sudah sampai tingkat kezahidan yang sangat tinggi, sampai detik terakhirpun ia tetap menunjukkan kecintaannya bahkan kepada orang yang hendak membunuh dia. Jadi kepada Abdurrahman ibn Muljam juga masih diajak amar makruf nahi mungkar, diajak shalat subuh oleh Imam Ali. Dan walaupun Imam Ali tahu ada niat buruk dikedua mata Abdurrahman ibn Muljam itu.

Imam Husain juga begitu, dia berikan peluang, ajaibnya. Dalam kisah asyura itu kan, terlepas benar tidaknya sejarah ini, tapi ketika Imam Husain hendak dipenggal dari depan, pedang itu tidak bisa melukai Imam Husain. Dan kata Imam Husain, “Kamu tidak bisa melukai aku dari arah itu, karena disitulah dulu nabi sering mencium aku.” Imam Husain kasih isyarat kepada pembunuhnya itu. Kemudian dibalikkanlah tubuh Imam Husain itu, jadi Imam Husain telungkup ke arah bumi, lalu kemudian dipenggal dari belakang. Nah, bayangkan orang sampai detik terakhirpun diberi kesempatan untuk bertaubat. Kepada ibn Muljam juga diberi kesempatan, walaupun para Imam itu tahu apa yang akan terjadi, itu tidak menafikan kebebasan berkehendak yang ada pada masing-masing individu itu. Tidak menafikan kebebasan dia untuk memilih, sampai detik yang terakhir.

Ibn Muljam itu sampai detik terakhir dia punya pilihan. Sampai Imam Ali mulai ruku’, dia punya pilihan apakah dia menebas Imam Ali atau tidak. Begitu juga Dzimir, dia punya pilihan sampai detik terakhir ketika pedang dia sedang tidak mampu melukai Imam Husain dari arah depan, masih ada pilihan pada dia bahkan bertaubat pada saat itu. Tapi ketika hati seseorang itu sudah mengeras dari pintu taubat, maka terjadilah apa yang sudah terjadi. Kebebasan berkehendak tidak dinafikan, walaupun para Imam sudah tahu ilmunya. Dan itu karena kecintaan mereka bahkan kepada orang yang memusuhi mereka. Dan kecintaan yang paling tinggi adalah kecintaan kepada Allah Ta’ala, kemudian kepada para kekasih Allah Swt, setelah itu adalah kepada seluruh kecintaan Allah Swt. Jadi zuhud itu ditandai dengan ketidakterikatan hati kita pada dunia walaupun kita boleh mempunyai dunia itu, asal hati tidak terikat kedalamnya.

Lalu kepada apa hati itu kita ikatkan? Hati kita itu kita ikatkan dalam perwujudan cinta kita pada sesama. Sesama manusia dan kepada alam semesta. Kalau kepada bangkai yang jijik saja Junaid al-Baghdadi bisa menunjukkan kecintaan dia, maka apalgi kepada orang, kepada makhluk, kepada hamba Allah Ta’ala yang seumur hidupnya berada dijalan Allah Swt. Kepada para Imam as., kepada para nabi dan para rasul itu kecintaan kita harus lebih dari semuanya. Karena itu dalam al-Qur’an ada ayat bahwa Allah dan nabi itu lebih berhak untuk kalian cintai.

Jadi seorang zahid itu adalah orang yang bukan saja bekerja keras, tapi kerja keras dia itu ia tunjukkan untuk menyebarkan kecintaan kepada sesama. Dan menurut saya, itu tidak menafikan orang untuk ikut serta dalam perubahan sosial, perubahan politik yang ada di tengah-tengah masyarakatnya. Hampir semua revolusioner dalam sejarah islam, juga ia adalah seorang sufi. Sudan itu bisa memimpin melawan penjajah dari Inggris dan Prancis, padahal dibelakangnya ada seorang sufi dari tarekat Sanusiyah, kalau saya tidak salah. Sampai sekarang itu baju tradisional Sudan yang putih, berbeda dengan baju arab yang lainnya, itu baju tarekat yang kemudian jadi baju nasional karena pemimpinnya mengalahkan penjajah waktu itu dan dicontoh oleh rakyatnya. Itu baju tarekat seorang sufi yang bisa mengalahkan penjajah waktu itu.

Imam Khomeini juga adalah seorang sufi (zahid) yang sangat agung menurut saya, beliau juga pemimpin revolusi. Malah berperang sekian tahun lamanya. Tidak menafikan diri dari perubahan-perubahan sosial, tapi tidak mengikatkan diri pada dunia sedikitpun. Imam Khomeini sampai akhir hayatnya tidak mempunyai apapun kecuali baju. Itupun hanya beberapa pasang saja. Di Indonesia juga kita kenal ada Imam Bonjol, ada Pangeran Diponegoro.

Yang terkhir, saya itu selalu terngiang ucapan ustad Jalal ketika mulud-an tahun ini di depan Madrasah as-Sajjadiyah. Kalau Nabi Saw itu datang diutus Allah Ta’ala dan yang beliau sampaikan adalah apa yang selama ini kita sampaikan dalam pengajian-pengajian itu. Kalau nabi datang kepada kita dan menyampaikan bahwa kita itu harus memelihara hati kita supaya tidak hasud, tidak dengki, dan kita harus sabar karena BBM dinaikkan misalnya.

Kalau nabi datang seperti itu, orang-orang kafirpun tidak akan ada yang protes satu pun. Tidak akan ada yang memerangi nabi. Tidak akan ada yang akan melempari sampah kepada Rasulullah. Kalau ajakannya itu hanya ajakan yang sifatnya seperti itu. Tidak ada yang akan memerangi nabi kalau ajakan nabi juga disisi lain hanya untuk beribadah saja, hanya untuk dzikir saja kepada Allah Ta’ala, dzikir sama-sama (berjemaah). Orang Quraisy juga bahkan akan ikutan dzikir dengan nabi itu. Tapi nabi datang dengan protes bahwa dalam Islam tidak ada beda antara orang kaya dan orang miskin, tidak ada yang disebut dengan bangsawan. Ukuran kemuliaan itu hanya ketaqwaan. Seseorang tidak harus menghamba kepada orang lain. Seseorang tidak harus menjadi budak orang lain. Orang kaya harus menyerahkan sebagian hartanya kepada orang miskin. Kemapanan orang-orang Quraisy waktu itu diusik oleh Rasulullah. Dan karena itulah mereka memilih untuk memerangi Rasulullah Saw.

Tapi kalau yang didakwahkan adalah zuhud versi yang pertama, tidak akan ada yang akan memerangi nabi. Justru karena dia datang dengan konsep zuhud bahwa manusia itu tidak harus memberatkan hatinya pada siapapun dan dia harus memerdekakan hati dia dari perbudakan kepada apapun, juga memerdekakan orang lain dari perbudakan kepada yang lainnya. Termasuk kepada dunia, kepada nikmat-nikmat yang datang dari Allah Swt. [tamat]

@miftahrakhmat

Thu, 19 May 2016 @18:20

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved