Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Obrolan dengan Pak Iip, Dosen, dan Tabayun kepada Ustadz Jalal

image

Seorang bapak berusia lanjut tersenyum. Di tangannya terselip sebatang rokok yang mengepul. Saya pun tersenyum kembali sambil terus menuju tempat pengajian. Pagi itu masih sepi. Belum ada orang di masjid. Saya masuk dan diam di ruang tengah masjid.

Tiba-tiba bapak itu menghampiri. Bapak itu mengenalkan dirinya bernama Iip Saripin. Usia 73 tahun. Berasal dari Garut. Pak Iip mengatakan bahwa dulu setiap minggu datang. Sekarang ini karena faktor tidak punya ongkos maka dua bulan sekali datangnya. Pak Iip kalau mau ke masjid, malam minggu menginap di rumah anaknya di Cicalengka. Subuh berangkat pakai kereta api dan  berhenti di Kiaracondong. Kemudian pakai ojeg dan kadang jalan kaki menuju masjid.

“Hoyong ngiring pangajian salasa malem rebo. Malihan hoyongna mah unggal dinten minggon. Bapa atos kirang langkung dalapan taun ngiring pangajian Ahlulbait. Ngiring bae ka ajaran anu diajarkeun ku Ustadz Jalal sareng Ustadz Miftah. Bapa yakin ieu ajaran yang bener. Sanajan disebut sasar, tapi ari geus yakin mah teu paduli. Bapak cinta ka Rasulullah sareng Ahlulbait,” ucapnya.

Ahlulbait

Saya terdiam dan angguk kepala. Saya terharu. Dalam usia yang sepuh masih terus semangat untuk mengaji. Meski jauh terus saja ditempuh. Dalam obrolan, Pak Iip sempat tanya: “Dupi ujang (menyebut saya dengan sapaan khas Sunda) tos lami lebet Ahlulbait?”

Ditanya seperti itu, saya tersenyum. Saya hanya meminta doa agar bisa sampai pada yang dimaksud oleh Imam-imam Ahlulbait yang tercantum dalam hadis. Saya katakan kepada Pak Iip bahwa menjadi seorang pengikut Ahlulbait itu susah dan berat. Sampai saat ini masih berposisi sebagai pembelajar dan pecinta saja. Belum sampai seperti yang tercantum dalam hadis-hadis tentang ciri orang Syiah yang kriterianya akhlak mulia.

Pak Iip menganggukan kepala. Tiba-tiba datang seorang yang biasa membaca doa pagi dan sore. Kepada saya, Pak Iip meminta izin untuk duduk bersandar di tembok belakang. Saya anggukan kepala dan masih ditempat sambil menikmati alunan doa. Peralatan layar dan infokus pun dipasang oleh petugas. Sekira setengah jam datang Ustadz Jalal membawa laptop. Memasangnya kemudian memulai pengajian. Jamaah bertambah dan mulai masuk dalam masjid.

Kajian pagi itu tentang kesabaran menjadi pengikut Ahlulbait. Hadis-hadis dari sejumlah kitab dibahas. Yang menarik, Ustadz Jalal menyampaikan rencana pembuatan undang-undang di DPR tentang larangan meminum minuman yang mengandung alcohol. Terjadi perdebatan dan tidak mudah. Begitu kesan yang saya tangkap dari ceramahnya. Dibahas pula seorang sahabat yang doyan minum nabit (sejenis minum dari perasan anggur). Bahkan sampai akan meninggal pun masih minum nabit yang memabukkan. Sayangnya tidak disebutkan siapa sahabat tersebut.

Tabayun

Selesai ceramah, seorang Bapak yang mengaku dosen bertanya tentang beda Syiah dan Sunni. Mulai dari nash-nash yang dijadikan dalil rujukan Syiah sampai makna hadis laa Ilaaha Illallaah yang dibaca saat akan meninggal. Ustadz Jalal dengan santai menjawabnya dan sesekali dengan lelucon. Kemudian ditanya lagi oleh pak dosen itu dan dijawab lagi dengan santai. Saya terus memperhatikan dialog tersebut. Asyik dan mencerahkan. Memang seharusnya demikian. Jika ada yang tidak paham sebaiknya ditanyakan kepada ahlinya. Tepat yang dilakukan Pak Dosen tersebut, bertanya tentang Syiah kepada sumber dan pelakunya. Moga saja semakin banyak orang yang berani tabayun seperti bapak dosen tersebut.

Alhamdulillah, saya dapat banyak ilmu. Terima kasih untuk Ustadz Jalal. Hatur nuhun buat kawan-kawan yang beri informasi kajian. Sangat bermanfaat. [Ikhwan Mustafa]      

Obrolan dengan Pak Iip, Dosen, dan Tabayun kepada Ustadz Jalal

Seorang bapak berusia lanjut tersenyum. Di tangannya terselip sebatang rokok yang mengepul. Saya pun tersenyum kembali sambil terus menuju tempat pengajian. Pagi itu masih sepi. Belum ada orang di masjid. Saya masuk dan diam di ruang tengah masjid. Tiba-tiba bapak itu menghampiri. Bapak itu mengenalkan dirinya bernama Iip Saripin. Usia 73 tahun. Berasal dari Garut. Pak Iip mengatakan bahwa dulu setiap minggu datang. Sekarang ini karena faktor tidak punya ongkos maka dua bulan sekali datangnya. Pak Iip kalau mau ke masjid, malam minggu menginap di rumah anaknya di Cicalengka. Subuh berangkat pakai kereta api dan  berhenti di Kiaracondong. Kemudian pakai ojeg dan kadang jalan kaki menuju masjid.

“Hoyong ngiring pangajian salasa malem rebo. Malihan hoyongna mah unggal dinten minggon. Bapa atos kirang langkung dalapan taun ngiring pangajian Ahlulbait. Ngiring bae ka ajaran anu diajarkeun ku Ustadz Jalal sareng Ustadz Miftah. Bapa yakin ieu ajaran yang bener. Sanajan disebut sasar, tapi ari geus yakin mah teu paduli. Bapak cinta ka Rasulullah sareng Ahlulbait,” ucapnya.

Ahlulbait

Saya terdiam dan angguk kepala. Saya terharu. Dalam usia yang sepuh masih terus semangat untuk mengaji. Meski jauh terus saja ditempuh. Dalam obrolan, Pak Iip sempat tanya: “Dupi ujang (menyebut saya dengan sapaan khas Sunda) tos lami lebet Ahlulbait?”

Ditanya seperti itu, saya tersenyum. Saya hanya meminta doa agar bisa sampai pada yang dimaksud oleh Imam-imam Ahlulbait yang tercantum dalam hadis. Saya katakan kepada Pak Iip bahwa menjadi seorang pengikut Ahlulbait itu susah dan berat. Sampai saat ini masih berposisi sebagai pembelajar dan pecinta saja. Belum sampai seperti yang tercantum dalam hadis-hadis tentang ciri orang Syiah yang kriterianya akhlak mulia.

Pak Iip menganggukan kepala. Tiba-tiba datang seorang yang biasa membaca doa pagi dan sore. Kepada saya, Pak Iip meminta izin untuk duduk bersandar di tembok belakang. Saya anggukan kepala dan masih ditempat sambil menikmati alunan doa. Peralatan layar dan infokus pun dipasang oleh petugas. Sekira setengah jam datang Ustadz Jalal membawa laptop. Memasangnya kemudian memulai pengajian. Jamaah bertambah dan mulai masuk dalam masjid.

Kajian pagi itu tentang kesabaran menjadi pengikut Ahlulbait. Hadis-hadis dari sejumlah kitab dibahas. Yang menarik, Ustadz Jalal menyampaikan rencana pembuatan undang-undang di DPR tentang larangan meminum minuman yang mengandung alcohol. Terjadi perdebatan dan tidak mudah. Begitu kesan yang saya tangkap dari ceramahnya. Dibahas pula seorang sahabat yang doyan minum nabit (sejenis minum dari perasan anggur). Bahkan sampai akan meninggal pun masih minum nabit yang memabukkan. Sayangnya tidak disebutkan siapa sahabat tersebut.

Tabayun

Selesai ceramah, seorang Bapak berusia 50 tahun dan mengaku dosen bertanya tentang beda Syiah dan Sunni. Mulai dari nash-nash yang dijadikan dalil rujukan Syiah sampai makna hadis laa Ilaaha Illallaah yang dibaca saat akan meninggal. Ustadz Jalal dengan santai menjawabnya dan sesekali dengan lelucon. Kemudian ditanya lagi oleh pak dosen itu dan dijawab lagi dengan santai. Saya terus memperhatikan dialog tersebut. Asyik dan mencerahkan. Memang seharusnya demikian. Jika ada yang tidak paham sebaiknya ditanyakan kepada ahlinya. Tepat yang dilakukan Pak Dosen tersebut, bertanya tentang Syiah kepada sumber dan pelakunya. Moga saja semakin banyak orang yang berani tabayun seperti bapak dosen tersebut.

Alhamdulillah, saya dapat banyak ilmu. Terima kasih untuk Ustadz Jalal. Hatur nuhun buat kawan-kawan yang beri informasi kajian. Sangat bermanfaat. [Ikhwan Mustafa]       

Tue, 31 May 2016 @10:22

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved