Rubrik
Terbaru
Telegram Misykat
image

.

YouTube Misykat TV
image

.

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

TATA CARA SHALAT

Minat beli buku klik covernya
image

 

Flash Disk OTG Kajian Islam
image

.

Facebook Misykat
image

.

BAHAN BACAAN (Buku PDF)
image

 

Menghadiahkan Pahala

image

Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad

Seorang sahabat Rasulullah Saw, Sa’ad bin ‘Ubadah ra, baru saja ditinggal wafat ibunya. Ia mendatangi Baginda Nabi Saw dan bertanya, “Ya Rasulallah, (untuk ibuku) sedekah bagaimanakah yang paling baik?” Sa’ad ingin menghadiahkan pahala sedekah itu untuk ibunya. Baginda Nabi Saw menjawab, “Air.” Maka Sa’ad pun membangun sebuah sumur. Ia niatkan untuk ibunya seraya berkata, “Hadzihi li ummi Sa’ad” Ini (hadiah) untuk Ummu Sa’ad. (Sunan Abu Dawud, 2:130, hadits 1681)

Saya masih teringat peristiwa bertahun-tahun lalu itu. Dalam sebuah acara Mawlidur Rasul Saw, Pak Joko Direktur Sekolah Muthahhari tertahan dalam isakan. Kami baru saja meluncurkan SMP Bahtera. Sekolah yang kelima di bawah naungan Yayasan Muthahhari. Setelah SMA, kemudian SMP di Kabupaten Bandung, lalu Madrasah Al-Qur’an, sebuah Sekolah Dasar, dan kemudian SMP yang kedua. Kali ini, di Kota Bandung.

KH. Jalaluddin Rakhmat dalam ceramah Mawlid itu berkisah tentang _lisaana shidqin_. Beliau menerjemahkannya ‘kenangan indah’. Setiap kita diharapkan agar membawa kenangan indah untuk generasi setelah kita. Sudahkah kita siapkan? Sudahkah kita miliki? Demikian pesan beliau.

Lisaana Shidqin diambil dari doa Nabi Ibrahim as dalam Surat Ash-Shu’ara: 84. Di gerbang Sekolah Cerdas Muthahhari dipahatkan terjemahan doa itu dalam Bahasa Inggris: _My Lord, grant me wisdom. Join me with the righteous. And let me be a good remembrance for those after me. And let Paradise be my returning home_. Tuhanku, karuniakan padaku hikmah. Jadikan aku _buah tutur yang baik_ (lisaana shidqin) bagi generasi sepeninggalku. Dan jadikan aku termasuk pewaris Surga yang penuh kenikmatanMu.

Tidak banyak yang tahu, setiap kali siapa saja memasuki sekolah kami, keberkahan doa itu insya Allah meliputi mereka. Terutama, kami antarkan untuk murid-murid sekolah yang hadir setiap hari. Sebagaimana Nabi Ibrahim as, kami berdoa agar anak-anak kami dapat beroleh hikmah (lebih dari sekadar pengetahuan), agar mereka bermanfaat bagi sesama dengan perkhidmatan mereka, dan agar dekat selalu dalam ibadah untuk berjuang beroleh Surga Na’im itu.

Maka, Pak Joko menahan tangisan karena kami berharap agar sekolah-sekolah itu menjadi lisaana shidqin kami. Kenangan indah yang kami tinggalkan. Mungkin buahnya belum sekarang terlihat, tapi kami bahagia karena telah ikut menyemainya.

Lalu untuk siapa sekolah itu ingin kami hadiahkan? Ustad Jalal juga mengajarkan agar kita punya hadiah sederhana untuk Junjungan Kekasih Hati, bidha’ah muzjaah. Terjemahan Bahasa Indonesia memilih kata ‘barang tak berharga’. Sebuah bekal untuk dibawa dalam perjalanan panjang yang abadi. Sejak awal kami niatkan, sekiranya ada pelajaran agama yang khusus di Sekolah-sekolah Muthahhari, itu adalah kecintaan pada Rasulullah Saw. Kecintaan pada Sang Nabi. Karena itu, dalam setiap gerakannya anak-anak dikawal dengan shalawatan. Sebelum belajar shalawatan. Setelah belajar shalawatan. Sebelum istirahat shalawatan. Ketika hendak bermain shalawatan, sebelum pulang mereka akan bershalawat juga. Kami percaya benar riwayat yang mengatakan, “Siapa yang lebih banyak bershalawat kepadaku, lebih dekat juga kedudukannya denganku.” (HR. Al-Baihaqi 3:249, Al-Dzahabi dalam Muhadzzab Sunan al-Baihaqi hadits 5334, Al-Mundziri dalam Al-Targhib wa al-Tarhib 2487). Kita boleh berdoa agar anak kita jadi apa saja, tapi tiada doa yang lebih indah selain memohon agar anak-anak kita didekatkan dengan Rasulullah Saw. Sekolah Cerdas Muthahhari yang disingkat SCM itu, kami maknai pula “Sekolah Cinta Muhammad (Saw)”.

Dan memang, ternyata, menghadiahkan amalan akan memberikan motivasi yang berbeda. Sebuah dorongan dan niat untuk memberikan yang terbaik. Seperti Sa’ad, ia ingin memberikan berkah yang takkan pernah berhenti untuk ibunya. Ia memilih menggali sumur. Selama airnya mengalir, pahalanya juga tak pernah berhenti mengalir. Kami dirikan sekolah. Selama manfaat ilmunya mengalir, kami harapkan pahalanya juga tak berhenti mengalir.

Cobalah mulai menghadiahkan amalan. Bila nanti malam membaca niat puasa, niatkan juga untuk menghadiahkan pahalanya bagi orang-orang tercinta. Bagi para guru dan kedua orangtua. Bagi para kekasih sumber segala bahagia. Dan lihatlah apa yang terjadi dengan puasa kita. Lihatlah perubahan setelah itu.

Bagaimana pula bila itu kita lakukan untuk setiap ibadah kita?

@miftahrakhmat

Sun, 12 Jun 2016 @11:54

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved