Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Catatan Ustadz Miftah Rakhmat: Menghormati yang Tidak Berpuasa

image

 

Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad

Melatih empati tak bisa asal jadi. Empati muncul dari kendali diri. Terkadang kita berbincang tentang sesuatu yang kawan kita tidak memilikinya. Empati membutuhkan kesadaran akan hal-hal yang ada di sekitar kita. Empati memerlukan satu dua detik berpikir sebelum kata terlontar dari lisan kita.

Seperti pernah satu saat, di SMP Bahtera Muthahhari. Dalam kultum yang digelar setiap Selasa dan Kamis siang. Anak-anak sekolah menengah itu setiap Zhuhur shalat berjamaah bersama, lalu tadarusan membaca Al-Qur’an, dan mengikuti kuliah tujuh menit usai shalat. Setiap hari. Guru-guru bergantian mengisi, juga anak-anak. Kecuali untuk hari Selasa dan Kamis, giliran saya yang memberi materi.

Di antara yang khas di beberapa sekolah Muthahhari adalah sebuah program yang disebut dengan Home Visit. Ini kunjungan rutin sesemester sekali. Guru bertandang ke rumah, melihat keseharian dan berbincang dengan orangtua tentang perkembangan anak-anak. Usai Home Visit, guru-guru merekap ‘permasalahan’ dan merumuskannya dalam program di sekolah.

Tahun lalu, kabar yang masuk dari para orangtua adalah tentang hubungan mereka dengan anak-anak mereka. Setelah SMP, anak-anak tak lagi bercerita keseharian mereka di sekolah. Tidak seperti di Sekolah Dasar. Anak-anak lebih sering berbagi dengan teman-teman mereka, berkomunikasi melalui sederet jejaring sosial media. Pendek kata, orangtua merasa tidak dekat lagi dengan anak-anak. Tidak seperti sebelumnya.

Berdasarkan itu, maka materi-materi kultum diarahkan pada hubungan anak dan orangtua. Tentang menghormati mereka. Tentang pengorbanan dan cinta orangtua bagi anak-anaknya. Tentang buah simalakama. Intinya, orangtua menunggu dan akan selalu siap untuk anak-anak mereka.

Hingga satu saat, pada saat bersalaman usai shalat, seorang anak datang dan berkata, “Pak, maaf, aku tidak suka materi yang Bapak sampaikan…” O ya, saya mendelik sambil tetap berusaha mempertahankan senyum. Setiap salaman saya panggil nama anak-anak itu, mengembangkan hubungan personal. Meski tidak masuk seluruh kelas, saya berusaha mengingat nama mereka.

Tak urung, komentar murid itu membuat saya merenung. Saya telusuri. Ada yang saya lupakan. Empati. Tidak semua murid masih lengkap punya ayah dan ibu. Tidak semua murid juga tinggal serumah dengan ayah dan ibu. Mungkin, tidak semua murid juga punya hubungan yang baik dengan ayah dan ibu. Saya harus mencari cara lain bagaimana mengajarkan cinta kasih orangtua, tanpa membuat mereka lebih merasa menderita.

Di Sekolah Cerdas Muthahhari, kami pernah mengubah materi pohon keluarga, hanya karena kebetulan pada saat yang sama ada seorang anak yang baru saja kehilangan ibunya. Atau bila ada hal yang terkait dengan permasalahan rumah tangga di antara kedua orang tua mereka. Memang kurikulum itu generik, tetapi penerimaan setiap anak spesifik. Ucapan kita mungkin umum, tapi persepsi penerima bergantung bingkai yang sedang ia gantung. Ternyata empati, tak semudah yang diduga.

Maka saya bersyukur diperkenalkan Allah Ta’ala pada para teladan suci. Junjungan kekasih hati Baginda Nabi Saw dan keluarganya. Baginda adalah pemuka setiap anak yatim, setiap mereka yang terpisah dari ayah dan ibundanya, setiap mereka yang merindukan kehadiran orangtuanya. Baginda dijauhkan dari orang-orang yang dicintainya, dan Baginda Saw tidak pernah sekali pun tidak memuliakan mereka. Sungguh, pada diri Baginda Saw ada suri tauladan teramat mulianya. Maka untuk memperkenalkan empati pada anak-anak, perbanyak berkisah tentang Sang Nabi. Ajak anak-anak mengenal dan mencintai Sang Rasul suci Saw.

Bulan puasa ini adalah bulan belajar empati. Menghormati yang tidak berpuasa. Menghormati saudara berbeda agama. Menghormati mereka yang berfikih berbeda. Saudara mau tarawih sebelas atau duatiga, satu salam dalam witir atau dua? Empati. Mengeluh karena puasa yang lama? ingatlah saudara kita di negeri-negeri Nordik, Denmark terutama. Di sana, Kaum Muslimin berpuasa 21 jam lamanya. Masih sempatkah mereka shalat tarawih? Bila mengambil yang 23, usai tarawih, mereka bersiap sahur segera.

Ya Allah, terlalu banyak nikmatMu yang kami dustakan. Begitu kita berkata, “Untung kita tidak mengalaminya…untung bukan kita… dan sebagainya.” empati itu pelan-pelan dihilangkan dari kita. Dan jauhlah kita dari Baginda. Betapa tidak, sedang Baginda Saw adalah ia yang paling berat hatinya melihat kita menderita.

Adakah doa di sahur tadi untuk saudara kita di Palestina? Di Suriah, Yaman dan pengungsi di negeri-negeri Eropa? Adakah doa untuk mereka yang lapar, sakit, dan kekurangan di sekitar kita? Masihkah empati ada dalam diri kita?

@miftahrakhmat

 

 

Tue, 14 Jun 2016 @16:44

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved