Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Bulan suci ini adalah bulan Al-Quran [by Miftah F.Rakhmat]

image

Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad


Pagi ini saya bersyukur. Alhamdulillah, saya menghadiri pembukaan kegiatan Pesantren Bulan Ramadhan di SMP Bahtera. Beberapa kali kami tergelak bersama. Anak-anak mengisi kegiatan dengan tadarusan. Bulan suci ini adalah bulan Al-Quran.

“Bagi segala sesuatu ada musimnya, dan musim Al-Qur’an adalah bulan suci Ramadhan,” demikian nasihat dari Imam Muhammad al-Baqir as. Maka anak-anak memulai membaca kitab suci dengan adab yang mereka jaga. Di antaranya, tidak meletakkan Al-Qur’an di bawah. Mereka genggam Al-Qur’an dengan baiknya. Mereka letakkan Al-Qur’an di meja yang sudah tersedia saat hendak mendengarkan ceramah saya. Maka saya pun berkisah tentang adab memuliakan Al-Qur’an itu. Bukan hanya kitabnya yang kita hormati, tetapi juga bacaan dan tulisannya.

Saya kisahkan seseorang yang menemukan lafaz ‘Allah’ tergeletak, lalu ia bersihkan, ia beri bingkai dan ia pasang dengan baik di dinding rumah. Malamnya, ia bermimpi. Suara datang berkata, “Karena kau telah muliakan nama Allah, Allah Ta’ala akan muliakan namamu.”

Saya ingatkan anak-anak betapa banyak undangan pernikahan yang di dalamnya ada ayat suci Al-Qur’an, dan ia berserakan di sudut-sudut rumah kita. Mungkin, na’udzu billah, tercecer dan dianggap sampah lalu dibuang begitu saja. Saya ceritakan pada mereka tentang seorang yang mengoleksi menggunting bagian ayat Al-Qur’an itu dan menyimpannya.

Nah, selain adab lahiriah, ada pula adab batiniah. Yaitu menjaga apa yang terlontar dari lisan kita. Puasa tubuh adalah menahan apa yang masuk ke dalam mulut, sedangkan puasa ruh adalah menahan apa yang keluar daripadanya. Puasa tubuh menjaga makan dan minum. Puasa ruh menjaga apa yang diucapkan lisan. Karena itu, di antara adab memuliakan Al-Qur’an, adalah menjaga lisan. Karena dengan itu kita membaca Al-Qur’an. Dokter gigi akan sangat senang. Peliharalah kesehatan gigi dan mulut, karena bila sehat lidah dan mulut, kita bisa membaca Al-Qur’an. Dokter mata juga akan senang. Peliharalah mata, karena dengannya kita melihat Al-Qur’an. Dokter umum juga akan senang, karena kalau tubuh tidak sehat bagaimana akan dapat membaca Al-Qur’an. O ya, saya kisahkan pula pada anak-anak tentang hidangan terbaik dan terburuk yang diberikan pada seorang raja. Tentu, saya berinteraksi. Bulan suci mesti pandai-pandai menjaga ritma anak-anak. Kata Allamah Qara’ati, kalau anak-anak tidak tertawa setiap lima menit, turun saja dari mimbar. Ampuun…

Saya ceritakan pada mereka ada profesi yang menggiurkan: menjadi tester makanan para pemimpin. Resikonya: meninggal bila ada racunnya. Nah, seorang raja meminta disediakan makanan terbaik. Anak-anak berbeda pendapat. Siang-siang membincangkan makanan di bulan suci adalah trik terbaik menjaga mereka tetap waspada. Mereka menyebut ragam makanan dari tahu bulat hingga jengkol. Dari belewah hingga es cendol. Makanan terbaik untuk raja itu ternyata berbahan dasar lidah. Ketika ditanya, koki menjawab: karena dengan lisan seorang dimuliakan, seorang dihormati dan dipuji.

Esoknya, raja meminta makanan terburuk. Koki datang dengan bahan dasar yang sama. Ia menjelaskan: dengan lisan pula seorang dikecam. Melalui lisan dijatuhkan kehormatan. Karena lisan disebarkan fitnah, desas desus tak berdasar. Sungguh, keselamatan manusia bergantung apa yang diucapkannya.


Manusia terjaga sebelum ia berkata, demikian nasihat dari Imam Ali as. Atas dasar itulah, SMP Bahtera mengambil tema Bulan suci Al-Qur’an dengan adab menjaga lisan. Berikut spanduk yang terbentang lebar di depan sekolah: Dengan Al-Qur’an, jagalah lisan. Tak dekat dengan Al-Qur’an orang yang suka menggunjingkan. Jauhlah dari al-Qur’an pelaku fitnah dan ujar kebencian.

Pernah ada anak merasa tidak enak. Di satu tempat, seseorang datang kepadanya, lalu berkata sesuatu yang tidak pantas. Orang itu menjelek-jelekkan sekolahnya. Kepada anak-anak itu saya berkata: “Kalau kita masuk ke warung penjual bubur. Tanpa pernah membeli darinya sebelumnya. Lalu kita cecar dia dengan perkataan, ‘Bapak tukang tipu, masakan Bapak kotor, membuat sakit, ada racunnya…’ dan sebagainya. Apakah saya beradab atau biadab?”

Anak-anak serempak menjawab, “Biadab…”

“Perbuatan terpuji atau tercela?”
“Tercela.”

“Baik atau buruk?”
“Buruk.”

Demikianlah. Bila orang menyebarkan berita tidak benar tanpa tabayun, menggoreng fitnah dan mengcopypastenya. Apalagi menuduh sesuatu yang mereka jahil daripadanya. Ya Allah, ampuni kami untuk semua itu. Bila dengan lisan yang sama yang digunakan menggunjing, berdusta, memfitnah, dan berkata-kata kasar…bagaimana mungkin dengan lisan yang sama, Ya Allah, kami lantunkan ayat-ayat suciMu?

Ampuni kami ya Allah. Ampuni…

@miftahrakhmat

Thu, 16 May 2019 @08:24

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved