Rubrik
Terbaru
Kirim Artikel & Pertanyaan

ke email: abumisykat@gmail.com

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

RSS Feed
Minat beli buku klik covernya
image

Minat BUKU hubungi WA Misykat

AUDIO KAJIAN ISLAM

Instagram MisykatNet
image

.

Follow Twitter Misykat
image

Silahkan ikuti Twitter Misykat

YouTube Misykat TV
image

Subscribe Channel Misykat TV

TATA CARA SHALAT

PENGUNJUNG

Flag Counter

Mari Berpendapat [by Miftah Rakhmat]

image

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad

Keluarga besar Muthahhari berbangga. Ibu Muftiah Yulismi, Ketua Komite Sekolah Cerdas Muthahhari aktif terjun dalam kelompok kerja pendidikan inklusif di kota Bandung. Beliau terlibat dalam perjalanan panjang perumusan sejak awal, pengembangan, hingga pelaksanaannya di tahun ini.

Apa artinya? Keberpihakan pada peserta didik yang selama ini mungkin kesulitan mendapatkan sekolah karena kebutuhan mereka yang khusus, kini terjembatani. Inklusif artinya setiap anak istimewa. Sekolah bukan untuk anak yang dianggap normal saja. Sekolah wajib menerima anak-anak dengan seluruh keragaman mereka. Inklusif artinya mengapresiasi anugerah khusus Tuhan untuk setiap jiwa.

Pokja Pendidikan Inklusif digulirkan di Bandung secara resmi tahun ajaran ini dengan dukungan Pak Walikota. Bu Muftiah, adalah wakil ketua Pokja ini. Tentu ia sibuk luar biasa. Kami bangga karena program pemberdayaan yang juga menjadi misi sekolah-sekolah Muthahhari turut ‘tertanam’ dalam semangat yang diusung oleh Pokja ini. Saya lebih senang menyebutnya ‘Sekolah untuk semua’. Ya, sekolah tidak boleh memilah-milah calon muridnya karena keterbatasan tertentu.

Ambil contoh, Sekolah kuatir nilai rata-ratanya turun karena ada anak berkebutuhan khusus. Atau, ada bullying terhadap mereka yang memiliki kecenderungan itu. Berat memang, itulah mengapa kami bahagia akhirnya ia digulirkan. Sekolah harus memberi kesempatan semua anak sama.

Tentu ada kebijakan khusus Sekolah. Misalnya, di SMA Plus Muthahhari, semua anak kami terima sepanjang ada dalam batas kemampuan guru-guru untuk membimbing mereka. Apa maksudnya ‘batas kemampuan’? Katakanlah ada anak terkendala dengan masalah obat-obatan, maka kami sarankan ia direhabilitasi terlebih dahulu. Bukan menolak, tetapi karena penanganan perkara itu di luar kemampuan guru-guru.

Dan sejak awal berdiri, Sekolah-sekolah Muthahhari dinasihati Ust. Jalal untuk memperlakukan setiap murid istimewa. Konsep _multiple intelligences_ dikembangkan. Pembelajaran berbasis otak dan pengembangan kurikulum murid tersendiri. Kami bahagia bisa turut berkontribusi di dalamnya. Penghormatan pada perbedaan memang harus dimulai sejak bangku sekolahan. Dan itu tidak terbatas pada potensi fisik dan bawaan peserta didik.

Anak-anak juga harus dibiasakan dalam percaturan pendapat yang berbeda. Guru juga harus membuka ruang ada jalan pemecahan masalah yang tak sama. Sekolah inklusif baik pula disertai dengan penghargaan terhadap tata cara dan penghayatan pengamalan keagamaan setiap orangnya. Menghormati sesama dimulai dari dalam jiwa.

Konon, di beberapa sekolah disebarkan brosur yang mewaspadai aliran tertentu. Sekolah justru harus mengupasnya dengan adil, imbang dan transparan. Ada guru matematika yang sebelum materi memberi kuliah limabelas menit tentang agama. Lalu terdengar ia memandang sesat yang beda pendapat. Inklusi harus dimulai dari cara pandang kita terhadap sesama.

Dan kaum Muslimin Indonesia rentan sekali terhadap perbedaan ini meski mayoritas sangat arif menghadapinya. Hanya ulah sekelompok kecil saja yang sering bikin ribut, the noisy minority. Mayoritas sebetulnya toleran, hanya segelintir kecil yang memaksakan.

Lihat bagaimana hari pertama bulan suci tahun ini dimulai bersama. Saya bersyukur. Karena malaikat tak harus turun naik di malam ganjil di bulan suci. Bila hari pertama berbeda, malam 21 kelompok yang satu adalah malam 22 kelompok yang lain. Begitu selanjutnya. Mengapa tidak dilanjutkan tradisi baik itu? Tetapi, sekiranya terjadi, biarlah perbedaan itu menjadi khazanah yang memperkaya alternatif pengamalan keberagamaan bangsa.

Toh, pada tanggal-tanggal merah lainnya, mereka sepakat. Tak pernah ada libur 1 Muharram berbeda, atau libur Isra Mikraj, atau libur Mawlidur Rasul Saw. Apalagi bila bersamaan dengan libur panjang. Semua ikut tanggal merah Pemerintah. Hanya di bulan suci Ramadhan saja ada keistimewaan itu. Dan menghargai keistimewaan adalah ciri khas pendidikan inklusif. Biarlah malaikat kebingungan kapan harus turun di malam ganjil. Itu urusan mereka.

Tersisa satu hal lagi yang belum terselesaikan. Yaitu penentuan nuzulul qur’an. Bila Al-Qur’an turun di malam qadar, dan malam itu adalah malam ganjil rahasia di sepuluh malam terakhir…lalu mengapa ia diperingati di tanggal 17 bulan suci?

Mari berpendapat, mari berdebat, tetapi dengan penuh rasa hormat. Itulah pesan besar yang digulirkan oleh Bu Muftiah dan kawan-kawan. Selamat Bu! Kami turut berbangga. Salam untuk rekan-rekan semua. ***

@miftahrakhmat


Thu, 30 Sep 2021 @08:33

Copyright © 2021 Misykat · All Rights Reserved