Filsafat adalah Dunia Saya

image

Saya suka filsafat. Filsafat adalah dunia saya. Awalnya,  saya suka eksistensialisme, terutama Jean Paul Sartre. Sartre menyeret saya sampai di bibir jurang “kehampaan makna”. Rumi menyelamatkan saya ! Lalu, secara perlahan, saya suka pemikiran kiri, sosialis. Saya suka visi pembebasannya, tapi tidak pada materialismenya. Di wilayah ini, saya berdampingan dengan gugus gagasan Ali Shariati.  Islam kiri, begitu kira-kira orang melabeli. Imam Khomeini, pemimpin Revolusi Islam Iran, yang menampilkan Islam sebagai ideologi pembebasan, pun jadi idola. Saat masih mahasiswa, saya menempel poster Imam Khomeini di dinding kamar kos. Bahkan, saking nge-fansnya,  saya menamai putra saya dengan nama asli Imam Khomeini: Ahmad Ruhullah. Lalu,apa  yang menarik dari seorang Khomeini?

Dalam tradisi ruhani, Imam  Khomeini dipandang telah melalui empat perjalanan ruhani (al-asfar al-arba’ah) Shadra. Dalam banyak kesempatan, Imam Khomeini menegaskan bahwa, puncak spiritualitas, kehidupan ruhani, bukan pada titik dimana seseorang “menyatu” dengan Allah, tetapi ketika seseorang dengan visi penyatuannya itu membebaskan masyarakat dari segenap belenggu penindasan, kezaliman.

Sufi sejati adalah mereka yang berteriak-llantang di depan trinitarianisme sosial: penguasa penindas, para pemodal tamak, dan para agamawan palsu. Tak ada lagi yang ditakutinya selain Allah. Semua sikap tersebut lahir dari pengetahuan puncak tentang dirinya. Aku bukan siapa-siapa. Aku bukan apa-apa. Tak ada lagi cita-cita keduniawian. Ia telah melampauinya. Sufi seperti ini akan menunjukkan bahwa, agama bukanlah obat bius yang melenakan masyarakat dari kesadaran akan ketertindasan mereka. Visi pembebasan ini penting dalam situasi dimana agama kadang dimanipulasi sebagai alat kekuasaan kelas-kelas sosial untuk menindas.

Selanjutnya, saya melihat, tantangan dunia saat ini bukan hanya soal penindasan (yang diperhalus dengan ragam teori), tetapi juga adanya krisis kemanusiaan dan lingkungan hidup. Melihat hal tersebut, saya pun gandrung dengan perennialisme. Bagi saya, Perennialisme membuat filsafat (dalam arti philosophia) bukan hanya sekedar olah pikir, akrobat mental saja, tetapi sebagai jalan hidup. Perennialisme menginjeksikan: Pembedaan dan Penyatuan yang merupakan jantung dari semua ajaran-ajaran agama ortodoks. Kenali Yang Nyata dan manifestasinya, bedakan Yang Nyata dengan Yang ilusi, lalu menyatulah dengan Yang Nyata.

Begitu kira-kira imperatif kaum perennialis. Pandangan  holistik khas perennialisme dalam melihat  realitas akan menjadi obat penyembuh sakit peradaban kita saat ini. Ini pun visi pembebasan, sesungguhnya. Pengetahuan yang menyelamatkan. Menyelamatkan jiwa manusia modern dari labirin ketakbermaknaan hidup, dan menyelamatkan alam dari destruksi lebih lanjut tangan-tangan manusia yang kehilangan jati diri, visi primordialnya.

Wa Allahu a’lam bi al-shawabi

10 Ramadahan 1437 H/ 15 Juni 2016 M.

 Muhammad Subhi Ibrahim, Dosen Universitas Paramadina Jakarta

Sat, 18 Jun 2016 @14:41

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved