AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Merampas Hak Orang Tidak Berpuasa [KH Jalaluddin Rakhmat]

image


IZINKAN saya bercerita dulu karena pada bulan Ramadhan ini kita biasanya lebih senang mendengar cerita ketimbang berbicara yang agak ilmiah.

Pada bulan Ramadhan, pada hari yang ke-16 Rasulullah Saw berangkat beserta para sahabatnya menuju Mekkah. Sampai kira-kira sekian ratus mil dari Kota Madinah menjelang waktu ashar, para sahabat datang mengadu kepadanya, Ya Rasulullah berat sekali puasa dalam perjalanan ini, terutama mereka yang tidak mengendarai kendaraan, lalu Rasulullah Saw minta agar disediakan air dan kemudian kata beliau angkat air itu dihadapan orang banyak. Beliau berbuka disaksikan orang banyak dan beliau memerintahkan, aku berbuka dan berbukalah kalian. Lalu orang-orang melapor, ya Rasulullah ada sebagian orang terus saja puasa, kemudian Rasulullah Saw berkata, mereka adalah pendurhaka-pendurhaka. Dan beliau menyebut perkataan ini dua sampai tiga kali.

Hadist ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim, Turmudzi, Ibnu Hibban, Tafsir at-Thobari dan banyak kitab tafsir yang meriwayatkan hadist ini. Menurut Albani, hadist ini shahih.

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist ini adalah bahwa Rasulullah Saw berbuka pada waktu berada dalam perjalanan dan menyuruh para sahabatnya berbuka. Saya tidak tahu bagaimana harus menafsirkan Ibu Saeni itu yang membuka rumah makannya untuk memberikan kesempatan kepada para musafir dan orang-orang yang tidak berpuasa tetap bisa makan pada waktu siang.

Dalam al-Qur'an setelah ayat-ayat tentang puasa, yang Allah Swt sebut setelah kewajiban puasa adalah hak orang untuk tidak berpuasa,

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍ  ؕ  فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ  ؕ  وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍ  ؕ .....

(yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.....
[QS. Al-Baqarah: Ayat 184]

Dan ayat ini diulang dua kali,

...وَمَنْ کَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ  ؕ  يُرِيْدُ اللّٰهُ بِکُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِکُمُ الْعُسْرَ  ۖ   ...

.... Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu..... [QS. Al-Baqarah: Ayat 185]

Artinya di situ Allah SWT memberikan penghormatan. Bukan kepada yang berpuasa, tapi kepada orang-orang yang tidak berpuasa supaya mereka diberi hak untuk bisa berbuka pada waktu siang hari, di situ ada orang tua dan orang sakit.

Saya amat mengapresiasi komentar Menteri Agama pada puasa tahun yang lalu bahwa kita harus menghormati orang yang tidak berpuasa. Menteri memiliki keberanian untuk tidak mengikuti political correctness dalam menyampaikan pendapatnya, meskipun waktu itu Komisi VIII DPR menyerangnya habis-habisan.

Terakhir, izinkan saya menceritakan sebuah hadis. Suatu saat Nabi Muhammad saw melihat ada seorang perempuan yang sedang duduk bersama perempuan yang lain. Lalu, Nabi panggil perempuan itu. Nabi sediakan makanan bagi dia. “Makanlah kamu,” kata Nabi. Tapi perempuan itu berkata, “saya puasa.” Nabi Muhammad saw berkata, “kaifa takuuniina shaaimatan wa sababti jaariatan, bagaimana kamu dihitung puasa lalu kamu maki-maki tetanggamu.”

Bagaimana kita mau menghormati orang berpuasa dengan merampas hak orang yang tidak berpuasa, merampas hak orang miskin untuk mencari nafkah pada bulan puasa. Jadi kesimpulannya berbeda dengan yang lainnya, saya tetap akan membuka warung saya di bulan puasa.

[Penjelasan KH Jalaluddin Rakhmat dalam rapat komisi 8 DPR RI. Ditranskrip oleh Amrullah Arafat, Ijabiyyun dari Makassar]


Sat, 26 May 2018 @21:29

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved