Minat beli buku klik covernya
image

Minat BUKU hubungi WA Misykat

AUDIO KAJIAN ISLAM

Instagram MisykatNet
image

.

Follow Twitter Misykat
image

Silahkan ikuti Twitter Misykat

YouTube Misykat TV
image

Subscribe Channel Misykat TV

TATA CARA SHALAT

PENGUNJUNG

Flag Counter

Pemelihara Anak Yatim masuk Surga

image

Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad

Guru selalu mempesona saya. Cara mereka menyampaikan materi pada anak-anak selalu menarik untuk dikaji. Ada perpaduan bertahun pengalaman personal dengan scanning cepat acak yang dilakukannya tentang muridnya. Lalu terjadilah ‘klik’, ikatan yang akan membantu dalam proses pelaksanaan pembelajaran setelahnya. Saya selalu ingin belajar dari guru-guru seperti itu.

Seperti satu saat, saya ikut menghadiri Kelas Pak Mulyadi, seorang di antara pengajar agama di SMA Plus Muthahhari. Saya duduk di pojok belakang. Lebih tepatnya, saya ikut mencuri dengar. Toh, beliau tahu saya hadir di kelas itu. Materi yang dikaji cukup berat. Studi kritis tentang Tarikh Rasulullah Saw. Dan Pak Mul memulainya dengan mencairkan suasana. Ia sudah siap. Sebagaimana guru-guru Muthahhari yang lain. Bila mereka sudah hadir dengan laptop, infocus dan seperangkat alat audio, itu artinya mereka sudah bersiap untuk kelas. Mereka sudah mempersiapkan yang terbaik untuk anak-anak mereka.

Slide pertama Pak Mul bertuliskan basmalah. Ia berkisah tentang keberkahan basmalah. Bahwa kalimat agung itu harus selalu dibaca sebelum segala sesuatu. Pekerjaan tidak akan tuntas tanpanya. Amal tidak akan sampai bila tak menyertakannya. Kemudian ia menambakan, “Amat baik bila setelah basmallah, kita bershalawat pada Rasulullah Saw. Untuk keberkahan seluruh niat kita itu.” Dan ia tampakkan slide kedua dengan shalawat pada Baginda.

Lalu muncullah slide ketiga, dan anak-anak tergelak tertawa. Slide itu menampilkan foto Pak Mul. Gagah, dengan perangkat berpetualang yang ia suka. Pak Mul seorang pembina pramuka juga. Ia senang bertualang. Yang menarik, ia menambahkan sedikit ilmu Bahasa Arab. “Lelaki,” katanya, “dalam Bahasa Arab disebut rajul. Karena ia berasal dari kata ‘rijl’ yang artinya kaki. Apa maknanya: seorang lelaki harus banyak berjalan ke sana ke mari. Berpetualang.” Anak-anak bertepuk tangan. Mereka menunggu, kalau perempuan bagaimana. Benar saja. Pak Mul melanjutkan, “Adapun perempuan, disebut mar’ah. Karena ia berasal dari kata ‘mir`ah’ yang artinya cermin. Apa maknanya: di mana ada cermin di situ pasti ada perempuan.” Anak-anak tertawa lagi. Dan Pak Mul tidak berhenti, “Di mana saja ada kesempatan, di jendela, di kaca mobil…di mana saja. Pasti perempuan akan bercermin.” 

Barulah setelah itu, ia masuk pada pembahasan yang cukup pelik. Tentang sebagian pendapat yang mengatakan bahwa ayahanda dan ibunda Baginda Nabi Saw masuk neraka karena tidak mengikuti syariah Islam. Atau bahwa pamanda Nabi Saw disiksa di neraka. Padahal mereka sangat mencintai, melindungi, memberikan segalanya untuk Rasulullah Saw. Sebagian Kaum Muslimin masih mengatakan Abu Thalib ra paman nabi itu, meninggal dunia dalam kekufuran.

Pak Mul tidak membahas dalil. Ia hanya bertanya, “Bagaimana menurut kalian perasaan Rasulullah Saw?” Lalu ia membuat analogi. Kalau ada orang bertanya kepadamu tentang di mana ayahmu, lalu kaujawab, “Ayahku di penjara…di rumah sakit jiwa…di tempat yang buruk…” Bagaimana perasaanmu? Bandingkan pula bila kita menjawab sebaliknya.

Materi yang disampaikan Pak Mul di kelas Tarikh itu mengajak murid-murid untuk bersikap kritis. Terutama menghindari sekiranya jatuh pada perbuatan menyakiti Rasulullah Saw. Karena menyakiti Baginda Nabi Saw sama dengan menyakiti Allah Ta’ala, dan diganjar dengan laknat di dunia dan akhirat. “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. Al-Ahzab [33]:57) Bagaimanakah bentuk menyakiti Rasulullah Saw kini?

Saya biasa menjawab keimanan pamanda Nabi Saw dengan hadits makruf, “Aku dan pemelihara anak yatim bagaikan dua jari di surga.” Baginda Nabi Saw dekat dengan setiap pemelihara anak yatim. Di antara doa yang dibaca di bulan suci adalah memohon agar didekatkan untuk mengasihi anak-anak yatim. Karena dekat dengan mereka, dekat dengan Rasulullah Saw. Dekat dengan Allah Swt. Tidak jarang, panti asuhan kebanjiran kunjungan di bulan Ramadhan. Sekolah-sekolah Muthahhari juga melakukan berbagai kunjungan itu di bulan suci, tetapi kami tambah dengan kunjungan lainnya. Sekolah Cerdas Muthahhari mengunjunginya di luar bulan suci. Kata pengelola Panti, di bulan suci ramai yang datang. Tapi di luar bulan suci, tidak selalu. Semua ingin berharap keberkahan kedekatan dengan mencintai anak yatim.
Bila memelihara anak yatim mendekatkan kita seperti dua jari dengan Baginda, bagaimana nasib ia yang memelihara Baginda Saw ketika beliau anak yatim juga? Semua pemelihara anak yatim masuk surga. Tapi Pamanda Nabi Saw yang memelihara Baginda ketika yatim justru masuk neraka?

Ya Allah, ampuni perbuatan kami yang menyakiti hati Baginda. Ampuni…ampuni.

@miftahrakhmat

Fri, 27 Aug 2021 @18:03

Copyright © 2021 Misykat · All Rights Reserved