CERAMAH DAN KAJIAN ISLAM

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Makna Assalamualaikum Wa Rahmatullahi wa Barakaatuh

image

Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad

As-Salaamu ’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu. Saya menulis salam dengan lengkap. Beberapa tahun lalu, ketika sms masih populer digunakan, saya terganggu dengan penulisan salam yang disingkat: Ass.wr.wb. Tiga huruf pertama itu bermakna kurang baik dalam bahasa tertentu. Sms yang hanya berisikan beberapa karakter sering membawa kita menyingkat beberapa kata agar tidak membayar ekstra Rp. 150. Jumlah yang tidak terlalu besar sebetulnya bagi seorang pengguna telepon genggam. Ia mampu membeli perangkat dan mengisi pulsanya, tapi tak mau kehilangan Rp. 150 itu.

Sejak dulu, saya jarang menyingkat pesan. Mengapa? Karena kata-kata adalah makanan jiwa. Sebagai bentuk penghormatan pada ia yang akan menerima pesan saya, saya berusaha menulisnya lengkap. Salam yang lengkap bila di sms bisa panjang. Maka saya muncul dengan salam yang baru: Salam wa rahmah. Semoga salam dan rahmat dicurahkan untuk saudara. Dan dengan cepat, ia menyebar. Sekarang banyak yang menggunakan salam wa rahmah untuk mengawali salam itu.

Seorang di antara orangtua murid Sekolah Cerdas Muthahhari pernah mengingatkan saya. Saya bergeming. Saya sampaikan padanya dalil, bahwa ucapan ‘Salam’ saja, punya dalil dalam Al-Qur’an. Banyak ayat yang mengucapkan salam hanya dengan ‘salam’ saja. Termasuk untuk para nabi, termasuk ucapan para malaikat mempersilakan penghuni surga. Bahkan, saya berseloroh, toh kita sering titip salam. Cukup dengan salam, bukan? Kita tidak akan berkata, saya titip assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh.

Tapi itu dulu. Sekarang, saya gamang. Saya rasa saya berubah. Saya harus mengakui kalau saya salah. Dan saya berutang terima kasih pada orangtua murid itu, teriring permohonan maaf saya.

Pertama, setiap kalimat dalam Islam punya makna teramat dalamnya. Ada filosofi luar biasa di balik setiap kalimat. Lihat kalimat syahadat yang sarat makna. Simak kalimat adzan yang indah luar biasa. Ya, memang ada perdebatan tentang ‘shalat lebih baik dari tidur’ yang katanya tak mengandung filosofi makna. Mungkin karena ia memang bukan bagian dari kalimat yang diturunkan pada Baginda Nabi Saw. Tapi selain dari itu, setiap kalimat dalam adzan punya kandungan makna teramat dalamnya.

Begitu pun menurut saya dengan kalimat salam. Ia punya filosofi tersendiri. Sebaiknya selalu kita baca dengan lengkap. Assalaamu merujuk pada nama Allah Swt “_Al-Salaam_.” Satu di antara asmaul husna, nama agung di ayat-ayat terakhir Surat Al-Hasyr. Maka ketika kita mengucapkan Assalaam, kita berharap agar Allah Ta’ala bersama saudara kita. Dalam salam ada ucapan “May God be with you.” Bukankah cukup? Benar, tetapi Allah Ta’ala menunjukkan pada kita kebahagiaan dalam kebersamaan. Kata kedua adalah “_wa rahmatullahi_” dan rahmat Allah. Siapakah dia? Baginda Nabi Saw. Beliau adalah rahmat Allah Ta’ala untuk alam semesta. _Rahmatan lil 'aalamin_. Dalam rahmatullah ada ucapan “May the Prophet be with  you.”

Salam dan rahmatullah, keduanya menggunakan bentuk mufrad, singular. Menarik ketika kata terakhir adalah “_wa barakaatuhu_” dan seluruh keberkahanNya. Ia menggunakan bentuk jamak: berkah-berkah. Bila As-Salam hanya satu: Allah Ta’ala yang Esa. Bila rahmatullahi hanya satu: Baginda Nabi yang suci Saw. Maka siapakah berkah-berkah Allah Ta’ala itu? Siapakah mereka yang kita harapkan: “May they be with you”? Mereka lebih dari satu. Barakaatuh menggunakan bentuk jamak.

Ya Allah, makin lama berusaha belajar dari banyak orang, makin kulihat keindahan itu. Maka kurindukan untuk mengenal mereka. Berkah Allah Ta’ala yang tercurah sepanjang zaman. Berkah Baginda Nabi Saw yang membimbing setiap insan. Berkah-berkah itu adalah ‘ibaadillahis shaalihin’, hamba-hamba Allah Ta’ala yang saleh, yang terpilih, yang dicintai dan dikasihiNya. Dalam setiap ucapan salam ada doa kita agar saudara kita senatiasa bersama Allah Ta’ala, Baginda Nabi Saw, dan para teladan kekasih hati pilihan Tuhan. Itulah mengapa kata Sayyidina Husain bin Ali ra, cucunda terkasih Rasulullah Saw: Dalam setiap salam ada 70 kebaikan. 69 bagi yang mengucapkan, dan 1 bagi yang menjawabnya. Inilah amalan sunnah yang lebih berpahala dari amalan wajib. Begitu saya sampaikan riwayat ini pada anak-anak Sekolah-sekolah Muthahhari, mereka berlomba berusaha mengucapkan salam lebih dahulu. Mereka dan kami semua ingin meneladani Baginda Nabi Saw. Baginda adalah orang yang tidak pernah didahului dalam mengucapkan salam.

Saya sudah mempopulerkan istilah ‘salam wa rahmah’. Saya bertanggungjawab untuk kejahilan saya itu. Seraya memohon ampun pada Allah Swt. Toh, sekarang sudah bukan era sms lagi. Pesan singkat itu tak perlu disingkat. Whatsapp, telegram, dan sebagainya memberikan ruang kata yang sangat luas.

Bulan suci adalah bulan menyebarkan salam. Selain menjaga kedamaian, inilah bulan kita doakan orang terkasih kita agar didekatkan dengan Allah Ta’ala, Baginda Nabi Saw, dan hamba-hamba terpilih sepanjang sejarah. Telepon orangtua, saudara atau tulis pesan singkat untuk mereka. Atau sapa mereka usai shalat bila telah tiada. Seraya menghadirkan wajah mereka dalam kenangan, doakan dan ucapkan kalimat penuh makna ini, dan bersyukurlah atas nikmat ajaran yang penuh kedamaian ini.

Semoga Allah Ta’ala, Rasulullah Saw, dan para teladan kekasih hati, senantiasa bersama saudara.

Wa al-Salaamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu.

@miftahrakhmat


Fri, 8 Jun 2018 @10:40

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved