Rubrik
Terbaru
MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Catatan Ustadz Miftah: Menghidupkan Malam

image

Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad


Saya selalu bingung setiap kali diminta mengisi majelis tengah malam di acara menghidupkan malam di Sekolah-sekolah Muthahhari. Apa pasal? Anak-anak sudah cukup lelah, berkegiatan sejak siang hari, lalu mendengarkan banyak materi… kemudian saya datang memberikan satu pula, jelang tengah malam itu. Sudah jadi rutinitas, saya makhluk yang keluar di tengah malam.

Untuk menyiasatinya, saya meminta mereka bermain. Bergerak fisik agar cukup mengusir kantuk. Terkadang, lumayan berhasil. Atau membincangkan materi yang menarik perhatian mereka.

Seperti tadi malam. Anak-anak SMA Plus Muthahhari bersiap untuk malam terakhir mereka di tahun ajaran ini. Jam menunjukkan pukul 10.45 malam. Sebagian merengut begitu saya duduk di kursi pembicara. Boleh jadi tanda kurang suka, atau serius menghadapinya. Saya memaknai, masih ada rasa segan dari kedekatan yang diupayakan. Saya sampaikan saya hanya akan bicara 30 menit. Saya awali dengan berkata: ini bulan berbagi. Bulan saling tolong menolong. Jadi, kalau ada anak yang memegang gawainya selama saya bicara, mohon Ibu dan Bapak guru yang hadir membantu memegangkannya lebih dulu. Manjur. Tak ada anak yang main hape. Lalu saya bicara tentang topik ‘mereka’: perasaan, tentang cinta, tentang pacaran. Saya berhasil. Perhatian mereka terfokus, dan sedikit demi sedikit pesan saya tersampaikan.

Begitu saya bertanya: yang setuju pacaran dibolehkan dalam Islam angkat tangan. Tak ada seorang pun. Dalam Ushul Fiqh ada _mafhum mukhalafah_. Kesimpulan sebaliknya. Saya bilang, ini belum tentu maknanya semua tidak setuju pacaran. Sekarang, yang tidak setuju pacaran silakan angkat tangan. Benar saja, tak seorang pun mengangkat tangan juga.

Apa maknanya? Nalar mereka mengatakan pacaran tidak baik, tetapi hati dan perasaan tidak dapat dipungkiri. Kata Doel Soembang: _cinta ditentang makin membentang, cinta diusik malah asyik_. Begitu bukan?

Jadi, bolehkah pacaran? Saya biarkan jawabannya menggantung bagi pembaca tulisan ini. Tapi tidak bagi anak-anak SMA Plus Muthahhari. Kami bahas cukup panjang dan lebar. Saya ceritakan tentang _blessing in disguise_ yang dimiliki oleh keluarga kecil mereka di sekolah. Di akhir acara, yang ternyata berlangsung hingga sejam lamanya, seorang murid bertanya: Bagaimana mengetahui kalau cinta kita pada seseorang selaras dengan cinta pada Tuhan? Dan inilah poin saya. _He just asked me the right question_. Right dalam pengertian tepat bukan benar. Pertanyaan yang saya tunggu.

Jawaban saya: dengan mendahulukan cinta Tuhan. Dengan melihat sejauh mana kita dahulukan perintah Tuhan dalam kecintaan itu. Bila kalian lebih banyak _chatting_ dibandingkan membaca Al-Quran? Hati-hati. Bila jam satu malam kalian balas pesan seseorang tetapi tidak membalas ‘pesan’ Tuhan? Hati-hati. Dan yang semisalnya.

Bergerak dari SMA Plus Muthahhari, saya menuju SMP Bahtera. Anak-anak juga menunggu saya, si makhluk tengah malam ini. Begitu saya duduk, wajah-wajah kelelahan itu sudah menanti. Ada yang memangku dagunya. Ada yang tiduran di bahu temannya. Hampir semua berwajah _emoticon_ dengan bibir ke bawah. Tak ada yang tersenyum.

Saya kembali harus memutar otak. Mengajak mereka main, mereka sudah kelelahan. Begitu saya tanya, ada berapa ceramah sebelum saya: tiga, jawab mereka. Ya sudah, kalau begitu, saya berbagi cerita saja. Saya kisahkan mereka tentang Bu Saeni, Jo Cox dan Rachel Corrie yang saya tulis sehari sebelumnya.

Saya ceritakan pada mereka bahwa orang baik sebenarnya banyak, tapi cenderung diam, _silent majority_. Dan bahwa orang yang gerusuk sana geruduk sini sebetulnya sedikit tapi suka berisik, _noisy minority_. Ini terlihat dari aksi setelah peristiwa Ibu Saeni. Begitu beritanya viral, ia mendapat sumbangan—katanya—hingga 170an juta. _Blessing in disguise_. Menunjukkan banyak orang peduli. Tiga hari setelah Jo Cox terbunuh, lalu diniatkan sebuah yayasan untuk mengenangnya, terkumpul dana (sementara) sebesar 800ribu poundsterling. Dukungan mengalir dari banyak pihak. Percayalah, orang baik itu masih sangat banyak. 

Yang menarik adalah pertanyaan seorang anak, anak saya. Ia mengangkat tangannya dan berkata, “Bagaimana dengan peristiwa di Orlando?” Ia merujuk pada pembunuhan klub gay di kota itu belum lama ini. Maksudnya, mengapa tidak beroleh simpati yang sama?

Pertanyaan yang berat sebenarnya. Dan ia punya poin yang saya luput melihatnya. Saya katakan, pembunuhan Jo Cox berlatarkan motif penentangan terhadap nasib orang kecil, berlatarkan kebencian terhadap para pengungsi dan kelompok minoritas. Sedangkan kasus Orlando, itu kriminalitas.

Di situlah saya keliru. Saya harus minta maaf dan berterima kasih pada anak saya. Saya baru menyadari dalam perjalanan pulang ke rumah. Maksud anak saya bukan itu.

Maksudnya adalah setiap pembunuhan tak dibenarkan. Setiap pembunuhan terhadap satu jiwa adalah pembunuhan terhadap manusia seluruhnya. Adakah ia dari kelompok mayoritas atau minoritas. Adakah ia dari mereka yang kontra atau pro LGBT. Jiwa harus dihargai. Jiwa harus dihormati. Dan saya gagal melihat itu.

Mengapa reaksi pada pembunuhan Jo Cox tak sama dengan reaksi pembantaian orang-orang gay di klub malam mereka? Adakah tersirat dalam batin orang-orang gay itu boleh saja dibunuh seperti itu? Anggap itu azab Tuhan bagi mereka di dunia?

Ya Allah, kalau bulan puasa tak bisa mengajarkanku untuk adil sejak dalam pikiran, bagaimana mungkin aku beroleh ketakwaan, padahal ia janji kebahagiaan dari ibadah bulan suci Ramadhan, _la’allakum tattaquun_. Begitu pula anak-anak, ketika mereka jatuh cinta…berlaku adil sering dikalahkan oleh rasa. Adilkah juga kita dalam memahami mereka?

_“Berbuat adillah, karena ia lebih dekat dengan takwa…”_ (QS. Al-Maa’idah: 8)

Ya Allah, melihat pada diri, betapa jauh dari keadilan itu. Bagaimana mungkin dekat dengan ketakwaan.

Ampuni…ampuni.

@miftahrakhmat

Wed, 22 Jun 2016 @15:23

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved