AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Menanggapi: Waspada Dengan Doa Versi Syiah Seputar Bulan Ramadhan

image

Berikut ini sebuah tanggapan atas seruan dari seseorang yang menyebarkan tulisan dengan judul WASPADA DOA-DOA VERSI SYIAH SEPUTAR BULAN RAMADHAN (doa hari ke-1 sampai hari ke-30 di bulan Ramadhan) yang disebar dalam media sosial.

(1) Benar bahwa Ramadan adalah bulan penuh berkah dan kesempatan buat kita memperoleh keutamaan di dalamnya dan darinya, bukan kesempatan menambah dosa dengan membuat-buat dan mencari-cari kesalahan orang dan menyebar luaskannya.

(2) Semua Muslim darimana dan apa pun latar belakangnya, melakukan "fastabiqul khairat", berlomba-lomba dalam kebaikan, khususnya di bulan ini. Termasuk diantaranya adalah dengan mengajak semua orang untuk senantiasa mengingat Allah dan memperkuat ikatan ruhani dengan Beliau SWT. Cara yg paling baik antara lain dengan selalu berdoa kepada-Nya. Seperti halnya mengaji sehari satu juz, berdoa setiap hari kepada-Nya di bulan ini insya Allah termasuk diantara memanfaatkan kesempatan baik seperti disebut di atas dan meningkatkan ketakwaan. Ya kita harus waspada, bukan terhadap sesama saudara Muslim lain yg mengajak kita mengingat Allah, tapi terhadap dorongan hawa nafsu dan egoisme kita. Puasa membantu kita menekan ego itu dan doa-doa memperkuatnya.

(3) Doa-doa baik dapat disampaikan oleh siapa saja sesama Muslim. Bahkan bila kita berdoa dengan cara kita sendiri pun dan doanya baik ia layak dibagikan dengan sesama saudara Muslim. Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita minta agar didoakan sesama kawan, oleh Ibu dan ortu kita dan siapa saja yg kita pandang baik. Karena itu mengherankan ada orang yg mempersoalkan sumber doa dan bukan mengarahkan perhatian lebih pada isi doa itu sendiri.

(4) Dalam doa harian yang katanya dari Syiah itu adakah yang keliru atau menyesatkan pada isinya? Bacalah doa harian itu dari awal hingga akhir, dari doa hari pertama hingga hari terakhir (29/30), adakah ajakan kepada orang agar menjauh dari Allah dan Rasul-Nya atau meninggalkan agama mulia ini? Lalu mengapa itu dianggap sebagai usaha "orang syiah untuk berdakwah dengan memaksakan doktrinnya sedikit demi sedikit hingga kita jauh dari Sunnah yang diajarkan nabi Muhammad"? Semoga Allah menjauhkan kita dari sikap berlebihan, ekstrim dan ghuluw dan menuduh yang bukan-bukan kepada sesama kaum Muslimin. Kalau penulis komentar itu menyatakan ini doa-doa Syiah, mengapa ia repot-repot mencarinya dalam kitab-kitab Sunni? Ada yg keliru dalam cara berpikirnya barangkali. Kalau memang itu dari sumber Syiah lalu apa masalahnya? Bukankah sejak 1400 tahun lalu Sunnah dan Syiah sudah ada dan Al-Azhar, Risalah Amman, dll, menyatakan Syiah diantara ajaran sah dan resmi umat Islam di dunia. Bukankah Wahabi/Salafi, yang mungkin mejadi latar belakang penulis komentar ini, juga termasuk sebagai penanda-tangan Risalah Amman tsb?

(5) Untuk informasi bagi sang penulis, seperti halnya Sunni, Syiah juga mengikuti Rasulullah SAW. Bedanya Sunni mengambil ajaran Rasul melalui para sahabatnya sementara Syiah mengambilnya melalui keluarga Rasul, Ahlul Bait, Al-Itrah. Karena itu dalam perjalanan sejarahnya pun terdapat perbedaan, meski ditemukan lebih banyak persamaannya.

(6) Sehubungan dengan hal di atas, bila anda tak menemukannya dalam kitab-kitab Sunni, ketahuilah bahwa doa-doa harian itu diajarkan Rasulullah SAW dan terdapat dalam khazanah Syiah, seperti yg anda curigai. Jadi bukan "syair-syair" karangan para "pendeta Syiah". Perhatikan hal berikut yang terdapat dalam Mafātih al-Jinān: 'dalam riwayat dari ibn Abbas, Rasulullah SAW menjelaskan tentang berbagai keutamaan puasa setiap hari selama bulan suci Ramadan, dengan mengajarkan doa untuk setiap harinya bersamaan dengan keutamaan dan pahalanya. Di sini kita membatasi diri untuk hanya menyebutkan teks dari doa-doa ini (tanpa menyertakan sanadnya - penulis).' lalu Syeikh Abbas Qummi memasukkan doa-doa harian ini (ke dalam bukunya - pen). Menurut Sayyid Quli Qarai yg baru-baru ini menuntaskan terjemahan Mafatīh, doa-doa harian ini diambil dari Zād al-Ma'ād, halaman 144-147.

(7) Luar biasa dan ajaib, sang penulis yg meluangkan waktu cukup banyak untuk mengetahui tentang Syeikh Abbas Qummi, pengumpul doa-doa dll yg dibukukan dalam Mafatihul Jinan ini, tidak terkesan dengan seluruh isi kitab lain yg bermanfaat besar ini. Buat yang ingin melihat edisi digitalnya, silakan klik alhassanain. Dari kitab itu, ia rupanya lebih tertarik mencari-cari kesalahan kecil yg bisa ia besar-besarkan (blow up) untuk kepentingan agendanya: menyebarkan dusta tentang “kesesatan Syiah”. Ia menemukan “Ayat Kursi” pada CATATAN KAKI dari kitab itu dalam bab Amal Hari Jumat. Catat: bukan pada kitab Mafatihul Jinan itu sendiri, tapi pada catatan kakinya. Sebagaimana diketahui secara umum, catatan kaki atau syarh tidak menjadi tanggung jawab penulis buku. Contoh: Imam Ali bin Abi Talib tidak bertanggung-jawab atas catatan kaki Ibnu Abil Hadid yg membuat Syarh Kitab beliau, Nahjul Balaghah. Betul, memang ditemukan pada catatan kaki Mafatih "Ayat Kursi" yg dikutipkan dan di-scan oleh sang penulis komentar. Namun sebelum kita buru-buru menuduh itu sebagai usaha Syiah "mengedit Al Quran", ada baiknya kita dan ia berpikiran jernih dan meminta penjelasan dari para ahli Syiah. Bukankah ini tradisi akademis dan keilmuan yg baik dan santun?

(8) Siapa pun boleh mengecek langsung dan berkesimpulan bahwa seperti halnya Ahlus Sunnah/Sunni, Syiah meyakini otentisitas Al-Quran karena Allah sudah menjaminnya: “inna nazzalna Al-Dzikra wainna lahu lahafizhun” (sungguh telah Kami turunkan Al-Dzikra/Quran dan Kami yang menjaganya). Karena itu mempercayai Quran mengalami perubahan (tahrif) akan menyebabkan seseorang keluar dari Islam. Sebuah konsekuensi sangat besar. Namun demikian, dalam hadis-hadis, baik di kalangan Sunni (riwayat dari Khalifah Umar dan Ummul Muminin Aisyah diantaranya) maupun Syiah ada riwayat2 lemah (dhaif) dan palsu (meski di Sunni riwayat dari Umar dan Aisyah tsb sempat masuk Sahih Bukhari atau Muslim). Namun hal itu tak berarti Sunni dan Syiah mempercayai tahrif.

(9) Sebelum kita menganggap itu Ayat Kursi versi Syiah, mohon catat ini dulu. Rasulullah SAW dan khususnya para Imam sejak Ali bin Abi Talib hingga Imam Mahdi, biasa memasukkan ayat-ayat Quran dalam doa-doa mereka. Contohnya lihat Munajat Imam Ali, Doa Sabah dan Doa Kumail dari Imam Ali. Beliau menyelipkan beberapa ayat Quran dalam doa-doa beliau. Karena itu, siapa tahu “Ayat Kursi” kutipan dari Al Majlisi itu pun dalam konteks doa di atas. Kalau tidak, ini penjelasan berikutnya.

(10) Merujuk pada butir (8), mungkin saja itu bagian dari hadis dhaif yg terbawa oleh penulis catatan kaki. Kalau memang begitu, sederhana saja. Kita abaikan saja karena bukankah kita bias menerima adanya hadis2 tahrif dalam Bukhari seperti saya sebutkan di atas dan kita tidak meyakininya.

(11) Bertentangan dengan tuduhan di atas, seperti halnya Sunni, Syiah pun mengambil Ayat Kursi dari QS Al Baqarah 255. Bahkan lebih lengkap lagi, Syiah memasukkan ayat 256 dan 257 sebagai bagian dari Ayat Kursi karena adanya relevansi pada kedua ayat terakhir tersebut.

(12) Akhirnya marilah kita mengajak penulis komentar tsb membuka diri, kalua tidak memperoleh hidayah seperti yang ia sampaikan, agar dapat melihat sesuatu dengan hati dan pikiran yang jernih. Semoga pula ia diberi kemudahan oleh Allah untuk mampu meninggalkan sikap eksklusifnya dan mulai melihat semua Muslim dan umat manusia sebagai saudaranya. Insya Allah dunia dan Islam terasa lebih indah.

Wassalam,
AM Soeherman
26 Juni 2016

Thu, 30 Jun 2016 @14:52

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved