Rubrik
Terbaru
RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Renungan Ramadhan: Ikhlas dan Ruhani

image

IKHLAS DAN KSATRIAAN RUHANI

Tindakan adalah pohon. Ia akan berbuah. Pohon tindakan menghasilkan buah tindakan, entah positif maupun negatif. Aksi-reaksi, sebab-akibat. Itulah karma dalam Hinduisme. Bagi para sufi, bertindak baik bukan untuk mendapat buah kebaikan, balasan, atau pahala. Sikap ruhani dalam bertindak adalah: melepaskan diri dari ikatan buah tindakan. Bertindak karena kebaikan itu sendiri, demi Kebenaran, lepas dari harapan akan buah tindakan. Selebihnya, serahkan pada tangan Allah. Mudah dikatakan, tak mudah dilakukan !
Ikhlas, demikian istilahnya. Ikhlas adalah inti ksatriaan ruhani. Ksatriaan ruhani mengggabungkan: tindakan dengan sikap tak mementingkan diri, tanpa motif duniawi atau tanpa dorongan amarah, serakah, dendam, nafsu berkuasa dan lain-lain. Karena itu, para pengambara ruhani selalu berjihad. Jihad terbesar adalah jihad batin, meluruskan kesempurnaan jiwa. Inilah tindakan batin tertinggi.
Melepaskan tindakan dari buah tindakan dapat kita temukan dalam doktrin Cina wu-wei: bertindak tanpa bertindak. Tindakan kita sehari-hari selalu terkait dengan rantai aksi-reaksi (karma). Hal ini disebabkan oleh kelekatan kita pada hasil tindakan, hilangnya semangat kontemplatif; mengidentikan diri dengan tindakan, bukan dengan wujud. Bertindak tanpa tindakan menuntut kita untuk “mati”. “Matilah sebelum engkau mati,” begitu kata Nabi Saw.
TINDAKAN, JIWA DAN HUKUM ILAHI
“Sungguh, tindakan-tindakan tergantung pada niatnya,” sabda Nabi SAW. Hadits ini menunjukkan, kualitas tindakan ditentukan oleh niat, yang lokusnya dalam jiwa. Keadaan jiwa menentukan tindakan, dan tindakan memengaruhi jiwa. Urutan tindakan kita: Kita mulai dari kesadaran, melalui kearifan (akal) dan bantuan wahyu membedakan baik-buruk, lalu menggunakan kehehendak bebas bertindak baik seraya sadar bahwa, tindakan kita memengaruhi jiwa kita.
Kita adalah makhluk yang mengetahui, menyintai, bertindak. Ada saling memengaruhi: wujud, pengetahuan, kecintaan dan tindakan kita. Wujud mendahului elemen lain. Meskipun demikian, hidup kita diisi oleh pengetahuan, kecintaan, dan tindakan yang disaksikan oleh kesadaran kita. Jiwa mengetahui, menyintai dan bertindak (melalui tubuh). Pengetahuan dan cinta memengaruhi tindakan, bahkan diekpresikan dengan tindakan. Jadi, modus mengada kita dipengaruhi oleh: pengetahuan, cinta, dan tindakan. Lalu, kesadaran kita pun ditentukan oleh pengetahuan, cinta, dan tindakan kita.
Memang, jalan menuju Allah melalui pengetahuan dan cinta, namun tindakan pun penting. Penting dalam konteks, ia memengaruhi jiwa. Tindakan bisa nyata, bisa juga tersembunyi. Mengenal Allah berarti menyintai-Nya, dan menyintai-Nya berarti menundukkan kehendak kita pada-Nya. Tidak tunduk, menyerah pun adalah tindakan. Ketundukan, penyerahan total (islam) melibatkan tindakan, yakni menahan diri dari tindakan buruk, apa yang memisahkan kita dari Allah, apa yang dibenci-Nya.
Manusia pasca hubut (kejatuhan), akal tak berfungsi sebagaimana Allah ciptakan pertamakali. Oleh sebab itu, tindakan benar adalah berkat pertolongan wahyu sekaligus iman pada wahyu itu. Akal tersembunyi. Akibatnya, kita sulit membedakan kebenaran dengan kepalsuan, keindahan dengan kejelekan, kebaikan dengan keburukan. Kita perlu manifestasi objektif akal ilahi/ Firman/Logos. Itulah wahyu, yang dimensi formalnya: ritual dan etika. Kehendak bebas, yang bisa menerima sekaligus menolak wahyu, diseru untuk mengikatkan diri pada teofani Suci ini.
Itulah al-iman. Iman mencipta dinamika: mengikuti perintah-Nya, dan menjauhi apa yang dipandang-Nya buruk, jahat. Iman melahirkan ihsan, kebajikan sebagai langkah menuju Allah.
Karena itu, para mistikus dari berbagai agama, termasuk Islam, berpegang pada etika dan ritus-ritus formal agama mereka. Semua sufi meengawali perjalanan melalui syariah, jalan tindakan, dan memegangnya meski perjalanan mereka telah jauh. Selama kita hidup di dunia bentuk-bentuk, tak terelakkan lagi, kita harus menggunakan bentuk untuk mencapai Yang Tak Berbentuk. Syariah, Hukum Ilahi adalah di antara bentuk-bentuk itu. Karena itu, Sufi “beneran” tak pernah meninggalkan hukum Ilahi.
Sekali lagi, tindakan bukan hanya meninggalkan bekas pada jiwa, tapi juga membentuk jiwa. Jalan menuju Allah dibentuk oleh tindakan, dan pintu gerbangnya adalah pengetahuan dan cinta.
Cilegon, 25 Ramadhan 1437 H.
Mohammad Subhi Ibrahim

Thu, 30 Jun 2016 @15:00

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved