Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

KEMBALI PADA TUHAN LEWAT DOA [Mohammad Subhi Ibahim]

image

Doa sebagai Substansi

Allah mencipta alam melalui kalam-Nya (QS. Yasin [36]: 82). Karena itu, kalam berfungsi: mencipta, dan menyampaikan kebenaran. Dunia diciptakan oleh kalam, wahyu disampaikan oleh Kalam (logos). Melalui kalam dan kemampuan bicara, manusia kembali kepada Tuhan. Kemampuan bicara digunakan untuk: menyatakan kebenaran dan mentransformasi manusia. Dalam sufisme, kemampuan bicara berfungsi untuk: menyampaikan kebenaran, dan berdoa. Yang pertama terkait dengan fungsi kalam Tuhan sebagai wahyu, yang kedua terkait dengan kekuatan mencipta dunia.

Substansi dunia yang paling mutlak adalah doa. Bahkan eksistensi itu sendiri adalah doa. Dunia diwujudkan oleh Nafas Sang Pengasih (Nafs al-Rahman), karenanya substansi yang paling mutlak adalah nafas, yang pada tingkat manusia terkait dengan kemampuan berbicara. Oleh sebab itu, teknik spiritual utama adalah doa yang melaluinya manusia kembali pada Tuhan.

Pada dasarnya, doa adalah mengingat (dzikr) Tuhan, menyebut nama suci, bangun dari kealpaan. Doa dalam arti ini mentransformasi orang menjadi doa itu sendiri, terlebur dalam dzikr yang jadi sifat aslinya, sekaligus menemukan jati dirinya. Inilah cara taqarrub illa Allah. “Ingatlah Aku, (pasti) Aku mengingatmu.” (QS. al-Baqarah [2]: 152). Dalam hadits qudsi disebutkan pula: “Ia yang menyebut nama-Ku dalam dirinya, akan Kusebut dalam diri-Ku. Dan ia yang menyebut nama-Ku dalam kelompok, akan Kusebut dalam kelompok yang lebih baik (surga). ”

Jenis-Jenis Doa

Doa adalah tindakan yang melampaui yang wadag, penyatu tubuh, jiwa, dan ruh. Ada tiga modus doa, yaitu doa individual (individual supplications), doa kanonik (canonical prayer), dan doa dari hati (the prayer of the heart).

Doa individual adalah perbincangan, permohonan orang beriman kepada Tuhan dalam hening sekaligus membuka hati mereka pada-Nya. Doa kanonik adalah doa yang bentuknya ditentukan oleh Yang Ilahi, contohnya shalat (al-shalah). Format shalat, gerak tubuh dan ucapan, ditentukan dari Langit.

Dalam shalat, ‘abid menyelaraskan jiwa dengan bentuk, dengan realitas yang melampaui individu. Individu mentransendensi diri, memadukan diri dengan realitas arketipalnya. Dalam doa kanonik, tubuh memiliki peran penting, yakni mengintegrasi jiwa. Gerakan-gerakan laksana kendaraan pemandu tubuh, jiwa, dan ruh. Di sini, tubuh bukan penjara jiwa, tapi pelengkap, kuda tunggangan jiwa dalam perjalanan ke Yang Ilahi. Tindakan ritual itu dipadukan dengan bacaan-bacaan al-Quran. Inti shalat adalah mi’raj, pendakian spiritual bagi orang beriman.

Doa dari hati, itulah dzikr, mengingat Allah (nimbutsu dari jodo-shin Budhisme, japa yoga dalam Hinduisme). Bentuknya: diawali penyebutan dengan lidah, lalu dengan pikiran, kemudian dengan fakultas imajinal, dan akhiri dengan hati. Tampak, pada mulanya, dzikr adalah doa oleh tubuh (diwakili lidah), yang pada akhirnya, tubuh menjadi proyeksi hati. Dalam tubuh, ruh berdiam secara aktif. Pada hakikatnya, dzikr adalah perbuatan Allah dalam diri karena hanya Ia yang dapat menyebut nama-Nya. Jadi, dzikr adalah instrumen Allah mengucap nama suci-Nya sendiri. Sebagai perbandingan, dzikr dalam doa kristus “jadilah kehendak-Mu” (thy will be done), dilakukan dengan memohon: tunduk total pada kehendak, pikiran Allah, menempatkan diri pada tangan Allah. Seruan nama itu bersemayam dalam hati mengubah jiwa, psike, imajinasi, pikiran dan tubuh. Akibat doa dari hati adalah perkawinan tindakan, cinta, dan pengetahuan, serta integrasi tubuh, jiwa, dan ruh.

Mengapa dzikr, doa dari hati, demikian penting, jadi pusat semua tradisi spiritual? Dalam tradisi spiritual, nama Tuhan memiliki peran penting dalam realisasi pengetahuan suci. Dalam perjalanan spiritual, manusia tidak harus tidak melalui wahana bentuk. Bentuk digunakan untuk menuju Yang Tak Berbentuk. Nama Tuhan adalah bentuk suci tertinggi (supreme sacred form). Sistem bunyi (mantra), kombinasi huruf dalam bentuk-bentuk visual merupakan penghasil bentuk, berisi kehadiran yang mentransformasi wujud manusia, memiliki kekuatan yang membawa manusia melampaui tatanan bentuk. Tuhan mengaruniahi perahu di tengah gelombang semua lautan bentuk dan yang menjadi.

Esensi yang tak berbentuk “menjadi” bentuk agar bentuk “menjadi” Esensi yang tak berbentuk. Pencapaian bentuk suci adalah pencapaian Yang Tak Berbentuk. Hidup selalu atas Nama Ilahi, berarti hidup atas nama Tuhan, melihat segala sesuatu di dalam-Nya. Karena itu, bentuk suci adalah wahana pendukung sekaligus tujuan. Ada penyatuan Nama dan Yang Dinamai. “Bentuk dari yang Tak Berbentuk” (form of the Formless) bukan hanya menuntun pada tempat yang melampaui bentuk-bentuk, tetap ia pun pada dirinya dalam ketidakterbatasan batinnya melampaui kini dan di sini. Di dalamnya gnostik, ‘arif billah menemukan tempat asalnya.
Wa Allah a’lam bi al-shawab.

Mohammad Subhi Ibrahim adalah Dosen Universitas Paramadina Jakarta

Referensi

Seyyed Hosein Nasr, Knowledge and Sacred, New York: State University of New York Press, 1989
___________, Ideals and Realities of Islam, Chicago: ABC International Group, 2000
__________, The Garden of Truth: : The Vision and Promise of Sufism Islam’s Mystical Tradition, New York: HarperCollins Publishers, 2007

Sun, 3 Jul 2016 @14:56

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved