Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Menjawab Tuduhan Palsu Atas Syiah (1)

image

Akhir-akhir ini di berbagai media sosial marak beredar berbagai tuduhan terhadap Syiah dari para hateryang pada umumnya berpijak pada karangan dan rekaan belaka. Publik yang menerima berbagai tuduhan dan fitnahan murahan pada umumnya juga tidak cukup punya waktu untuk melakukan cross check sendiri. Tak jarang pula mereka memang tak punya kemampuan untuk secara langsung mengecek ke sumber-sumber asli berbahasa asing yang seolah-olah dirujuk oleh para hater tersebut. 

Di antara ratusan tuduhan palsu atas Syiah adalah 17 Doktrin Syiah yang dalam beberapa pekan ini kembali beredar. Jawaban atas tiap tuduhan itu telah tersedia di banyak buku.

Apa yang tertulis di bawah ini sekadar untuk memperkaya perspektif ihwal mazhab Syiah. Mungkin saja jawaban-jawaban di bawah tidak memuaskan para hater, yang sejak lama berpegang pada prinsip: “Tuduhan atas Syiah benar dengan sendirinya meski jelas terbukti salah.” Syaikh Jawad Mughniyah pernah menyatakan: “Semua tuduhan harus berdasarkan pada bukti kecuali tuduhan orang atas Syiah.” 

Memang patut disayangkan ketidakadilan yang menimpa kaum Syiah ini, sehingga tuduhan palsu pun terpaksa harus ditanggapi—betapapun tuduhan-tuduhan itu sejatinya jauh dari fakta dan logika. 

Sebelum menjawab masing-masing tuduhan, ada baiknya kita beberkan pengetahuan umum berikut ini. 

Pertama, apakah kita sepakat bahwa Alquran dijamin dan dijaga Allah dari segala penambahan dan pengurangan? Dan kalau ada anggapan bahwa seseorang atau sekelompok orang menyatakan bahwa Syiah memiliki Alquran lain, apakah anggapan ini tidak justru menentang jaminan Allah tersebut? Bukankah Allah berkali-kali dalam Alquran menantang siapa saja untuk mendatangkan yang dapat menyerupai Alquran? Dan jika kita yakin dengan jaminan Allah, dan memang kita mesti dan wajib yakin, bukankah memunculkan keragu-raguan semacam ini adalah bagian dari waswas syaithanil khannas untuk melemahkan keyakinan kita terhadap keterjagaan Alquran dari segala kemungkinan dikurangi atau ditambahi apalagi disaingi sepenuhnya? 

Kedua, bukankah Sunnah Nabi yang Shahih adalah rujukan dan sumber hukum Islam setelah Alquran?! Saya tekankan sekali lagi: yang shahih! Jika memang demikian, apakah mungkin suatu hadis, betapapun kuat matan dan sanadnya, dapat dianggap shahih bila bertentangan dengan Alquran? Jika tidak, maka semua matan dan sanad hadis yang menyatakan ada Alquran lain selain yang dipegang dan dibaca oleh 1,7 milyar penduduk Muslim dunia ini wajib dianggap tidak shahih atau palsu (maudhu’). Lantas, bila ada hadis yang dianggap shahih bertentangan dengan ayat yang sharih, apa yang mesti dilakukan? 

Ketiga, apakah ada orang yang pernah membaca atau mendengar sendiri dari seorang Imam, ulama Syiah atau pengikut Syiah yang mengatakan bahwa seluruh hadis dalam Ushul Al-Kafi itu semuanya shahih? Apakah ada yang pernah membaca atau mendengar buku berjudul Shahih Al-Kafi? Jelas tidak. Bahkan, seluruh kaum Muslim di dunia sepakat bahwa selain nash Alquran, semua dapat dikritik dan diragukan keshahihannya. Al-Kulaini sendiri dalam pengantar Al-Kafi telah menegaskan prinsip yang telah disebutkan di poin kedua, yakni apa saja yang dianggap bertentangan dengan Kitab Allah haruslah dibuang dan dianggap maudhu’. Maka itu, aneh kalau lantas dia sendiri dianggap meyakini Alquran yang dia yakini harus dijadikan rujukan kemudian dituduh secara sewenang-wenang meyakini ada Alquran lain. Sayangnya, sebagian orang memang membaca Al-Kafi tanpa menghiraukan wanti-wanti Al-Kulaini di pengantar kitabnya. 

Keempat, Islam adalah agama yang dimulai dengan ucapan La Ilaha IllaLLAH Muhammad RasuluLLAH. Siapa saja yang telah mengucapkannya secara lahiriah berhak dianggap Muslim dengan hak-hak yang sempurna dan tidak boleh dibunuh. (Lihat Al-Jami’ Al-Shahih, Imam Muslim, cetakan edisi revisi, Dar Al-Fikr, Beirut, Juz 1 hal. 66). Tidak ada satu ayat Alquran maupun Hadis Shahih yang membolehkan atau memberi hak kepada siapa saja untuk menjadi hakim untuk menilai kekafiran Muslim yang lain. Bahkan, Islam dengan jelas menyatakan bahwa seseorang dihukumi berdasarkan lahiriahnya. Mau orang itu ber-taqiyah atau menyembunyikan apapun di dalam hatinya, selama dia masih menyatakan keesaan Allah dan bahwa Nabi adalah Rasul terakhir Allah, maka dia wajib dihukumi Muslim. 

Kelima, saat menyuruh kita berdakwah, Allah dengan tegas menyatakan bahwa hanya Dialah yang paling mengetahui siapa di antara makhluk yang paling mendapat petunjuk (QS.an-Nahl:125): Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. Maksudnya, pendakwah yang sudah dianggap berilmu pun tidak berhak mengklaim dirinya paling benar, apalagi orang biasa yang tidak berilmu.

Bahkan, dalam surah Saba’ ayat 24-25 Alquran menyebutkan adab Baginda Rasulullah dalam berdialog dengan orang musyrik: Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah”, dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. Katakanlah: “Kamu tidak akan ditanya (bertanggung jawab) tentang dosa yang kami perbuat dan kami tidak akan ditanya (pula) tentang apa yang kamu perbuat”

Ayat ini menegaskan bahwa seorang Nabi yang mendapat petunjuk Allah di saat menghadapi musuh harus menunjukkan sikap menerima kemungkinan salah, karena memang itulah tanda makhluk dan hamba di hadapan kesempurnaan Allah yang tidak terbatas. 

Keenam, pendapat yang harus diterima dari suatu mazhab adalah pendapat jumhur, bukan satu dua ulama, apalagi seorang pengikut awam. Oleh sebab itu, tuduhan adanya hadis-hadis yang dianggap sebagai tahrif dalam Al-Kafi telah dijelaskan panjang lebar oleh jumhur ulama Syiah. 

Ketujuh, tidak ada satu majelis ulama pun di dunia Islam atau lembaga keilmuan Islam yang diakui, yang secara resmi menyatakan Syiah sebagai sesat. Orang Syiah diperbolehkan haji dan negara Syiah seperti Iran masuk dalam anggota Organisasi Konferensi Islam. Kalo sebagian orang di Indonesia merasa lebih hebat dan lebih menguasai kitab-kitab Syiah melebihi ulama Al-Azhar, ulama Madinah, atau ulama negara-negara Islam lain dan menyatakan bahwa Syiah merupakan mazhab yang sesat, maka jelas sebagian orang Indonesia itu patut dianggap keluar dari jumhur dan patut dianggap sebagai syadz. Bahkan, mereka jelas keluar dari Ahlus Sunnah wal Jamaah yang menekankan pada jamaah dan pendapat jumhur. 

Kedelapan, tidak semua pendapat ulama Syiah benar dan sahih. Malah sebagian pendapat ulama Syiah telah disalahkan oleh ulama Syiah yang lain, sebagaimana yang terjadi dalam semua mazhab Islam lainnya. Karena pendapat ulama adalah ijtihad yang bisa salah dan bisa benar. 

Kesembilan, mengambil suatu pernyataan di luar konteks, apalagi dengan tujuan untuk mengaburkan pandangan utuh seseorang adalah perbuatan yang salah. 

(SUMBER: Ahlulbait Indonesia, 7 November 2015)

Sun, 7 Aug 2016 @09:44

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved