Rubrik
Terbaru
PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

WhatsApp: 0812-2391-4000

Fanpage: Komunitas Misykat

Twitter: Sekolah Islam Ilmiah

BERBAGI BUKU ISLAM

MISYKAT akan memberikan buku-buku ISLAM secara gratis. Silakan tulis nama, alamat lengkap, dan WhatsApp (aktif) pada KONTAK

BAHAN BACAAN

Azan dan Iqamah

image

Fukaha Syiah Imamiyah terdahulu seperti Ibnu Aqil dan Ibnu Junaid memandang azan dan iqamah wajib dikumandangkan. Sementara mayoritas para Marja Taklid dalam hukum-hukum azan dan iqamah berkata, “Hukumnya mustahab bagi pria dan wanita mengumandangkan azan dan iqamah sebelum shalat-shalat harian/wajib" (Taudhih al-Masâil Marâji’, jilid 1, halaman 518, Masalah 916).

Namun terkait dengan shalat-shalat wajib lainnya seperti shalat ayat maka mustahab (dianjurkan) menyebutkan al-shalat sebanyak tiga kali. Jadi, azan dan iqamah khusus untuk shalat wajib (yang lima) dan bukan untuk shalat mustahab.

Ayatullah Mahdawi Hadawi Tehrani, seorang Marja Taqlid, menyatakan bahwa azan dan iqamah hanya disebutkan pada shalat-shalat wajib harian (shalat Subuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya) dan dalam membayar qadha shalat-shalat wajib ini juga dibolehkan.

Menurut Tehrani bahwa azan hukumnya mustahab, tetapi terkait dengan iqamah sesuai dengan ihtiyâth, tidak boleh ditinggalkan. Dengan satu azan yang dikumandangkan beberapa shalat dapat dikerjakan. Sepanjang tidak tercipta jarak yang panjang di antara dua shalat, maka sesuai dengan ihtiyâth, azan tidak lagi diulangi. Untuk setiap shalat wajib harian, baik yang dikerjakan pada waktunya atau di luar waktunya (qadha) maka sesuai dengan ihtiyâth, iqamah tidak boleh ditinggalkan. 

(Abu Misykat)


 

Sat, 13 Aug 2016 @14:50

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved