MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Khadim Iftikhari [Miftah F. Rakhmat]

image

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad

Perasaan itu membuncah tatkala keberangkatan hampir dipastikan. Telah lama saya mendengar kabar itu. Bertahun-tahun sebelumnya. Ternyata, nama saya masih belum juga dituliskan. Barulah ketika jaring laba-laba kehidupan mempertautkan beragam peristiwa, mempertemukan berbagai kemungkinan…takdir itu menjemput juga.

Saya diberi kesempatan berangkat ke pusara Imam Ridha as, di Mashhad Iran. Imam Ridha as adalah Imam dari keturunan Rasulullah Saw. Hampir semua tarekat di dunia—kecuali beberapa—bersambung silsilahnya pada Imam Ridha as. Bila Islam menyebar di Indonesia melalui jalur para mursyid tarekat itu, maka kita berutang teramat besar pada Imam Ridha as sebagai guru semua tarekat itu. Dan sebagai kota ziarah, Mashhad menunjukkan pada dunia bagaimana keberkahan kehadiran seorang yang saleh mendatangkan manfaat bagi dunia, bahkan jauh setelah wafatnya.

Meski dipercaya, mungkin seseorang harus mengalami sendiri keberkahan tempat ziarah itu. Semisal yang sakit disembuhkan, yang buta melihat, yang lumpuh berjalan kaki dan sebagainya. Hal-hal itu—bagi mereka yang tidak yakin—harus selalu diverifikasi secara empiris. Harus mengalami dan meyakini, seeing is believing. Maka berangkatlah ke Mashhad. Pusara Imam Ridha as memutar roda perekonomian kota, bahkan negara. Dari donasi yang diberikan para peziarah berdiri beragam pusat kemaslahatan umat. Rumah sakit gratis, madrasah, universitas, pusat olahraga, pabrik roti, pabrik gula, kain, apa saja… keberkahannya terus dialirkan. Belum lagi, industri hotel, transportasi, kuliner yang dihasilkannya. Melihat itu saja seharusnya membuat orang percaya.

Berbekal itu semua, Mashhad ‘memberanikan’ diri mengumumkan pada dunia sebuah posisi prestisius. Tahun 2017 ia akan diumumkan UNESCO sebagai Ibu Kota Kebudayaan Islam Dunia. Mashhad dapat melakukan itu karena mereka menyimpan dan memelihara bekas-bekas peninggalan sejarah sejak dulu kala. Mengapa tidak Makkah dan Madinah? Benar keduanya tanah suci, tetapi selain area sekitar Masjid al-Haram dan Masjid al-Nabawi kita sulit melihat jejak-jejak sejarah lainnya di jazirah Arabia itu. Sebagian besar peninggalan sejarah bahkan sudah diratakan dengan tanah.

Di Mashhad ada Al-Qur’an tulisan tangan yang dinisbatkan pada Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. Di (sekitar) Mashhad ada makam ulama besar Imam Ghazali. Di Mashhad pula akan kita temukan keberkahan ziarah itu. Yang membuat Islam unik di antara keyakinan lainnya. Bayangkan, berziarah ke pusara dapat membangkitkan roda perekonomian teramat besarnya.

Tahun ini, saya beroleh kehormatan diundang dalam Konferensi dan Festival Internasional Imam Ridha as. Ini adalah tahun ke-14 acara yang sama digelar. Baru tujuh tahun terakhir ia bersifat internasional. Selama hampir sebulan dan diakhiri dalam sepuluh hari terakhir jelang peringatan Milad Imam Ridha as, perhelatan dan sukacita mengisi seantero negeri. Ada lomba puisi, baca cerita, seni, drama, pesta rakyat dan sebagainya. Tahun ke-14 ini diniatkan sebagai persembahan bagi 14 orang suci, yaitu Baginda Nabi Saw, Sayyidah Fathimah sa dan 12 pemimpin Kaum Muslimin (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, Ahmad).

Dari Indonesia, saya seorang. Meski saya bukan yang pertama. Sebelumnya para ustadz dan sesepuh sudah menghadiri acara ini. Berita saya jadi ‘heboh’ mungkin, karena (cakupan) sebaran sosial media yang luas itu. Saya berterima kasih pada semua keluarga, guru, saudara, asaatidz yang mengirimkan ucapan selamat. Saya tidak sempat menjawab mereka satu demi satu. Setiap apresiasi yang menghampiri saya, saya antarkan dengan sebaris doa. Semoga Allah Ta’ala mengantarkan pada mereka rangkaian kebaikan sebagaimana mereka telah menunjukkan ungkap kasih dan kebaikan pada saya.

Selain menghadiri Festival itu, saya ikut pula dalam sebuah Seminar Internasional yang mengambil tema: Dialog dan Rasionalitas dalam Kehidupan Imam Ridha as. Singkatnya, dunia sekarang ini dihadapkan pada kebutuhan akan diskusi, dialog dan mencari solusi bersama. Dialog akan memperkecil kemungkinan penyelesaian konflik dengan tindak kekerasan. Dialog akan mengantarkan dunia pada kemajuan peradaban. Dialog akan menutup tumbuh kembang paham yang mengarah pada radikalisme dan terorisme. Tetapi, dialog yang bagaimana? Yang menyertakan rasionalitas di dalamnya.

Imam Ridha as dikenal dalam sejarah berdialog dengan seluruh elemen masyarakat. Beliau bahkan dihadirkan di istana khalifah untuk dipermalukan. Untuk ditanya akan ilmu, akan sesuatu, agar beliau tidak bisa menjawabnya. Tetapi beliau sikapi itu semua dengan teladan yang sempurna. Bagi siapa saja yang menjadi warga dunia, dan berinteraksi dengan beragam kelompok yang berbeda, pada kehidupan Imam Ridha as ada pelajaran teramat berharganya. Beliau digelari _Gharibul Ghuraba_, Imam yang terasing karena dikebumikan jauh dari sanak saudara. Pada saat yang sama, Baginda Nabi Saw mengibaratkan keadaan akhir zaman sebagai zaman yang terasing. Islam mulai dalam keadaan gharib, dan akan kembali gharib lagi. Gharib artinya aneh, asing tak dipahami. Dalam situasi yang serba aneh ini, kita memerlukan teladan dari Imam yang gharib pula. Imam Ridha as di antaranya.

Makalah saya hanya menyoroti sisi lain. Yaitu modal berdiskusi yang baik. Dalam pengamatan saya, teladan Imam Ridha as bukan hanya pada konten diskusi. Tetapi juga pada latar belakang dari diskusi itu: niat yang tulus. Imam as berdiskusi tidak untuk mencari menang atau kalah. Tidak untuk mempermalukan lawan bicara. Tidak untuk memenuhi keinginan kepuasan diri yang bertabirkan tipis tirai kebenaran. Tidak, tidak. Imam as berdiskusi untuk menyampaikan kebenaran itu sendiri. Dan beliau sampaikan dengan cinta dan kasih yang tulus. Beliau tidak berdiskusi untuk menghakimi, tidak pula untuk memahami. Beliau berdiskusi untuk memahamkan, untuk membuka tertutupnya mata hati. Itu yang tidak kita lihat dalam diskusi-diskusi kita. Terutama di sosial media. Kita mungkin berinteraksi, tetapi tidak untuk membuka hati. Kita diskusi untuk kepuasan diri. Di situ ada selimut keakuan yang tipis bersembunyi.

Bagaimana cara menghilangkan keakuan itu? Berkhidmat. Merendahkan diri untuk ia yang patut ditinggikan. Karena itu, begitu saya dapat kesempatan berkhidmat, syukur ini tak terperi. Ini satu di antara banyak cara untuk menghilangkan keakuan. Sungguh, musuh terbesar perjalanan di alam keabadian adalah keakuan.

Banyak orang bertanya, atas dasar apa saya diundang sebagai khadim. Itu pula pertanyaan para wartawan yang mewawancarai. Saya jauh dari sepantasnya. Di Iran, orang mendaftar hingga puluhan tahun untuk dapat berbakti. Antrian pendaftar saja sudah sampai ratusan ribu. Menteri, anggota dewan, pengusaha, semua ingin punya kesempatan yang sama.

Saya tidak tahu atas dasar apa saya diundang tahun ini. Tentu para sesepuh yang berangkat sebelum saya pun diundang atas dasar pertimbangan tertentu. Saya mencoba menelusuri. Ada kemungkinan beberapa. Pertama, karena saya menulis makalah untuk Seminar Internasional itu. Kedua, karena saya menulis tentang Ziarah Imam Ridha as dan Sayyidah Ma’shumah sa dalam buku Kidung Angklung. Lalu ada yang ketiga dan yang keempat yang membuat saya berangkat.

Setiap kali ditanya saya selalu menjawab, “Saya berdiri di sini karena puluhan dan ratusan orang bersama saya. Mereka sangat ingin bisa berada di sini. Mereka sangat ingin berdiri di tempat saya sekarang ini.” Mereka itu adalah saudara semua. Setiap orang yang membaca tulisan saya. Setiap yang mengucapkan selamat untuk saya. Saudara yang memperingati Wiladah Imam Ridha as dengan meriah dan berharap keberkahan kecintaan keluarga Rasulullah Saw. Inilah faktor ketiga. Dan Saudara pula yang membuat saya berangkat beberapa kali untuk (membawa rombongan) berziarah. Ini kemungkinan keempat. Setiap berziarah, saya selalu sempatkan mampir di Kantor Hubungan Internasional. Itulah mengapa, barangkali, saya dituliskan untuk diundang tahun ini.

Di manakah saya bertugas? Apakah saya menjaga sepatu atau mengarahkan jamaah yang hadir. Tidak. Ternyata semua itu memerlukan konsentrasi tingkat tinggi. Kendali diri yang teramat terpelihara. Sebatas memegang sapu untuk membersihkan area pusara saja sudah memberikan saya kebahagiaan tak terhingga. Saya diberi tugas yang lain. Yaitu menyebarkan nilai-nilai ziarah, membantu memperkenalkan tradisi dan teladan Imam Ridha as untuk khalayak yang lebih luas. Mereka menyebutnya “Khadim Iftikhari”. Sebuah khadim honoris causa. Masih jauh dari berkhidmat yang sesungguhnya.

Perkhidmatan untuk Imam Ridha as itulah yang harus dikukuhkan di tanah air. Saya naik ke atas podium hanya untuk sebuah langkah awal. Kecintaan pada keluarga Nabi Saw selayaknya mengantarkan keberkahan tak terkira untuk sesama. Dini hari itu, usai berkhidmat seminggu lamanya, saya pulang ke tanah air. Tanggal menunjukkan tepat 17 Agustus 2016. Dirgahayu Bangsaku. Di atas pesawat, saya gumamkan Indonesia Raya. Satu-satunya warga Indonesia dalam perjalanan dari Teheran menuju Dubai. Di Dubai, saya terhenyak membaca berita tentang pameran tenaga kerja di Saudi Arabia. Beberapa orang saudara sebangsa dipajang sebagai tenaga kerja. Seperti pasar budak belian modern, mereka dijajakan untuk ditawarkan pada para majikan.

Ya Allah, perkhidmatan sesungguhnya adalah membebaskan keterikatan pada manusia. Menolong melepaskan mereka dari belenggu tirani, kemiskinan, dan penderitaan. Dan lakukanlah itu semua dan hadiahkan pada para teladan kekasih hati tercinta. Perkhidmatan pada Imam Ridha as mensyaratkan meneladani ajarannya. Satu di antaranya: “Barangsiapa bertemu muslim yang miskin lalu ia bersalaman dengannya berbeda seperti bersalaman dengan muslim yang kaya, maka ia akan bertemu dengan Allah Ta’ala di hari kiamat dalam keadaan dimurkaiNya.”

Berkhidmat bagi para teladan kekasih hati dimulai dari sikap diri dan kedalaman sanubari. Siapa saja mengamalkan pesan-pesan Imam as itu, merekalah para pelayan yang sesungguhnya.

Khadim yang sejati adalah jalan teramat panjangnya.

@miftahrakhmat


Tue, 23 Aug 2016 @19:44

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved